Oleh: Rizkika Fitriani
HUT ke-76 RI mengusung tema ”Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh”. Ada pesan optimisme di balik tema tersebut. “Indonesia Tangguh menghadapi berbagai krisis yang selama ini menempa,” kata Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono lewat pesan singkat, Kamis (17/6/2021). Seperti diketahui, berbagai krisis telah menimpa Indonesia mulai dari krisis 1998 hingga pandemi COVID-19. Namun Indonesia harus tetap tumbuh dan bangkit.
“Dengan ketangguhan dan berbagai upaya yang dilakukan di masa pandemi maka Indonesia akan tumbuh,” ujar Heru, (detikNews, 17/6/2021).
Tepatnya di tanggal 17 Agustus, tak sedikit masyarakat ikut serta memasang logo merah putih di sosial media, hingga kata demi kata teruntai sebagi partisipasi memeriahkan hari yang mereka sebut sebagai hari kemerdekaan. Dalam hal ini, seakan masyarakat ikut merasa bangga dan merasa puas dengan kemerdekaan yang diraih negeri yang dihuni. Entahlah, bagaimana mereka memaknai kata merdeka yang sebenarnya. Faktanya, merdeka hanyalah sebuah kata dan tak menjadi nyata sampai saat ini. Lihatlah seberapa keras aturan negara, seberapa banyak masyarakat yang sengsara? Seberapa banyak orang terlantar? Seberapa banyak yang susah mencari pekerjaan? Dan seberapa besar biaya untuk ke jenjang pendidikan? Sungguh, tak mampu kita hitung satu persatu.
Sudahkah kita hidup sejahtera? Sudahkah keadilan bisa kita rasakan? Semua belum kita rasakan, seakan menjadi bukti negeri kita saat ini belum lah merasakan kemerdekaan hakiki. Memang faktanya tidak secara langsung negeri kita terjajah seperti dahulu kala sebelum tahun 1945. Namun faktanya, kemerdekaan tak cukup dengan terbebasnya penjajahan dari negara lain yang ingin berkuasa, tapi juga mampu terbebas dari semua orang yang berkuasa. SDA saja masih di bawah kekuasaan asing, negeri dijadikan boneka oleh negara lain, bahkan kebijakan silih berganti semakin menyengsarakan masyarakat, apakah ini bukan dinamakan terjajah?
Sungguh miris negeri ini, tulisan ini bukan untuk menjatuhkanmu, tapi sebagai bentuk rasa kasih sayang dan cintaku. Siapa yang tega ketika melihat negerinya diambang kehancuran!. Negeri butuh perubahan, dunia butuh perubahan. Kemerdekaan hakiki harus mampu Isa dirasakan, dimulai dari kesadaran masing-masing umat untuk mengemban apa yang sudah menjadi perintah-Nya.
Ucapan dan peringatan hari kemerdekaan saja tidak cukup untuk dijadikan sebagai wujud peran, tapi peran yang sebenarnya yaitu dengan memberikan solusi hakiki, dan membawa perubahan ke arah lebih baik lagi. Sudah seharusnya kita sadar bahwa sistem yang di terapkan saat ini gagal membuktikan kemerdekaan, bahkan rakyat tak luput dari penjajah para penguasa yang saat ini memeras rakyat.
Sudah selayaknya kita membuktikan tanda cinta kepada kehidupan masyarakat dengan dakwah, menyadarkan masyarakat tentang yang solusi yang sebenarnya, yakni khilafah ‘ala minhajjin nubuwah. Hanya aturan dari sang khaliq yang mampu mambawa kesejahteraan, hingga perubahan bisa kita rasakan. Islam mengatur kehidupan secara rinci, dari bangun tidur hingga bangun negara. Tidak layak seorang muslim hanya mengambil aturan islam ketika rutinitas di dalam masjid saja, namun berpaling ketika dalam urusan negara, seakan tidak mempercayakan bahwa Allah maha tau segalanya, naudzubillah.
Ketika sadar akan kerusakan negeri saat ini, tidak ada solusi lain yang mampu menjamin mengatur kehidupan yang lebih terarah. Islam akan mampu membawa kedamaian, masyarakat hidup rukun serta bahagia. Sebagaimana kehidupan pada masa khilafah terdahulu bisa dijadikan cerminan, buah dari penerapan hukum-Nya.
Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Al-Quran-Nya, yaitu QS. Al-Bararah [2]: 208:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”
Dari ayat di atas, menegaskan bahwa mengikut aturan Allah sepenuhnya adalah kewajiban. Semoga kemerdekaan hakiki bisa segera kita rasakan, aamiin Allahuma Aamiin. ***

