Kliksumatera.com, MEDAN– Polda Sumut dan Komnas HAM menemukan adanya kejanggalan terhadap praktik kerangkeng rehabilitasi di rumah pribadi Bupati Langkat nonaktif, Terbit Rencana Peranginangin.
Pasalnya, lebih dari satu penghuni di kerangkeng ada meninggal dunia akibat dugaan kekerasan. Para penghuni yang tewas dikabarkan dikubur di sekitar rumah tersebut.
Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak mengungkapkan, Tim Polda Sumut telah menemukan lebih dari satu penghuni meninggal dunia dan kuburan, diduga akibat praktik kekerasan di kerangkeng rumah Bupati Langkat nonaktif.
“Kami sudah temukan orang yang mendapat kekerasan termasuk pemakaman korban meninggal. Kami terus dalami kasus ini, termasuk siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut,” katanya, Minggu (30/1).
Mantan Kapolda Sulut ini juga mengungkap fakta lain, bahwa penghuni kerangkeng bukan hanya pecandu narkoba melainkan ada orang yang dianggap nakal dan dijebloskan ke penjara.
“Ada jeda dari penyelidikan kita, bahwa bukan saja pengguna narkoba tapi juga orang nakal. Ada satu saya sebut saja, itu kepala Lapas-nya, istilah mereka di sana, dia masuk bukan karena narkoba tapi karena nakal,” sebut Panca.
Sementara itu Komnas HAM juga membeberkan beberapa fakta temuan bahwa kerangkeng rehabilitasi narkoba itu tidak memiliki izin dan para penghuninya dititipkan keluarganya.
Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam menuturkan, ada beberapa hal yang membuat masyarakat menitipkan anak atau kerabatnya ke tempat rehabilitasi itu, salah satunya mahalnya biaya untuk rehabilitasi korban ketergantungan narkoba.
“Jadi, ada satu proses pada 2016 di cek oleh BNNK Langkat sana, tidak ada izin dan disuruh mengurus izin tapi sampai sekarang tidak ada izinnya,” tuturnya.
Choirul juga menambahkan, Komnas HAM juga menemukan fakta lain dalam proses rehabilitasi yang dilakukan dengan praktik kekerasan hingga menghilangkan nyawa yang diduga telah berlangsung sejak 2010.
“Kita temukan satu proses rehabilitasi yang caranya penuh dengan catatan kekerasan, yakni dari mulai kekerasan fisik sampai hilangnya nyawa, datanya sangat solid,” pungkasnya.
Sumber : Waspada.co.id/Kliksumatera.com
Posting : Imam Ghazali

