Oleh: Tasyati Nabilla (Aktivis Muslimah)
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, di mana hanya sekitar 7.000 pulau yang berpenghuni. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam beraneka ragam yang sangat melimpah ruah, potensi hutan, laut, sumber daya mineral dan juga energi. Indonesia juga dikenal sebagai penghasil berbagai jenis bahan tambang, seperti petroleum, timah, gas alam, nikel, tembaga, bauksit, batubara, emas perak, dan masih banyak lagi kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.
Dengan semua kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah ruah, namun mengapa saat ini rakyat Indonesia masih hidup dalam kondisi yang memprihatinkan? Banyak dari mereka yang harus hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Kapan indonesia bisa menjadi negara yang maju apalagi di tengah pandemi Covid-19 saat ini?
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, mengatakan bahwa untuk bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap), pertumbuhan ekonomi Indonesia harus bisa mencapai 6 persen pada 2022 mendatang. Bila itu bisa dicapai, ia yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045.
“Pemulihan ekonomi pasca Covid-19, kami berharap kalau kita bisa based pada 2022 dengan tingkat pertumbuhan 6 persen, maka trajectory (tren pertumbuhan ekonomi) yang panjang tadi (tanpa krisis) bisa kembali lagi pada 2029,” ujarnya dalam webinar CSIS dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia 2045 (cnnindonesia.com, 4/8/2021).
Lalu bagaimana upaya atau cara untuk mewujudkan impian dan harapan agar Indonesia bisa menjadi negara yang maju dan makmur? Sementara negara ini masih saja mengemban dan menerapkan sistem pemerintahan sekuler, sistem politik yang menghalalkan segala cara tanpa memperhatikan halal dan haramnya. Sistem ekonomi yang masih menerapkan ekonomi ribawi dan sistem sosial yang buruk hanya berasaskan pada manfaat serta sistem pendidikan yang jauh dari nilai kepribadian Islam. Belum lagi sistem hukum/peradilan yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah sehingga hanya memihak kepada para pemilik modal.
Jadi, solusi untuk mewujudkan harapan dan impian menjadikan Indonesia yang maju, negara baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dengan hijrah bersama dari sistem kufur kapitalis-sekulerisme menuju sistem Islam. Bukan hanya sekedar hijrah atau memperbaiki diri secara individu tetapi juga pada negara. Dan syarat utama ketika berhijrah ialah dengan niat karena Allah SWT semata. Sebagaimana firman-Nya:
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju”. (HR Bukhari dan Muslim).
Setelah itu, diikuti dengan perbuatan yang mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Lalu, bagaimana mengubah darul kufur menuju Darul Islam? Tak lain ialah dengan cara memperjuangkan Islam agar menjadi sistem dalam kehidupan. Sebab, jika Islam tegak (Khilafah), ia akan mengubah sistem pendidikan sekuler menjadi sistem pendidikan Islami. Menata ulang media massa agar sesuai dengan Islam baik dari segi sumber daya manusia, kelembagaan, substansi/materi.
Maka dari itu, mari bersama kita wujudkan Indonesia untuk meraih kemenangan yang hakiki dengan mengimplementasikan Islam di bawah naungan daulah Khilafah Islamiyyah.
Wallahu ‘alam bissawab.

