Oleh: Sri Dewi, SEI ME
Viral Gelaran Lomba Melamun di Indonesia, Penyelenggara: Terinspirasi dari Kompetisi Serupa di Korea. Siapa sangka, melamun untuk pertama kali di Indonesia bakal dijadikan lomba di awal Maret ini di Solo, Jawa Tengah. Lembaga kursus bahasa Jinju Academy yang punya ide membuat Lomba Melamun untuk pertama kalinya di Indonesia. (Liputan6.com, Jakarta. 25/02/23). Lomba melamun akan digelar di Kota Solo, 5 Maret mendatang. Pihak panitia mengklaim gelaran ini akan menjadi lomba melamun pertama kali di Indonesia, (detikjateng 24/2/2023).
Tidak hanya di Solo di Kota Tasikmalaya puluhan warga beramai-ramai melamun di pelataran pelataran gedung Creative Center (GCC) komplek Dadaha, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Selama satu jam, mereka duduk dan termenung. Puluhan warga bak patung. Aksi mereka ini dilakukan dalam rangka mengikuti lomba melamun yang digelar oleh Tasik Creative & Innovation Committee (TCIC) pada Senin (27/2/2023). Para peserta melamun sambil mengenakan kostum yang beragam dan tergolong unik dan nyeleneh. Ada yang mengenakan kostum badut, memakai jas hujan, membawa handuk dan gayung hingga mengenakan kostum etnik Sunda. Selama satu jam mereka duduk termenung di pelataran GCC. (detiknews, 27/02/23).
Lomba melamun ini diinisiasi oleh Jinju Academy, yang terinspirasi dari Korea Selatan. Menurutnya, tujuan diadakan lomba tersebut untuk mengatur ulang pikiran dan mengurangi stress sehingga harapannya jadi lebih produktif. Awal dibuatnya lomba ini di Korea diketahui sebagai gerakan penolakan terhadap masyarakat Korea Selatan yang serba cepat dan penuh tekanan. Pencipta Space Out Competition, Woopsyang, mengatakan bahwa dunia yang dilanda pandemi membutuhkan waktu rehat lebih dari yang sebelumnya.
Woopsyang menjelaskan kepada Washington Post (20/05/21): Kami memiliki banyak waktu rehat di rumah kami, tetapi kami menghabiskan waktu itu untuk stres karena virus corona dan merasa cemas. Sejalan dengan tujuan awal lomba ini dibuat, salah satu peserta Space Out Competition, Lee Ji-won mengaku bahwa alasan dia mengikuti lomba ini adalah untuk rehat sejenak. Menurutnya, walau dia memiliki waktu luang banyak karena pandemi COVID-19, tetapi dia tertekan untuk menghabiskan waktu itu secara efektif. Dengan mengikuti lomba ini, dia akhirnya bisa benar-benar beristirahat sejenak.
Miris melamun atau bengong sering dianggap kegiatan yang membuang waktu. Namun ternyata dijadikan sebagai ajang perlombaan. Hidup dalam sistem kapitalis membuat karya seni kreatif yang tidak beguna membuang waktu saja dan tidak menghasilkan karya yang mencerdaskan rakyatnya. Hidup dalam sistem Kapitalis sekuler menimbulkan tekanan disana sini. Kesulitan hidup mulai dari tekanan ekonomi yang sempit, biaya pendidikan dan kesehatan mahal, kebutuhan hidup yang sulit dipenuhi, lapangan pekerjaan yang sedikit. Tekanan inilah yang mengakibatkan rakyat stress dan depresi.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Selain itu berdasarkan Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan Badan Litbangkes tahun 2016, diperoleh data bunuh diri pertahun sebanyak 1.800 orang atau setiap hari ada 5 orang melakukan bunuh diri, serta 47,7% korban bunuh diri adalah pada usia 10-39 tahun yang merupakan usia anak remaja dan usia produktif. Kapitalisme telah menjerat rakyat dari berbagai sisi sehingga tingkat stres terus meningkat di negeri ini.
Stress diakibatkan lemahnya keyakinan (Aqidah) kepada takdir yang sudah Allah Swt tentukan. Tuntunan keimanan ini harus dibentuk dengan banyak mengkaji Islam sehingga terbentuk kekuatan keimanan yang tiada taranya. Dalam sistem kapitalisme ini sulit menghasilkan orang-orang yang punya himmah atau cita-cita yang tinggi. Kelemahan berpikir mempengaruhi hidup tidak produktif, dan tidak punya karya serta mimpi yang luar biasa. Islam selalu memberikan inspirasi yang telah diperoleh para sahabat Nabi Saw. Mimpi besar untuk menaklukkan berbagai negeri sehingga bisa menjadi bagian dari Islam yang juga mampu menerapkan Syariat Islam. Melamun hanya menghabiskan waktu, setiap lamunan yang tidak berusaha diwujudkan sia-sia belaka.
Kita tahu sosok Muhammad al Fatih yang tidak asing lagi di semua kalangan. Sosok Muhammad al Fatih pemuda yang hidupnya memiliki impian besar untuk menaklukkan Konstantinovel di hadapan matanya. Saat beliau memiliki Impian besar ini, saat itu ia berusaha lebih hebat daripada biasanya, karena ia tahu untuk menjadi sebaik-baik pemimpin dan memiliki sebaik-baik pasukan yang diperlukan bukan hanya mimpi, tapi juga keyakinan yang kuat, tekad yang tdak pernah rapuh, dan usaha yang tak kenal kata berhenti.
Atas izin Allah, impian telah terpenuhi, menjadi jawaban atas hadits Nabi, panglima terbaik yang mencatatkan tinta emas di sepanjang sejarah umat manusia. Muhammad al Fatih mampu sukses dan berhasil karena bimbingan dari kakeknya yang memberikan inspirasi dan mampu mendidik Muhammad al Fatih dengan kepribadian Islam yang luar biasa. Maka sangat dibutuhkan sistem pendidikan yang mampu mengahasilkan generasi yang beraqidah Islam yang kuat dan berkepribadian Islam yang sehat. Sistem pendidikan Islam ini hanya bisa diwujudkan dalam system Islam dengan kepemimpinan seorang Khalifah yang menerapkan Syariah Kafah.|
Maka dari itu, kesuksesan tidak cukup hanya dengan bermodalkan mimpi besar apalagi hanya sebuah lamunan yang menghabiskan waktu. Tapi untuk mewujudkan mimpi butuh ilmu untuk mencapainya dan kesungguhan untuk mewujudkanya. Semoga tetap kuat, sampai mimpi-mimpi itu terwujud. Mimpi besar kita bersama adalah diterapkan Syariah Kaffah dalam Naungan Khilafah. Dunia butuh orang-orang yang punya mimpi besar ini. ***

