Oleh : Desi Anggraini, Pendidik Palembang
Menlu RI, Retno LP Marsudi, menghadiri pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atau Organisation of Islamic Cooperation (OIC). Retno menyampaikan tiga langkah kunci membela Palestina. Extraordinary Open-ended Ministerial Meeting of the OIC Executive Committee itu digelar virtual dan dihadiri 16 menteri dan wakil menteri luar negeri negara-negara anggota OKI. Pertemuan digelar khusus untuk membahas agresi Israel di wilayah Palestina, khususnya Al-Quds Al-Shareef atau Yerusalem dan juga jalur Gaza.
Retno mengingatkan semua pihak untuk tidak lupa bahwa Palestina adalah satu-satunya negara yang masih diduduki kekuatan kolonial di dunia ini. Retno menyebut semua penderitaan Palestina disebabkan oleh Israel sebagai occupying power. Atas hal itu, Retno mengusulkan beberapa langkah kunci yang harus dilakukan OKI. Langkah kunci pertama, yaitu memastikan adanya persatuan.
Retno menyampaikan langkah kunci kedua yaitu, OKI harus mengupayakan gencatan senjata sesegara mungkin. Dia mengajak semua negara OKI menggunakan pengaruhnya.Langkah kunci terakhir, kata Retno, yaitu OKI harus tetap fokus membantu kemerdekaan bangsa Palestina. Negoisasi multilateral harus terus didorong.
Pernyataan OKI ini seolah elok didengar. Istilah “mengutuk”, “menegaskan”, “mendesak”, “memperingatkan” dan narasi sejenis disampaikan seolah akan membuat Israel ketakutan dan takluk pada pernyataan ini. Namun, nyatanya tidak demikian.
Telah puluhan tahun pendudukan Israel atas Palestina sejak 1947, selama itu narasi “kutukan” dan “kecaman” sudah berulang kali diluncurkan OKI. Namun pendudukan Israel atas Palestina makin masif. Wilayah Palestina terus tergerus hingga tersisa belasan persen saja. Sementara pemukiman Yahudi terus dibangun di atas genangan darah dan air mata muslim Palestina.
Jangankan berharap pada pernyataan OKI, belasan resolusi Dewan Keamanan PBB saja tak diacuhkan Israel. Semua resolusi itu tak bernilai apa-apa selain retorika.
Yang terbaru, AS telah memblokir rapat darurat Dewan Keamanan (DK) PBB untuk membahas permasalahan Israel dan Palestina yang seharusnya digelar pada Jumat (14/5/2021). Untuk mengadakan rapat, semua anggota DK PBB harus sepakat terlebih dulu. Jika ada satu dari lima belas anggota tak setuju, maka DK PBB tak dapat menggelar rapat.
Amerika telah menggunakan pengaruhnya yang kuat di PBB untuk menggagalkan rapat. Esok hari, Amerika akan terus menggunakan pengaruh internasionalnya untuk melindungi Israel. Lantas, atas alasan apa kita masih harus percaya PBB? Sementara PBB selalu mengabdi pada kepentingan AS.
Lantas, akankah pernyataan OKI kali ini akan berbeda efeknya dan mampu membuat Israel tunduk? Tidak!
Penyebabnya jelas. Israel kuat dan berani menghadapi dunia internasional karena mendapat dukungan negara adidaya dunia yaitu Amerika Serikat. Israel adalah sekutu AS. Meski Presiden AS berganti-ganti, dari Partai Republik maupun Demokrat, negara ini tetap mitra utama Israel.
Sebagaimana dulu Inggris menyuplai militer Israel di awal pendiriannya, kini AS yang mendukung penuh militer Israel. Sementara umat Islam tidak memiliki negara adidaya yang akan mendukung dan melindungi Palestina. Kondisi ini sungguh tak imbang. Yang terjadi di Palestina bukan perang, melainkan pendudukan bangsa penjajah terhadap penduduk asli.
Sebelumnya, Donald Trump telah mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Umat Islam pun tak punya kuasa untuk mencegahnya, melarangnya, atau memberi sanksi yang efektif. Amerika sangat paham, para penguasa negeri Islam tidak akan melakukan apapun yang mengancam eksistensi Israel. Amerika juga paham, para penguasa negeri Islam akan mengulangi retorika yang sama: mengecam dan mengutuk. Tidak lebih dari itu.
Maka, sudahi bermain narasi, wujudkan solusi hakiki. Persoalan utama di Palestina adalah adanya entitas Yahudi yang merebut tanah umat Islam Palestina dengan dukungan Sang Adidaya, Amerika. Maka solusi atas persoalan ini adalah menghilangkan entitas Israel dari Bumi Palestina. Bukan dengan diplomasi atau narasi, tapi dengan pengiriman militer. Militer gabungan negara-negara muslim anggota OKI sudah lebih dari cukup untuk membuat Israel bertekuk lutut.
Namun, solusi ini tak pernah diambil oleh negara-negara OKI maupun PBB. Setiap tahun, narasi basa-basi selalu diputar ulang setiap kali Israel melancarkan serangan. Padahal Bumi Palestina sudah bersimbah darah para syuhada. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun menjadi korban kebiadaban Yahudi. Lantas, dimanakah nurani para pemimpin OKI?
Kejahatan Israel dan Amerika tidak akan berlanjut jika para pemimpin negeri muslim mau berbuat nyata melindungi Palestina dengan bala tentara. Diamnya para penguasa muslim sebenarnya adalah bantuan dan dukungan terhadap kejahatan Israel. Hakikatnya, mereka tengah tolong menolong dalam kejahatan dengan kaum agresor.
Padahal para pemimpin itu seharusnya memposisikan diri sebagai cucu-cucu Salahudin al Ayyubi, Sang Jenderal pembebas Baitulmaqdis. Juga sebagai cucu-cucu Khalifah al Mu’tashim Billah yang pada tahun 837 menjawab seruan seorang muslimah yang dilecehkan oleh pasukan Romawi di kota Ammuriah.
Maka Sang Khalifah mengirimkan tentara yang panjang barisannya tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki). Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama lima bulan hingga akhirnya takluk pada 13 Agustus 833.
Tak perlu banyak retorika, cukup tindakan nyata. Sebagaimana yang dilakukan Khalifah Harun ar Rasyid terhadap Nakfur, Raja Romawi yang menyalahi kesepakatan dengan Khilafah Abbasiyah. Sang Khalifah pun membalas surat Nakfur dengan kertas atau kulit yang dipakai Nakfur, yaitu ditulis di belakangnya,
“Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi. Jawabannya seperti yang kamu lihat, bukan seperti yang kamu dengar.”
Surat itu pun dikirim bersama dengan pasukan Khilafah. Pada saat itu, Harun ar-Rasyid memimpin pasukannya hingga sampai di Kota Heraklius, sehingga terjadilah peperangan dan menjadi momentum penaklukan yang gemilang.
Demikianlah sikap penguasa muslim yang seharusnya, menjadi pembebas Palestina. Tak perlu banyak retorika tanpa makna. Yang terpenting adalah aksi nyata melindungi muslim Palestina dan semua muslim di seluruh penjuru dunia dari penjajahan. Namun pemimpin seperti Salahudin al Ayyubi, Mu’tashim Billah, dan Harun ar Rasyid hanya lahir dalam sistem Islam, bukan sistem sekuler seperti saat ini. Wallaahu a’lam bi ash shawab

