Oleh Diana Wijayanti
Dunia Barat telah mencitraburukkan ajaran jihad dan pembebasan negeri yang dilakukan oleh Kekhilafan Islam. Hingga berdampak kepada anak-anak kaum muslimin, turut membenci dan memusuhi ajaran mulia itu.
Sebagaimana yang belakangan terjadi di negeri ini, lebih dari 100 buku yang ditarik dari peredaran karena berisi tentang jihad dan khilafah. Narasi yang sering diungkapkan adalah jihad dan khilafah adalah ajaran radikal, berpotensi menghancurkan bangsa dan negara.
Tentu saja narasi ini tidak sesuai fakta dan realita. Contoh di negeri ini, resolusi jihad pernah dikobarkan oleh Kyai H. Hasyim Al Asy’ari pendiri NU dalam melawan Sekutu yang menduduki kota Surabaya.
Pun apa yang terjadi di negeri Syam, wilayah kekuasaan Romawi ditaklukkan pasukan mujahid Islam di masa kekhilafahan Umar bin Khattab.
Dalam sebut buku, Hitti menggambarkan situasi Syam pasca penaklukan oleh Islam. Ia menuliskan pernyataan yang dinisbahkan pada orang-orang Himsh yang menurutnya merepresentasi pandangan masyarakat Syam (Suriah) secara keseluruhan.
“Kami jauh lebih menyukai pemerintahan dan keadilan kalian ketimbang negara penindas dan tiran yang pernah menguasai kami”
Artinya, penduduk Syam sejatinya menyambut positif kehadiran pemerintahan Islam, mengingat selama ini mereka menderita di bawah kekuasaan imperium Romawi.
Hal ini salah satunya disebabkan oleh pemaksaan bangsa Romawi terhadap penduduk asli untuk menganut budaya Hellenistik disertai penerapan kebijakan-kebijakan zalim lainnya.
Adapun ketika Islam datang, mereka justru ditempatkan sejajar dengan warga negara Islam lainnya. Jizyah hanya dipungut dari kalangan yang mampu saja.
Kompensasinya justru jauh lebih besar, berupa jaminan kebebasan menjalankan agama, serta jaminan kesejahteraan, keadilan dan keamanan dari pemerintahan Islam.
Tak heran jika saat Khalifah Umar berkunjung ke Yerusalem, Patrik Kristennya yang bernama Sophronius justru menyerahkan kunci gerbang pintu Yerusalem kepadanya.
Bahkan sebagaimana ditulis Hitti, Sophronius menemani Khalifah Umar yang sudah lanjut usia itu berkeliling ke tempat-tempat suci yang ada di sana.
Hitti juga menceritakan betapa terkejutnya Sophronius melihat kesederhanaan dan busana lusuh yang dikenakan tamu Arab-nya itu, sehingga diriwayatkan bahwa ia berkata kepada orang-orang di sana dalam bahasa Yunani, “Sungguh, inilah kesahajaan dan kegetiran yang dikabarkan oleh Daniel Sang Nabi ketika ia berdiri di tempat suci ini” (hal. 193).
Oleh karenanya, tampak jelas bahwa pembebasan Syam telah membawa dampak yang sangat positif terhadap perkembangan Islam dan dakwahnya. Kekuasaan Islam semakin meluas dengan ditaklukkan Syam yang wilayahnya sangat strategis.
Di masa kekhilafahan Umayyah ibukota Khilafah bahkan pindah ke Syam. MasyaAllah luar biasa kekuatan jihad dan khilafah bagi kejayaan Islam.
Sudah selayaknya generasi muslim saat ini menegakkan Khilafah dan melaksanakan dakwah dan jihad sebagai metode syar’i dalam mensyiarkan Islam. Hingga kekuasaan Islam meliputi seluruh penjuru dunia.
Dengan begitu janji Allah SWT melalui lisan rasul-Nya terbukti nyata sebentar lagi Inshaa Allah. Bahwasannya Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah melipatkan bumi untukku bagian barat dan bagian timurnya. Dan kelak kerajaan umatku akan mencapai semua bagian yang dilipatkan bagiku darinya.”
Inilah impian kaum muslimin di akhir zaman. Sudah selayaknya janji Allah ini disambut dengan gembira dan suka cita. Caranya dengan berjuang, mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki hingga kemenangan itu tiba.
Begitulah Rasulullah SAW mencontohkan, dan dilaksanakan oleh para sahabat dengan sungguh-sungguh. Janji Allah tidak ditunggu dengan berdiam diri, berharap kemenangan jatuh dari langit.
Sungguh Rasulullah SAW dan para sahabat berdakwah siang malam, membentuk kutlah dakwah hingga menjadi semakin kuat dan diikuti masyarakat. Hingga akhirnya dakwah meluas ke Madinah dan penduduknya menerima cahaya Islam.
Berkat kaum Anshar dari Yatsrib (Madinah) inilah, Islam bisa ditegakkan dalam suatu institusi negara. Syariah Islam bisa diterapkan secara kaffah di dalam negeri dan dakwah keluar negeri pun dilakukan dengan sangat intensif di lengkapi pasukan jihad.
Hingga Rasulullah SAW wafat, kekuasaan Islam yang awalnya hanya kota Madinah meluas hingga seluruh jazirah Arab. Kekuasaan itu dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan Bani Utsmaniyah.
Wilayahnya hingga dua per tiga dunia, tegak berdiri dalam kurun waktu lebih dari 13 abad lamanya. Begitulah pembebasan yang dilakukan pasukan Islam. Kemuliaan meliputi seluruh manusia yang mau diatur Islam bukan hanya bagi kaum muslimin. Tidakkah kita rindu dengan kejayaan itu?
Wallahu a’lam bish shawab.

