Oleh : Qomariah
Hari kesehatan nasional (HKN) 2023, mengusung tema “transformasi kesehatan untuk Indonesia maju” bahwa peringatan HKN ini, selayaknya memberi banyak refleksi dan evaluasi agar transformasi kesehatan tidak terdengar seperti slogan tanpa makna.
Karena tidak ada satupun di dunia ini orang yang ingin sakit, maka setiap negara pasti ingin rakyatnya hidup sehat dan pelayanan kesehatannya terjamin, sama halnya seperti yang di canangkan oleh PT Pertamina Bina Medika Indonesia Healthcare Corporation (IHC), holding rumah sakit (RS) BUMN menyiapkan langkah transformasi melalui pemanfaatan ekosistem digital untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
“Pemanfaatan ekosistem digital ini dapat meningkatkan inovasi bisnis dan daya saing di bidang kesehatan,” ujar Direktur Medis IHC dr Lia Gardenia Partakusuma berkaitan dengan momentum hari kesehatan nasional, dikutip jpnn, JAKARTA 12 November 2023.
Menurutnya, ekosistem digital sektor kesehatan mengacu pada jaringan teknologi, perangkat dan pemangku kepentingan yang saling terhubung dan bekerja sama untuk menyediakan layanan perawatan kesehatan yang komprehensif dan tanpa batas, juga tantangan yang dihadapi dalam digitalisasi layanan kesehatan, antara lain masalah interoperabilitas, masalah keamanan dan peraturan yang kompleks.
Dengan adanya slogan “Transformasi kesehatan untuk Indonesia maju,” mampukah tema kali ini membawa kesehatannya secara lebih maju dan berkualitas? Jangan sekedar narasi tanpa aksi saja, sebab masih banyak persoalan kesehatan yang belum tuntas hingga saat ini.
Kualitas dan kuantitas SDM Indonesia, merujuk pada standar WHO, yakni setiap 1.000 penduduk tersedia satu orang dokter, maka Indonesia membutuhkan setidaknya 275.000 dokter dengan asumsi jumlah penduduk saat ini sekitar 275 juta jiwa, menurut data kementerian kesehatan yang dihimpun badan pusat statistik (BPS) 2022, jumlah dokter di Indonesia mencapai 176. 110 orang, angka tersebut merupakan gabungan dari dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis.
Meskipun jumlah dokter meningkat 60%, hal itu belum mengubah fakta Indonesia masih kekurangan dokter, maka untuk menutupi kekurangan dokter, pemerintah meluncurkan program afirmasi pendidikan tinggi tenaga kesehatan (padinakes), dalam rangka pemerataan SDM kesehatan, yang masih jauh dari tersedianya kebutuhan tenaga kesehatan, belum lagi dihadapkan dengan distribusi dokter di Indonesia yang belum merata hingga menjangkau pelosok desa.
Harusnya transformasi kesehatan dimulai dari kualitas pelayanan kesehatan, seperti contoh dalam menilai layanan kesehatan hari ini adalah BPJS kesehatan, yang mewarnai carut-marutnya perjalanan BPJS kesehatan, sebagai lembaga yang mengomersialisasikan kesehatan seperti bisnis.
Juga transformasi kesehatan seharusnya mengarah kepada persoalan dasar kesehatan, yakni jaminan kesehatan negara kepada rakyat, seperti infrastruktur memadai, layanan kesehatan gratis, serta pemenuhan kebutuhan pokok, sehingga tidak ada masalah stunting, gizi buruk atau dampak negatif akibat ekonomi yang tidak sejahtera, kan malah disibukan pada persoalan cabang seperti ekosistem digital kesehatan.
BahwaJaminan dalam Islam, seperti : kesehatan, pendidikan, sandang, pangan, dan papan adalah kebutuhan dasar masyarakat, serta negara juga wajib memenuhinya tanpa kompensasi, sebab dalam Islam negara wajib memenuhi kebutuhan pokok, kesehatan rakyatnya, negara wajib menjamin kesehatan rakyat dan bertanggung jawab penuh terhadap jaminan seluruhnya untuk rakyat, kesehatan adalah kebutuhan dasar bagi rakyat oleh karenanya, layanan yang diberikan haruslah semaksimal mungkin, bahwa kewajiban negara sebagai raa’in (pengurus rakyat), negara juga wajib memberikan pelayanan, serta ketersediaan alat, sampai jadi yang memadai pada tenaga kesehatan.
Keutamaan prinsip pelayanan kesehatan dalam daulah Islam (khilafah), yaitu semua warga negara berhak mendapat layanan kesehatan yang memadai, juga semua pembiayaan di sektor ini bersumber dari pos-pos pendapatan negara, seperti : hasil hutan, barang tambang, harta Ganimah, jizyah, serta terkendalinya strategi mutu sistem kesehatan, yakni administrasi yang sederhana.
Menerapkan sistem kesehatan pada masa Rasulullah SAW, pernah menerapkan layanan kesehatan gratis ketika rombongan dari kabilah urainah masuk Islam, mereka lalu jatuh sakit di Madinah, Rasulullah SAW selaku kepala negara lalu meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola Baitul mal di dekat Quba, mereka diperbolehkan minum air susunya secara gratis sampai sembuh.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, juga telah menjamin kesehatan rakyatnya secara gratis, dengan cara mengirimkan dokter kepada rakyat yang sakit tanpa minta sedikitpun imbalan dari rakyatnya.
Wallahu a’lam bishawab.

