Oleh : Sutiani A.Md (Aktivis Dakwah Muslimah)
Lagi dan lagi, kenaikan harga kebutuhan pokok selalu saja terjadi. Bak mimpi buruk yang selalu menghantui masyarakat di seluruh negeri. Lantas, ke mana lagi masyarakat harus mencari solusi hakiki?
Tingginya harga minyak goreng saat ini menjadi salah satu yang diperhatikan oleh Dinas Perdagangan Pemko Medan sehingga diadakan operasi pasar murah di pasar Marelan yang bekerja sama pada PT. Musimas dengan harga Rp14.000/ liter dan maksimal setiap orang mendapatkan jatah 2 liter minyak goreng. (waspada.co.id, 10/01/2022).
Sudah jatuh tertimpa tangga lagi, hidup semakin sulit. Belum usai wabah pandemi Covid-19, kini masyarakat harus pusing dengan bahan pokok seperti harga minyak goreng yang semakin menjulang tinggi. Bagaimana tidak, tindakan kriminalitas di negeri ini sekejap mata timbul demi memenuhi kebutuhan pangannya?
Sebelumnya lonjakan harga minyak goreng disebabkan adanya natal dan tahun baru. Namun, natal dan tahun baru telah usai, harga minyak goreng pun tak kunjung menurun. Minyak goreng berasal dari tanaman kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang sangat cocok di iklim tropis sehingga ditanami kelapa sawit dan Indonesia termasuk penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Aneh rasanya di negeri yang kaya akan sumber daya alam bahan utama produksi berasal dari negeri sendiri, namun harganya setinggi langit.
Melansir dari situs Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Tiap tahunnya hasil produksi minyak sawit serta inti sawit bisa mencapai puluhan juta ton, (kompas.com, 30/08/2021).
Turunan dari kelapa sawit banyak sekali kita jumpai di dalam kehidupan sehari-hari tentunya tak asing bagi kita selain minyak goreng yang dihasilkan masih ada beberapa seperti: industri kosmetik, sabun, coklat, mentega dan biodiesel. Harusnya, permintaan pasar dunia yang pesat menjadikan pengolahan kelapa sawit memiliki nilai jual yang tinggi.
Operasi pasar murah yang dilakukan Pemko Medan bukanlah solusi yang hakiki karena mempunyai batas waktu tertentu sehingga tidak menjamin kestabilan harga minyak goreng ke depannya. Negara hari ini hanya fokus pada proses produksi yang sebanyak banyaknya namun abai terhadap distribusi barang, apakah harga yang ditentukan layak pada ekonomi rata-rata umumnya di Indonesia yang otomatis nantinya dapat diterima ditangan konsumen tanpa adanya keluhan harga barang tersebut.
Ketika sistem kapitalisme yang masih bertahan saat ini, tentu sama sekali tidak menjamin berbagai bahan pokok demi berlangsungnya kehidupan rakyat. Setiap kebijakan dan penentu harga bahan pangan berlandaskan materialisme yaitu bagaimana caranya untuk mendapatkan keuntungan walaupun merugikan masyarakat. Padahal negara seharusnya bertanggung jawab atas kebutuhan pangan seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW:
“Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari).
Pangan termasuk pemenuhan yang sangat penting yang wajib dipenuhi oleh negara. Maka, hanya sistem Islam adalah satu-satunya solusi tepat untuk meriayah umat yaitu mengurusi kehidupan masyarakat dengan baik dikarenakan pemimpin mempunyai amanah berat yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Kepemimpinan dalam Islam harus berlandaskan akidah yang kokoh tentunya. Setiap kebijakan yang diputuskan atas dasar aturan Allah SWT yang tujuannya hanya untuk menggapai ridha-Nya.
“Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala, dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Bukhari).
Wallahualam bissawab.

