Oleh : Jumiliati
Perang Gaza-Israel tak kunjung padam, rudal-rudal Israel terus saja bertebaran bagaikan kembang api dilangit Gaza. Meski peperangan tak seimbang namun dunia seakan menutup mata atas kekerasan terbesar di dunia yakni Genosida.
Bersumber dari Kairo. Kompas Tv pada rabu 4 Juni 2025, Pemerintah Mesir telah mendeportasi lebih dari 30 aktivis yang berencana mengikuti konvoi blokade Israel di Jalur Gaza, para aktivis di deportasi di hotel dan bandara Internasional Kairo. Pemerintah Mesir menentang secara terang-terangan blokade Israel di Gaza dan mendesak gencatan senjata segera. Akan tetapi Kairo juga getol membungkam pembangkang dan aktivis yang mengkritik hubungan ekonomi dan politik Mesir-Israel.
Hubungan Mesir-Israel merupakan isu sensitif di Mesir karena pemerintah tetap menjaga hubungan dengan Israel meskipun publik secara luas bersimpati dengan masyarakat Palestina. Da hal ini merupakan pengkhianatan terbesar bagi umat Muslim, Mesir yang seharusnya menolong Gaza dari cengkraman Israel justru menjaga hubungan baik dengan Israel dan bahkan mendeportasi para aktivis yang akan mengikuti konvoi blokade Israel di Jalur Gaza.
Inilah yang terjadi jika Islam kehilangan Junnah sebagai pelindung yang menaungi seluruh umat islam. Setelah runtuhnya Daulah islam pada 3 Maret 1924 negara islam tercerai berai layaknya sapu lidi yang terlepas dari ikatannya, negara islam menjadi negara-negara kecil yang tersekat- sekat oleh Nation State atau batas negara. Membuat umat islam tidak berdaya untuk sekedar menolong saudara Muslim nya di Gaza.
Hal ini ini semakin diperparah dengan paham Nasionalisme yang bercokol dan mencengkeram kuat negara Muslim, yang menghalangi perjuangan membebaskan Gaza, Mesir yang seharusnya mengerahkan militer nya ke Gaza untuk menghadang tentara Israel justru menjaga hubungan baik dengan Israel demi kepentingan negara nya sendiri. Inilah bukti cengkraman Nasionalisme yang mengalahkan ikatan ukhuwah sesama Muslim.
Nasionalisme yang terbungkus apik dengan dalih cinta tanah air seakan leluasa menghadang rasa kepedulian dan rasa kemanusian. Nasionalisme memang salah satu rencana terstruktur dari barat yang ditanamkan di setiap negara di dunia termasuk negara Muslim yang menjadi target utama nya. Karena dengan melekatnya rasa Nasionalisme dengan sendirinya setiap negara akan mati-matian membela negaranya di atas segala-galanya, masalah negara lain biar menjadi urusan negara lain.
Dengan kondisi negara Islam yang telah terpecah tersekat – sekat membuat Nasionalisme tertancap kuat tanpa disadari, dan hal itu sangat efektif untuk menghancurkan tali persaudaraan sesama Muslim. Hal ini terbukti dari Mesir yang tetap menjaga hubungan baik dengan Israel meski secara nyata Israel telah memporak-porandakan Palestina dengan Genosida.
Jika kita melihat sejarah maka kita akan menyaksikan betapa ikatan persaudaraan yang ada pada umat Muslim sangat lah erat. Bisa kita lihat dari peristiwa hijrah nya Rasullullah saw ke Madinah, betapa kaum Anshor yang merupakan warga asli Madinah menyambut dengan baik Nabi saw beserta kaum Muhajirin yang merupakan sahabat nabi dan para kaum Muslim yang mengikuti hijrah ke Madinah.
Tidak hanya menyambut baik kedatangan kaum Rasulullah dan kaum Muhajirin, bahkan dari mereka ada yang menginfakkan hartanya untuk kaum Muhajirin, karena kaum Muhajirin telah menggalkan hartanya untuk berhijrah bersama Rasulullah. Sungguh ikatan aqidah begitu kuat diantara mereka meski tanpa ada ikatan darah, ikatan yang berlandaskan keimanan kepada Allah bisa mengalahkan ikatan darah yang konon lebih kental dari air itu.
Hal ini membuktikan bahwa aqidah islam telah menyatukan dua kaum yang berbeda dalam satu tujuan yaitu keimanan kepada Allah. Aqidah tidak hanya mampu mengikat tali persaudaraan tapi juga mampu menggetarkan hati untuk senantiasa peduli dan merasakan pentingnya saling tolong – menolong sesama Muslim. Mengingat pentingnya kepedulian dan tolong- menolong Palestina membutuhkan tidak hanya kecaman keras bagi Israel, akan tetapi Palestina membutuhkan tentara Muslim untuk mengusir Zionis Israel dari tanah suci Palestina.
Mengirim tentara Muslim untuk membebaskan Palestina tidak akan bisa kita lakukan jika negri- negri Muslim masih dalam cengkraman Nasionalisme. Negri-negri Muslim harus menyadari bahwa sudah saatnya menyatukan seluruh kaum Muslim di dunia pada satu naungan dalam bingkai khilafah. Khilafah merupakan insitusi atau sistem pemerintahan yang mengatur setiap aspek kehidupan dengan aturan Islam.
Dengan sistem pemerintahan Islam yang menyatukan umat dalam satu pemerintahan bisa mengomando tentara militer untuk membebaskan tanah suci Palestina dari cengkraman Genosida Zionis Israel. Rasulullah saw berabda : “Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya, dan tidak mendzoliminya dan tidak membiarkannya (didzolimi). ( HR. Bukhari dan Muslim). ***

