Oleh: Hj. Padliyati Siregar ST
Sejatinya Hari Raya Idul Adha adalah hari sukacita. Hari Raya Idul Qurban sejatinya adalah hari kegembiraan. Namun sayang, bagi sebagian umat Islam, sukacita itu masih terkubur oleh dukacita musibah Covid-19 yang kehilangan orang-orang yang dicintai dan kegembiraan masih tertutupi oleh kabut kesengsaraan. Perayaan Hari Raya Kurban mesih diselimuti oleh ragam penderitaan beban hidup yang semakin sulit.
Di tengah nestapa dan derita bangsa ini, juga dalam momen Idul Adha tahun ini, kita layak merenung sejenak. Mentafakuri pesan-pesan-pesan Nabi SAW saat Khutbah Wada’, sekitar 14 abad yang lewat, di hadapan sekitar 140 ribu jemaah haji. Beliau antara lain berkhutbah sebagai berikut:
Wahai manusia, sungguh darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian sama sucinya dengan sucinya hari ini, negeri ini dan bulan ini… Siapa saja yang memiliki amanah, tunaikanlah amanah itu kepada orang yang berhak menerimanya. Ingatlah, semua perkara Jahiliah sudah aku campakkan di bawah kedua telapak kakiku… Urusan (pertumpahan) darah Jahiliah juga sudah dihapus. Sungguh riba Jahiliah pun sudah dilenyapkan…
Wahai manusia… Sungguh aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian suatu perkara yang amat jelas. Jika kalian berpegang padanya, kalian tidak akan pernah tersesat selama-lamanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.
Wahai manusia… Sungguh setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain…
Wahai manusia, ingatlah, Tuhan kalian satu. Bapak kalian juga satu. Setiap kalian berasal dari Adam. Adam berasal dari tanah. Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian…
Ingatlah, hendaknya orang yang hadir dan menyaksikan menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir…
Demikianlah sebagian isi khutbah Baginda Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad.
Apa yang dipesankan oleh Rasulullah SAW memberikan gambaran kepada umat islam menyempurnakan ketaatan serta siap untuk berkorban; Meninggalkan seluruh orientasi individual dan materialistik menuju keinginan meraih rida Illahi Rabbi.
Semangat berqurban juga diajarkan kepada kita di momen Idul Adha ini. Karena sejatinya berqurban (tadhhiyah) merupakan ibadah yang sangat mulia. Merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah SWT: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS al-Kautsar: 2)
Dalam surah tersebut terkandung pesan pembuktian seorang yang beriman, yakni dengan berqurban. Ketika seseorang menyatakan beriman dan taat kepada Allah SWT, dia akan diminta menunjukkan pengorbanannya. Ini satu dari sekian keutamaan berqurban.
Bahkan berqurban merupakan bagian janji yang diucapkan setiap salat. Firman Allah SWT:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya salatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rab semesta alam.” (QS al-An’am: 162)
Hal ini sebagai bukti bentuk ketaatan pada Allah dengan baik dengan hati, lisan, dan amalan zahir. Serta pengorbanan dengan memberikan harta yang disenangi jiwa kepada Zat yang lebih dicintainya, yaitu Allah SWT.
Patut di pertanyakan bagaimana bisa negeri ini segera keluar dari segala krisis akibat wabah pandemi, jika bukan dengan kembali pada syariat-Nya?
Membuang dan menghindari syariat-Nya serta mencampakkan hingga memonsterisasi ajaran Islam (Khilafah), justru makin membuat negeri ini jauh dari pertolongan Allah SWT.
Sudah seharusnya momentum Idul adha menjadi refleksi bagi pemimpin negeri sebagai jalan mendapatkan solusi atas krisis akibat pandemi.
Butuh kesadaran yang kuat dari seluruh komponen bangsa untuk semakin menyempurnakan ketaatan pada seluruh aturan Sang Pengatur Allah SWT. Menguatkan tekad untuk berkorban dengan seluruh daya upaya demi tegaknya aturan Allah dalam kehidupan.
Wallahu a’lam bishowab.

