Oleh : Siti Nurjanah
Mahasiswa sedang bergejolak laksana air bah, mengapa bisa demikian? Beberapa waktu lalu ribuan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi menggelar aksi demonstrasi yang berjudul “Indonesia Gelap” di sejumlah daerah di Nusantara, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Palembang, Yogyakarta, Medan, Samarinda, Banjarmasin, dan lain-lain. Dilansir dari Jakarta, CNN Indonesia — Ribuan mahasiswa dari sejumlah universitas memadati kawasan Patung Kuda, Jakarta, untuk menggelar demonstrasi lanjutan dalam aksi yang bertajuk Indonesia Gelap, pada Kamis (20/2).
Aksi demo Indonesia Gelap yang dimotori oleh mahasiswa di berbagai daerah, mereka memberikan beberapa tuntutan kepada pemerintah terkait dengan kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Di antaranya mereka menolah revisi Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba) terkait konsesi tambang untuk perguruan tinggi, dan mendorong pengesahan UU Perampasan Aset.
Mahasiswa juga membawa poster-poster bertuliskan Efisiensi atau Nurutin Ambisi, Ndas mu!, Hentikan Pemangkasan Anggaran Pendidikan, Rakyat di Peras Anggaran di Pangkas, Indonesia Cemas, Oke Gas, Oke Gas, Mana Gas?, dan masih banyak lagi poster yang beraneka ragam tulisan mengkritik kebijakan rezim saat ini.
Jika dihitung baru 100 hari pemerintah baru berkuasa, namun kebijakannya luar biasa zalim. Masyarakat berturut-turut dikejutkan dengan kebijakan yang menyakitkan. Mulai dari rencana kenaikan PPN, kelangkaan LPG melon, problem MBG, putusan ringan kasus korupsi timah, ormas dan kampus tarik tambang, korupsi Pertamina, viral nya lagu Bayar Bayar Bayar, dan masih banyak lagi surprise yang membuat masyarakat terkaget-kaget.
Tuntutan mahasiswa menjadi wakil lidah masyarakat, namun sayangnya tuntutan yang ditawarkan sejatinya tidak menyelesaikan masalah hingga ke akarnya, bahkan ada yang menawarkan untuk kembali pada demokrasi kerakyatan. Padahal jika ditelisik akar permasalahan Indonesia Gelap adalah demokrasi itu sendiri karena berasaskan memisahkan agama dari kehidupan.
Solusi tambal sulam yang di sajikan dalam sistem demokrasi nyatanya tidak bisa menyelesaikan permasalahan di negeri ini. Bahkan kondisi negara makin buruk, korupsi makin merajalela, utang negara menggunung, kemiskinan bertambah banyak, kelaparan dimana-mana, penguasa represif, kesejahteraan makin sulit terwujud, kualitas generasi kian mencemaskan, institusi keluarga kian rapuh. Saking buruknya kondisi dalam negeri ini hingga seolah-olah tidak ada harapan lagi untuk perubahan, sampai muncul tagar #KaburAjaDulu yang banyak di iyakan oleh generasi muda.
Sejatinya mahasiswa dan masyarakat sudah merasa jengah dengan kebijakan yang oportunistik, berbagai persoalan yang mendera umat bukan hanya kedzaliman, tapi sudah termasuk kemungkaran, namun untuk keluar dari lingkaran labirin seolah-olah menemui jalan buntu. Untuk menemukan solusi yang hakiki belum tergambar didalam benak mereka, padahal secercah cahaya sudah di bawa oleh sekelompok umat, hanya saja mereka belum memahaminya.
Mahasiswa seharusnya sudah melek politik dan kritis, juga harus bisa memberikan solusi yang benar dan mampu menuntaskan permasalahan hingga ke akar-akarnya. Oleh karena itu, mahasiswa harus menjadi lokomotif perubahan di tengah umat, karena disetiap zaman perubahan itu pasti terjadi dan pemuda menjadi pelopor perubahan. Bahkan para nabi diangkat untuk menyampaikan risalah Islam terkategori masih muda. Mahasiswa seharusnya menjadi agen perubahan untuk mengemban risalah Islam dengan mengoreksi penguasa atas spirit amar makruf nahi Munkar dan menyuarakan solusi Islam, karena hanya dengan penerapan sistem Islam meniscayakan masa depan masyarakat gemilang bukan gelap atau suram.
Amar makruf nahi mungkar adalah aktivitas terpenting untuk mewujudkan perubahan, Allah SWT berfirman dalam Qur’an surah Al-Imron ayat 104 : “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Artinya di tengah gelapnya Indonesia saat ini adalah akibat dari penerapan sistem demokrasi kapitalis yang rusak. Maka dari itu mahasiswa hendaknya menerangi kegelapan tersebut dengan cahaya Islam/dakwah Islam kaffah karenanya bagian dari amar ma’ruf. Penerapan slam secara kaffah menjadi solusi satu-satunya bagi bangsa ini bahkan seluruh dunia.
Agar semakin faham seperti apa detail solusi Islam bagi problematika umat, maka mahasiswa perlu mengkaji pemahaman Islam lebih dalam, serius, dan kontinyu. Hal ini sekaligus mencegah ada nya ide non-Islam dalam gerakan mahasiswa, seperti komunisme, marxisme, leninisme, dan ide-ide lain yang bertentangan dengan ide Islam. Pemahaman Islam ideologis yang kuat akan menjaga mahasiswa untuk tetap berada di jalur yang sudah ditentukan syara’. Wallahu’alam.

