Oleh: Qomariah (Muslimah Peduli Generasi)
Pendidikan dalam sistem kapitalisme sekuler sangat rentan dikapitalisasi, dijadikan komoditas bisnis, dan hanya berorientasi pada keuntungan materi.
Gelar sarjana dulu dipuja, dianggap sebagai pintu menuju masa depan cerah. Namun kenyataan di lapangan berkata lain, makin banyak lulusan universitas di Indonesia, justru masuk dalam lingkaran pengangguran. Menunggu tanpa kepastian, di tengah pasar kerja yang kian selektif dan jenuh.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan trend yang mencemaskan. Pada 2014, jumlah penganggur bergelar sarjana tercatat sebanyak 495.143 orang. pada 2020, jumlah penganggur melonjak drastis menjadi 981.203 orang. pada 2024, pengangguran sempat turun menjadi 842.378 orang, tetapi jumlah tersebut tetap tergolong tinggi.
Secara angka absolut, lulusan SMA memang masih mendominasi jumlah pengangguran mencapai 2,51 juta orang pada 2023. Tapi para lulusan SMA cenderung lebih fleksibel. Banyak dari mereka yang langsung menyerap peluang di sektor informal atau pekerjaan teknis yang tak menuntut ijazah tinggi, CNBC Indonesia (1/5/2025).
Sungguh kesenjangan nyata, pendidikan di negeri ini. pada awalnya pemerintah memberikan pendidikan pelayanan yang merata. Bahkan pemerintah menjalankan program pendukung. Seperti; kartu Indonesia pintar (KIP) kuliah, perluasan akses perguruan tinggi negeri, bantuan sosial, penguatan pendidikan vokasi, sekolah gratis, sekolah rakyat, dan sebagainya.
Namun kenyataannya setelah lulus, hari ini banyak sarjana menganggur, gelar dan ijazah tak bisa lagi jadi senjata, ini menandakan dunia pendidikan penuh masalah. Bermula dari paradigma yang salah, lalu sistem pendidikan salah arah, dan berakhir dengan menghasilkan output pendidikan yang bermasalah. Berawal dari rusaknya pendidikan sistem kapitalisme sekuler.
Aktivis muda asal Semarang, Sylvi Meilani. Kepada MNews menyatakan, mahasiswa saat ini butuh diedukasi dengan politik Islam. Karena mahasiswa merupakan agen perubahan yang memiliki karakter kritis yang kuat, dan memiliki harapan besar sebagai penyambung lidah rakyat,”jadi wajar jika mahasiswa hadir menyuarakan aspirasi masyarakat dan kritik terhadap penguasa, yang tidak prorakyat dan menzalimi rakyat.
Begitu pun juga dalam dunia usaha dan industri, seharusnya sarjana dikedepankan untuk mendapatkan peran di dalamnya. Sangat disayangkan sekali, pengangguran masih menjadi problem besar bangsa yang hingga kini belum terselesaikan. Kegagalan pemerintah era industrialisasi yang seharusnya mampu menyerap tenaga kerja nyatanya hanya janji palsu, ini merupakan paradoks di negeri ini.
Terlepas hari ini masuk pada era industrialisasi ataupun tidak, fenomena banyaknya pengangguran lulusan sarjana, sejatinya sedang menunjukkan bahwa pemerintah telah gagal dalam menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya, dan telah gagal menyejahterakan rakyatnya.
Ini karena dalam sistem ekonomi kapitalisme, pemerintah mengandalkan swasta dalam penciptaan lapangan pekerjaan. Belum lagi TKA yang tidak bisa distop oleh pemerintah lantaran terjegal kebijakan, sehingga lapangan kerja bagi warga makin sempit. Selama industri dikendalikan oleh swasta, lapangan pekerjaan tidak akan terbuka lebar untuk rakyat Indonesia, sehingga terjadilah lonjakan pengangguran besar-besaran.
Jika pendidikan fokus mencetak SDM berkualitas. Yaitu, mampu berkontribusi untuk kemaslahatan umat, jumlah pengangguran pun akan turun dengan sendirinya. Bahkan bagi yang berkemampuan yang mumpuni di bidangnya akan menaikkan daya tawar sebagai pekerja. Terlebih, dengan kemampuan yang dimilikinya.
Dalam industri yang bercorak kapitalisme, pembangunan industrinya berfokus pada kepentingan korporasi dan juga oligarki.
Hanya industri dalam Islam menela’ah persoalan pengangguran pada era industrialisasi, sehingga para lulusan sarjana pun tidak kesusahan dalam mencari pekerjaan, justru dicarikan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.
Bahkan pengangguran akan hilang dalam pembangunan industri bercorak Islam dan justru mensejahterakan rakyat.
Pertama; Islam tegas menjadikan negara sebagai penanggung jawab dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya.
Rasulullah SAW bersabda; “Seorang imam (kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya.” (HR. Bukhari).
Kedua; industri dibangun berdasarkan kemaslahatan umat sehingga negara wajib menjadi pengendali industri.
Ketiga; pendidikan dalam Islam mengarah pada dua kualifikasi penting yaitu; terbentuknya kepribadian Islam yang kuat dan memiliki keterampilan untuk berkarya.
Dalam Islam pendidikannya juga tidak akan membebek pada kepentingan industri. Bahkan pembangunan industri berfokus pada kemaslahatan umat, dan banyak membangun SDM yang berkualitas. Seperti; inovatif, kreatif, dan produktif, serta bermanfaat bagi umat banyak. Insya Allah. Wallahua’lam bishawab.

