Oleh: Rima Liana
Sedikitnya 17 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (7/6/2025) dini hari waktu setempat, bertepatan dengan hari kedua perayaan Iduladha, imbas serangan udara dan tembakan militer Israel di wilayah selatan Jalur Gaza, terutama di daerah Khan Younis dan Rafah.
Menurut keterangan dari sejumlah sumber Palestina, sebanyak 12 orang, termasuk empat anggota dari satu keluarga yang meninggal dunia dan lebih dari 40 orang lainnya mengalami luka-luka setelah pasukan Israel menyerang tenda-tenda pengungsi yang berada di wilayah barat Khan Younis.
Data yang dihimpun oleh kantor berita Anadolu dari berbagai sumber lokal menunjukkan bahwa sejak 27 Mei 2025, total korban tewas akibat tembakan tentara Israel saat warga berusaha mengakses bantuan kemanusiaan telah mencapai 115 orang. (7/6/2025 Jakarta, Beritasatu.com)
Serangan yang digencarkan oleh Israel Laknatullah hingga hari ini semakin brutal. Mereka tidak hanya menembakkan rudal, tapi mereka juga menembakkan peluru pada setiap warga sipil yang hendak mencari pasok makanan. Bukan hanya sekedar menghancurkan berbagai bangunan, mereka juga memblokade fasilitas di sana, hingga Gaza seperti tidak memiliki cahaya kehidupan.
Jika dilihat, misi mereka sebenarnya memang ingin menguasai tanah di Gaza, sehingga mereka rela menempuh cara apapun untuk bisa menyingkirkan warga Gaza. Salah satu bentuk kekejaman mereka, mereka justru menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk membunuh anak-anak, bahkan bayi yang tidak berdosa sekalipun ikut menjadi target dan mangsa kebengisan.
Bantuan yang masuk melalui jalur Rafah juga tidak segan mereka hadang supaya membusuk. Sampai hari Raya Idul Adha pun, serangan mereka tidak pernah terhentikan.
Dengan kondisi yang sudah sangat kacau ini, masih saja para pemimpin negeri muslim tidak mengambil tindakan tegas. Mereka justru hanya sibuk beretorika tanpa mengirim tentara militer untuk menjadi tameng serangan Zionis. Memang beginilah kenyataan pahit ketika kita menaruh harap kepada pemimpin dalam sistem kapitalis hari ini. Jangankan untuk bergegas menyelamatkan hak-hak nyawa yang terbunuh tanpa bersalah, untuk sekedar merasa iba dan memiliki hati nurani yang kesakitan, sepertinya tidak. Mereka bahkan dengan jelas mengikat hubungan dengan penjajah, dan mengkhianati kaum muslimin. Tidak hanya kaum muslim di Gaza, tapi di seluruh dunia.
Matinya rasa kemanusiaan sesungguhnya menunjukkan matinya sifat dasar manusia. Ini adalah buah dari sistem kapitalis yang selalu mengagungkan nilai materi dan memupuk rasa kebencian terhadap sesama umat muslim. Dampaknya sekarang, tidak ada satupun negeri muslim yang berani menyambut seruan umat untuk berjihad melawan Zionis.
Seruan jihad hanya bisa dikumandangkan oleh khalifah dalam sistem pemerintahan Khilafah. Sebab, khalifah adalah pemimpin kaum muslimin, dialah yang akan menyerukan jihad melawan musuh penjajah dan membebaskan bumi Palestina. Pada saat itulah juga kaum muslim akan bersatu dalam satu ikatan dan kepemimpinan tanpa adanya sekat dan matinya rasa kemanusiaan.
Tentunya semua itu tidak akan terwujud tanpa adanya upaya penegakkan dan proses penyadaran umat terhadap urgentnya kepemimpinan islam. Dan tidak akan pernah terjadi dalam sistem kapitalis-sekuler ini. Wallahua’lam bisshowab.

