Oleh : Mesi Awaliyah
Dalam kurun waktu singkat ini, banyak hal yang terjadi menggemparkan dunia pendidikan Indonesia sekaligus membuat prihatin banyak jiwa manusia dengan kondisi pendidikan yang ada. Termasuk di Sumatra Selatan Universitas Sriwijaya 25 Oktober 2024 heboh seorang petinggi organiasi mahasiswa BEM Unsri melakukan pelecehan. Hal itu diketahui dari viralnya pengakuan korban di medsos dikutip dari detiksumbagsel.
Tentu ini bukanlah kasus pertama kalinya seorang akademisi yang harusnya menjadi contoh, panutan masyarakat justru mencoreng citra buruk pendidikan Indonesia. Gorontalo pun berduka dengan kemarin viralnya video aksi kejahatan seksual seorang guru dan murid, yang ternyata telah menjalin kasih sejak September 2022, banyak netizen yang menyangkan ternyata pelaku siswi ini adalah ketua osis, dan memiliki banyak prestasi dikutip dari Kompas.tv. Namun harus viral dengan kasus yang memalukan citra dirinya dan citra dunia pendidikan tempat dimana guru yang seharusnya menjadi sosok teladan digugu dan ditiru dan siswa yang seharusnya menjadi kaum intelektual penerus generasi bangsa justru mencerminkan dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja, justru darurat kekerasan seksual.
Tak hanya itu sistem sekarang membuat dunia pendidikan terasa mengerikan bagi guru untuk menjalankan tugasnya mendidik anak bangsa. Seperti berita yang sempat viral dari Sulawesi Tenggara kabupaten Konawe Selatan seorang guru honorer, Supriani dilaporkan orang tua murid yang merupakan anggota kepolisian dengan tuduhan penganiayaan pada April 2024 dikutip dari liputan6.com. Terdapat juga kasus serupa di Sumsel kisah guru pendidikan agama islam (PAI) Akbar Sarosa dilaporkan orang tua murid ke polisi dan dituntut Rp. 50 Juta gara-gara memberikan hukuman kepada muridnya yang tak sholat. Padahal mengingatkan orang lain untuk sholat adalah sebuah tanda cinta tertinggi namun ternyata harus berujung tragis. Kriminalisasi terhadap guru ini merupakan malapetaka peradaban karena adab merupakan kunci keberkahan dalam menuntut ilmu.
Kasus ini hanya sebagian dari kerusakan yang dialami dunia pendidikan negeri ini, banyak kasus serupa lainnya yang terjadi, ratusan bahkan ribuan kasus yang tersorot media dan tidak tersorot. Pendidikan seharusnya mampu memperbaiki perilaku seseorang namun fakta yang terjadi jauh dari harapan, ini semua terjadi diduga karena kesalahan orientasi pendidikan, sehingga tahun ke tahun ganti mentri ganti kurikulum. Berharap akan ada perbaikan di balik gantinya kurikulum, tujuan sejatinya pendidikan akan tercapai. Namun fakta mengatakan kondisi semakin miris, kurikulum K13 maupun kurikulum merdeka menjadikan akhlak sebagai pionir utama. Namun semakin ke sini semakin mencemaskan perilaku akhlak kaum pelajar maupun mahasiswa. Kurikulum pendidikan saat ini hanya berorientasi pada peningkatan taraf berpikir pelajar maupun mahasiswa dalam memahami ilmu pengetahuan semata. Mereka hanya disiapkan menjadi lulusan yang siap menghadapi dunia kerja, bukan siap menghadapi kehidupan dunia apalagi akhirat, mengejar gelar dan ijazah semata, sama sekali tidak menyertakan iman dalam ilmu dan amalnya. Maka sangat wajar terbentuk generasi rusak moral, rusak pemikiran dan perilaku. Generasi yang tidak lagi peduli pada halal dan haram bahkan melakukan tindakan asusila pun merupakan hal biasa dan bisa dilakukan dengan bebas dimanapun.
Kerusakan ini di dukung dengan sistem hukum yang tidak tegas, sehingga wajar jika perilaku ini terus-menerus terjadi, tanpa ada solusi nyata. Hukum di negeri ini baru bertindak ketika kasus sudah viral di dunia maya menggemparkan dunia nyata. Para pemangku kebijakan seolah menutup mata dan telinga, seolah kerusakan yang ada bukan tanggung jawab mereka. Seringkali mereka yang melakukan tindakan asusila tidak diberikan sanksi tegas dari institusi pendidikan. Ketika guru mendisiplinkan, mendidik siswa untuk lebih baik justru guru yang harus terpidana. Hal ini membuat mengikisnya peran guru untuk mendidik, banyak guru sekarang hanya fokus mengajar menyampaikan materi pelajaran semata. Peran Pendidikan yang seharusnya untuk mendidik anak bangsa, mencetak generasi supaya memiliki kepribadian akhlak mulia, dan peran pelajar menjadi penyambung lidah masyarakat dan penerus generasi bangsa seola sirna hilang tujuan dan arah.
Fakta ini menjadi bukti kegagalan dan mirisnya sistem pendidikan saat ini yaitu sistem pendidikan yang dipengaruhi ideologi kapitalisme yang berorientasi pada kepuasan materi semata. Berdiri di atas paham sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Pemisahan ini sama saja menjauhkan manusia dari fitranya sebagai hamba Allah dipaksa untuk mengikuti aturan yang dibuat sesama manusia. Lembaga Pendidikan hanya mengajarkan agama sebagai ilmu bukan sebagai tsaqofah yang berpengaruh dalam kehidupan. Ditambah arus moderasi beragama yang membuat geneasi buta akan hakikat islam sebagai sistem kehidupan. Sistem kapitalis sekuler membuat para pendidik dan peserta didik seola melupakan bahwa apa yang mereka lakukan di dunia ini akan diminta pertanggungjawaban di akhirat.
Sejarah mengatakan pendidikan Islam mampu mencetak generasi cemerlang yaitu generasi yang menjadikan Islam sebagai pembentuk kepribadian dan pemikiran mereka. Ini telah terbukti dengan banyak nya melahirkan cendikiawan dan ilmuwan yang ahli dalam bidangnya, seperti Al Khawarizmi ahli matematika penemu aljabar dan angka nol. Ibnu Qurra (Tsabit bin Qurrah) ahli astronomi dan matematika berperan penting dalam memperluas konsep geometri tradisional ke aljabar geometris, dan sekaligus pendiri statika. Al Battani Ahli Astronomi penemu penentuan tahun 365 hari, ada Ibn Alfarabi ahli Filsafat. Ibn Al Haitham seorang fisikawan penemu optik, Ibnu sina seorang ilmuan bidang kedoteran. Abbas ibn Firnas pencipta ide pesaawat pertama kali. Tak hanya itu ada juga sosok Wanita terkenal dalam Sejarah islam yaitu Fatimah Al-Fihri pendiri universitas pertama di dunia yaitu universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko yang diakui sebagai universitas tertua dan masi beroperasi hingga saat ini dan masih banyak lagi ilmuwan muslim yang karya nya masi kita nikmati saat ini, bahkan tanpa karya mereka kita tidak bisa menikmati kehidupan dengan kecanggihan teknologi saat ini.
Kegemilangan ini lahir dari sistem Islam, sistem pendidikan yang memadukan antara ilmu kehidupan dan keimanan sehingga akan sangat mempengaruhi setiap aktivitas amal perbuatannya. Pendidikan yang mengajarkan bahwa manusia harus terikat dengan syariat Allah. Dalam kitab usus at-ta’lim di Daulah khilafah karya syaikh atha’ bin Khalil dijelaskan bahwa sistem pendidikan islam dibangun dari landasan Aqidah yang dirancang untuk mewujudkan identitas keislaman yang kuat baik aspek pemikiran maupun sikap. Metode pengajarannya harus talqiyan fikriyan, penanaman tsaqofah Islam berupa Aqidah, pemikiran, dan perilaku Islam masuk keakal dan jiwa anak didik yang akan menghasilkan genererasi berkepribadian Islam nan mulia. Tentu saja dengan metode seperti ini tidak akan melahirkan generasi yang melakukan kriminalisasi kepada guru apalagi generasi yang bebas melakukan tindakan asusila, generasi yang hilang rasa hormat kepada guru dan orang tua, generasi yang bebas namun kebablasan.
Para pelajar disiapkan mampu mengarungi kehidupan untuk mencapai kebahagian dunia akhirat. Di dunia mereka akan menjadi kontributor perdaban mulia sedangkan di akhirat mereka terobsesi meraih kebahagian syurga sehingga mereka menjaga tingkah lakunya dari hal yang di haramkan. Termasuk dalam menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan, penjagaan dari aktivitas maksiat dan dalam sistem islam negara memiliki sistem sanksi yang tegas dan menjerahkan sehingga dapat mencegah pelanggaran hukum syara’. Konsep pendidikan seperti ini mustahil tercipta dalam konsep sistem sekularisme kapitalis melainkan hanya akan terwujud dalam negara yang menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. *

