Oleh : Kak Ada
Benjamin Netanyahu secara eksplisit menolak kemungkinan tegaknya Khilafah Islam di kawasan Mediterania. Ia menyebut bahwa Israel tidak akan membiarkan kemunculan sistem tersebut dalam bentuk apa pun, (https://www.arrahmah.id /23/04/2025).
Pernyataan keras Benjamin Netanyahu yang menolak pendirian Khilafah di kawasan Mediterania bukan sekadar lontaran politis. Ia adalah cerminan dari ketakutan mendalam atas bangkitnya kesadaran umat Islam yang kian mengarah pada perubahan fundamental, yakni kembalinya peradaban Islam yang memimpin seluruh umat dunia.
Ketakutan itu bukan tanpa dasar. Sejarah menjadi saksi bahwa ketika umat Islam bersatu dalam satu entitas politik global, Khilafah tidak hanya menjadi penjaga akidah, tapi juga pelindung darah, kehormatan, dan tanah kaum Muslimin. Palestina pernah berada di bawah perlindungan Khilafah Utsmaniyah. Namun sejak runtuhnya sistem tersebut pada 1924, Palestina menjadi bulan-bulanan kolonialisme dan proyek imperialisme modern bernama Zionisme. Runtuhnya Khilafah bukan hanya kehilangan simbol, tetapi lepasnya pelindung riil atas tanah-tanah umat Islam, termasuk Al-Quds yang diberkahi.
Kegagalan Solusi Barat Kapitalisme dan Kemunafikan Global
Selama hampir satu abad, dunia Islam dijejali solusi-solusi Barat: mulai dari diplomasi PBB, perjanjian bilateral, hingga normalisasi dengan penjajah. Namun, alih-alih membawa perdamaian, semua itu menjadi jebakan ilusi. Kapitalisme sekuler yang menjadi pondasi sistem dunia hari ini telah menunjukkan wajah aslinya: rakus, menindas, dan tak berperikemanusiaan. Sistem ini menjadikan kekuasaan sebagai alat transaksi, dan menjadikan isu Palestina sebagai komoditas tawar-menawar politik.
Bahkan pemimpin dunia Islam sendiri, yang semestinya menjadi pelindung kaum Muslimin, justru terjebak dalam permainan geopolitik sekuler. Mereka lebih takut kehilangan kursi daripada kehilangan Masjid Al-Aqsha. Bukannya memobilisasi kekuatan militer untuk membela saudara mereka di Gaza, mereka justru berlindung di balik jargon ‘solusi dua negara’ yang nyata-nyata telah mati sejak lama.
Antara Dakwah, Jihad, dan Harapan pada Khilafah
Selama lebih dari tujuh dekade, dunia Islam telah dibanjiri dengan janji-janji kosong dari berbagai solusi diplomatik untuk membebaskan Palestina. Solusi dua negara yang diajukan oleh PBB sejak 1947 hanya menghasilkan kenyataan pahit: tanah Palestina terus tergerus, dan penjajahan Zionis semakin meluas. Setiap langkah diplomatik yang diambil, dari pertemuan PBB hingga normalisasi hubungan dengan penjajah melalui Abraham Accords, tidak pernah menyentuh akar permasalahan—yakni penjajahan itu sendiri.
Hasilnya? Tidak ada perubahan signifikan dalam keadaan Palestina. Alih-alih meraih kebebasan, rakyat Palestina semakin terjepit, dan tanah-tanah mereka semakin hilang satu per satu. ini adalah penderitaan yang dialami secara langsung oleh lebih dari dua juta warga Gaza, yang kini hidup di bawah blokade yang mengekang segala aspek kehidupan mereka.
Oleh karenanya. Di tengah keputusasaan diplomasi, umat mulai bangkit. Mereka menyerukan jihad, menolak normalisasi, dan menginginkan sebuah sistem yang mampu menyatukan mereka, membebaskan tanah-tanah yang dijajah, serta mengembalikan kehormatan Islam. Inilah sebabnya seruan Khilafah menjadi momok bagi musuh-musuh Islam. Karena Khilafah bukan sekadar utopia, tapi janji Allah dan bisyarah Rasulullah SAW: “Kemudian akan kembali Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah,” (HR. Ahmad).
Seruan ini bukan ilusi, bukan hanya retorika kosong seperti yang biasa diproduksi lembaga internasional. Ini adalah perjuangan ideologis, terstruktur, dan mengikuti metode dakwah yang diwariskan Nabi SAW—yakni membangun kesadaran, membina kekuatan ideologis umat, dan menantang sistem kufur secara terbuka.
Solusi Islam Kaffah: Mengembalikan Kepemimpinan Umat
Islam bukan hanya agama ritual. Ia adalah sistem hidup yang sempurna mengatur urusan individu, masyarakat, dan negara. Islam tidak menyerahkan nasib Palestina pada lobi politik Barat atau resolusi rapuh PBB. Islam memerintahkan jihad sebagai solusi riil pembebasan negeri yang dijajah. Dan jihad bukan bisa dilakukan oleh individu semata, tapi oleh institusi negara, yakni Khilafah.
Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan global. Ia memiliki otoritas untuk memutuskan perang, menyiapkan pasukan, dan membela umat Islam tanpa terikat kepentingan kapital. Inilah yang membuatnya begitu ditakuti—karena ia melampaui batas geografis, menyatukan lebih dari dua miliar Muslim di seluruh dunia dalam satu suara dan satu langkah.
Sejarah mencatat: ketika Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Al-Quds, ia tidak melakukannya dengan diplomasi, tapi dengan kekuatan negara Islam yang solid. Ketika Sultan Abdul Hamid II menolak tawaran emas dari Herzl demi tanah Palestina, itu karena ia dipandu akidah, bukan kepentingan ekonomi.
Kini, sejarah tengah menuntut umat Islam untuk kembali pada jati dirinya. Mengakhiri keterpecahan, menolak sistem kufur, dan menyambut sistem yang berasal dari langit, yakni Khilafah Islamiyah.
Kebangkitan umat tak bisa dibendung. Apa yang ditakuti musuh justru menjadi sinyal kemenangan bagi umat. Seruan jihad dan Khilafah bukan sekadar suara nyaring di tengah kerusakan dunia, tapi suara hati umat yang merindukan keadilan sejati. Saat dunia penuh darah dan pengkhianatan, hanya Islam kaffah—dalam naungan Khilafah—yang menjadi jawaban hakiki.
Umat tak boleh diam. Kesadaran harus dibarengi perjuangan. Sebab janji Allah itu nyata, dan pertolongan-Nya hanya akan datang bagi mereka yang bersungguh-sungguh menjemputnya. “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh,” (QS At-Taubah: 111). ***

