Oleh : IROHIMA
Islamophobia kembali kembali menjadi isu yang bergulir panas di India. Larangan penggunaan hijab di beberapa lembaga pendidikan terutama di negara bagian Karnataka telah sangat jelas menggambarkan kebencian dan permusuhan pemerintah India terhadap rakyatnya sendiri yang beragama Islam. Setelah sebelumnya video yang berisi seruan genosida terhadap muslim beredar kini perlakuan buruk yang diterima oleh umat Islam India akhir-akhir ini semakin terkuak ke media terlebih saat sebuah video viral di dunia maya. Video itu menunjukkan sekelompok ektrimis Hindu yang menghalang-halangi serta mengancam seorang mahasiswi yang berkerudung agar tidak bisa memasuki kampus.
Kebijakan larangan penggunaan hijab yang sangat diskriminatif telah memicu protes dan kekerasan yang meluas. Sejumlah pelajar muslim India melakukan aksi unjuk rasa. Para pelajar muslim mengatakan jika hak – hak beragama mereka telah dirampas dan itu adalah sebuah bentuk apartheid agama. Suasana yang semakin memanas membuat negara bagian Karnataka di India mengeluarkan perintah untuk menutup sekolah dan perguruan tinggi selama tiga hari setelah terjadi sejumlah unjuk rasa. Partai-partai oposisi dan kritikus India bahkan menuduh jika pemerintah di tingkat federal dan negara bagian telah melakukan diskriminasi terhadap agama mayoritas dan beresiko memicu kekerasan (suara.com, 10/02/2022).
Pemerintah Karnataka dikuasai Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP) di bawah pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi dimana kekerasan dan ujaran kebencian terhadap muslim semakin meningkat setelah BJP berkuasa. Seperti kita ketahui BJP adalah partai nasionalis Hindu yang secara jelas menerangkan tak menginginkan Islam hidup dan berkembang di India. Partai ini sangat masif menjalankan kampanye anti Muslim. Meski di India terdapat perlindungan konstitusional namun sentimen anti Muslim selalu ada bahkan cenderung meningkat, terlebih Narendra Modi dan BJP yang berkuasa. Ini tak lepas dari agenda partai mereka yang ingin menjadikan India sebagai negara Hindu. Nasionalis Hindu meyakini bahwa Hindu adalah anak sejati dari tanah India sedangkan tanah suci Muslim berada di luar India. Stereotif inilah yang menjadi salah satu pemicu ketegangan politik dan hubungan yang rumit antara penganut Hindu dan Muslim. Muslim India selalu dianggap sebagai orang asing di negeri mereka sendiri.
India adalah salah satu dari banyak negara yang mengaku menjunjung tinggi HAM, toleransi dan kebebasan berekspresi dan begitu memuja sekuler demokrasi. Nyatanya justru mereka telah mengingkari serta menginjak- injak apa yang mereka yakini selama ini. Tak jauh berbeda dengan yang lain, sejatinya sikap dan perlakuan buruk dan keji mereka tak lain karena dipicu oleh dendam dan kebencian terhadap Islam. Kesombongan, dengki dan hati yang telah buta akan kebenaran telah membuat mereka membabi buta memfitnah, menyiksa dan mendzolimi Islam beserta penganutnya. Stigma negatif dan opini yang menyesatkan terus menerus mereka gulirkan demi merobohkan agama ini, kaum kafir dan musuh-musuh Islam tak terima dan tak rela jika kesadaran umat mulai menggeliat bangkit dan cahaya Islam mulai memasuki relung relung hati manusia, membuka mata manusia untuk melihat kebenaran yang hakiki. Mereka akan berusaha untuk selalu mencegah tanpa mereka sadari, menghalangi Islam sama saja seperti berusaha menghalangi matahari menyinari bumi, akan sia-sia. Islam akan tetap bersinar dan tak kan ada yang mampu mencegahnya.
Perlakuan keji kaum kuffar terhadap muslim terutama muslimah di seluruh penjuru dunia sangat menyesakkan dada, dan ini telah berlangsung lama. Perlakuan diskriminatif bahkan pelecehan kerap terjadi dan semakin meningkat kasusnya tanpa pernah ditemukan solusi tuntasnya. Sudah berapa banyak Jutaan muslimah yang tak hanya dirampas hak menjalankan ajaran agamanya namun juga telah dipaksa untuk menanggalkan kehormatannya. Namun mirisnya tak satupun penguasa muslim saat ini yang berani maju di garda terdepan untuk membela dan melindungi kehormatan muslimah. Mereka telah tersandera oleh kepentingan politik dan terjebak dalam sekat kebangsaan dimana mencampuri urusan sebuah negara di luar batas wilayah negara sendiri adalah sebuah larangan meski mereka adalah saudara seiman.
Hukum dunia internasional yang merujuk pada sistem demokrasi sekuler kapitalis saat ini terbukti sangat gagal dalam menciptakan perdamaian di dunia. Berbagai organisasi internasional yang berbentuk hukum ataupun kemanusiaan, nyatanya tak mampu membendung arus rasisme, diskriminasi, apartheid agama dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya. Kebencian kaum kufar terhadap Islam membuat dunia menutup mata akan derita yang menimpa kaum muslim India dan kaum muslim lainnya. Tak mengecilkan perjuangan orang -orang yang berani menyuarakan kebenaran, mengutuk dan melakukan aksi protes, namun semua itu belumlah cukup untuk bisa menghentikan kekejian mereka dan menolong saudara kita.
Diperlukan kekuatan lebih dari sekedar memboikot dan melakukan aksi protes untuk membungkam semua tindak kejahatan. Diperlukan tindakan nyata dan tegas. India, Palestina, Rohingya, Suriah dan yang lainnya hanya akan terbebas dengan kekuatan politik dan militer. Karena sejatinya kejahatan yang berbentuk fisik harus dihadapi dengan kekuatan fisik. Dan satu-satunya yang bisa melakukan itu adalah Islam.
Dalam Islam, tanah , harta dan nyawa akan sangat dilindungi. Adalah sebuah kewajiban bagi negara dalam Islam, menjaga setiap jengkal tanah kaum muslim, menjaga harta kaum muslim dan melindungi nyawa seluruh umat muslim. Sejarah telah mencatat betapa Khalifah Al Mutashim Billah megerahkan ribuan tentara dari Irak sampai Amuria dikarenakan pelecehan yang dilakukan tentara Romawi pada seorang muslimah. Hanya seorang muslimah, namun pemimpin Islam saat itu begitu bertanggung jawab dan menjalankan kewajibannya sebagai periayah umat dengan membela kehormatan seorang muslimah, bandingkan dengan sekarang, bukan hanya satu bahkan jutaan muslimah di dunia ini telah teraniaya, terdzolimi dan terbunuh namun tak ada satupun pemimpin muslim saat ini yang tergerak.
Kenapa kita tak bisa melakukan seperti yang dilakukan Al Mutashim Billah? semua karena kita terjebak dalam sistem demokrasi . sistem ini telah membuat sekat nasionalisme, yang membatasi seluruh pergerakan kita. Sistem ini juga telah menyandera kita dengan berbagai perjanjian dan kepentingan yang membuat kita tak bisa menolong saaudara muslim kita di negara lain. Adalah sesuatu yang melanggar perjanjian internasional jika kita sampai mengintervensi meski saudara muslim kita mengalami tragedi dan diperlakukan secara tidak manusiawi. HAM yang selalu dibanggakan dalam demokrasi hanyalah omong kosong dan menjadi prinsip yang diikhianati oleh mereka sendiri.
Hanya sistem Islam yang mampu menarik kaum muslimin di seluruh dunia dari keterpurukan, kehinaan dan seluruh kedzaliman. Islam menjadikan akidah sebagai ikatan kuat antar umat muslim, bukan karena ras, suku atau bangsa hingga telah menjadi kewajiban bagi semua umat muslim untuk menolong saudaranya ketika mengalami penderitaan. Hanya negara dalam Islam yang mampu menolong dan melindungi kehormatan muslimah India, Pakistan, Rohingya, Uighur, Palestin, dan negara muslim lainnya. Negara dalam Islam akan membebaskan kaum muslim yang hidup di bawah kekuasaan kaum kuffar dengan mengirimkan tentara-tentara tangguh yang siap membela agama dan kepentingan umat Islam.
Wallahualam bisshawab

