Oleh : Sheptya Mayang Sari (Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang)
Kenaikan harga gas Elpiji 3 Kg membuat warga di Muaratara, atau Kabupatem Musi Rawas Utara. Hal ini dikarenakan kebutuhan warga akan gas melon 3 kg terus meningkat. Harga eceran gas melon 3kg yang biasanya Rp. 27 ribu kini mencapai Rp. 38 ribu di warung atau pengecer. Hal ini tentu menjadi keluhan warga sekitar sehingga membuat salah satu warga setempat, Lami mengungkapkan “Baru saja membeli gas elpiji 3 kg seharga Rp 38 ribu per tabung. Padahal ketersediaan gas tersebut masih banyak di warung”.
Lami juga mengungkap, stok gas LPG 3 kg ini harganya akan naik jika sudah langka dan sulit ditemukan di warung pengecer gas LPG, (TribunSumsel.com 29/08/22021). Warga Muaratara kaget dan mengeluhkan kenaikan harga gas LPG 3 kg ini karena gas LPG termasuk kebutuhan pokok warga. Semakin tinggi daya beli warga terhadap gas ini berakibat pada peningkatan produksi dari perusahaan sehingga untuk biaya transportasi juga ikut naik. Sebagai wujud keluhan, warga meminta agar harga gas tidak dinaikkan. Maka tidak salah jika warga Muaratara menolak kenaikan harga gas LPG ini. Belum lagi dalam kondisi pandemic Covid-19 ini tingkat perekonomian warga tentu mengalami penurunan. Permasalahan mengambil untung seperlunya saja dan harus menyesuaikan dengan pangsa pasar.
Benarkah pejabat sudah mempermudah akses pemenuhan kebutuan rakyat? Kondisi warga selaku konsumen juga masih membutuhkan keringanan karena tidak semua hanya untuk kebutuan konsumsi keluarga tetapi juga menyangkut usaha yang mereka lakukan sebagai modal untuk kelangsungan ekonomi keluarga mereka selanjutnya. Warga yang harus berjuang dibawah garis kemiskinan, malah menjadi ajang pencarian cuan besar-besaran pejabatnya karena hanya memikirkan diri mereka sendiri.
Kegagalan Pemerintah Memenuhi Kebutuhan Masyarakat, Terjebak Iming-Iming Cuan. Sudah menjadi kebiasaan turun temurun, sangat bersemangat menjanjikan perubahan yang lebih baik dengan mengandalkan kebijakan baru untuk solusi dari permasalahan dari masa jabatan yang sebelumnya. Seiring berjalannya masa jabatan, fungsi pengawasan dan monitoring terkait kebijakan serta program yang dikerahkan belum maksimal dilakukan pemerintah. Kasus yang sama melansir dari Sumsel, Tribunews.com (16/08/2021). Petani di Muaratara mengalami dua kali gagal panen karena masalah air dan hama. Masalah air dikarenakan sumur bor bantuan dari pemerintah pada tahun 2018 tidak berfungsi dengan baik, hal ini menjadi harapan warga untuk mendapatkan bantuan penyelesaian masalah ini.
Sudah menjadi kewajiban pemerintah dan negara untuk memperbaiki standar professional kerja apalagi terkait hasil bumi, air dan udara sudah menjadi hak milik masyarkat yang menempati negara tersebut. Kewajiban negara untuk mengelolah hasil dari bumi, air, dan udara sendiri bukan dengan membiarkan campur tangan penguasa kafir barat bercokol di negeri sendiri mencomot keuntungan hanya bermodal pengetahuan dan teknologi dengan menawarkan kemudahan yang bahkan di balik keuntungan yang dijanjikan terdapat cuan yang lebih besar yang mereka dapatkan. Selain dampak positif yang terlihat di permukaan, nyatanya masih terdapat kecurangan yang tersimpan di baliknya. Sejauh ini harapan rakyat mengungkapkan pendapat sebagai tanda keluhan mereka atas kebijakan yang tidak disertai pengawasan dan monitoring secara berkala. Benarkah kemudahan yang ditawarkan dapat benar-benar membantu kesulitan rakyat?
Perhatian Khusus Pemerintah Terhadap Kebutuhan Umat Dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, api, dan padang gembalaan.” (HR Abu Dawud dan Ibn Majah).
Berdasarkan sabda Rasululullah SAW tersebut, bahwasannya sumber daya alam merupakan kepemilikan umum dan tidak diperkenankan bagi swasta untuk memiliki sumber daya alam karena akan menghalangi hak umat. Upaya untuk mempertahankan sumber daya alam dari cengkraman swasta akan membantu ketahanan energi negara. Dengan mengelola sendiri sumber daya alam hingga menghapuskan pinjaman modal dengan riba dan pajak. Sistem Islam telah berhasil mempertahankan energi negara dengan meninggalkan semua bentuk kerja sama dengan asing dan meninggalkan gaya hidup seperti kafir barat saat ini. Sudah menjadi keharusan bagi kita umat Islam untuk turut mendukung perubahan darul kufur menjadi darul Islam. ***

