Oleh : Rindah (Mahasiswa)
Maraknya fenomena bunuh diri pada kalangan generasi muda semakin memprihatinkan, bahkan dalam satu bulan ini saja di Semarang, terdapat dua kasus dugaan bunuh diri yang mengguncang hati banyak orang.
Kasus pertama melibatkan NJW, seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri yang ditemukan tewas di Mal Paragon Semarang pada Selasa (10/10/2023). Sementara kasus kedua melibatkan EN, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Semarang, yang ditemukan meninggal di kamar indekosnya pada Rabu (11/10/2023) (Republik.co.id, 13-10-2023).
Menurut laporan dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri, terdapat 971 insiden bunuh diri yang terjadi di Indonesia dari Januari hingga Oktober 2023.
Jumlah ini sudah melebihi angka kasus bunuh diri sepanjang tahun 2022, yang mencapai 900 kasus. (Muslimahnews.net, 22-10-2023).
Bunuh diri menjadi permasalahan yang semakin mengkhawatirkan dalam masyarakat kita. Banyak individu merasa terjebak dalam situasi yang menyulitkan, stres, dan banyaknya tekanan sehingga akhirnya menghantarkan mereka untuk memilih mengakhiri hidupnya.
Penyebab Bunuh Diri
Menyoal terkait kasus bunuh diri, berikut salah satu faktor penyumbang terbanyak kasus bunuh diri ialah karena depresi terhadap persoalan hidup.
Dari faktor tersebut dapat diketahui bahwa generasi saat ini memiliki mental yang lemah. Mental lemah ini dikarenakan jauhnya dari pemahaman akidah.
Generasi muda sering mengalami masalah “overthinking” yaitu berpikir berlebihan, yang dapat merugikan dan juga “quarter life crisis” yaitu merasa kebingungan dan cemas karena merasa tidak memiliki arah hidup.
Quarter life crisis yang dialami oleh generasi muda sering kali muncul karena mereka cenderung mudah cemas terkait berbagai ekspektasi yang sulit untuk dicapai, karena mereka tidak terbiasa menghadapi tantangan hidup atau kesulitan.
Dalam menghadapi kesulitan, mereka kadangkadang lebih memilih menghindari masalah tersebut daripada mengatasi atau menghadapinya.
Ini bisa mengarah pada permintaan “healing” atau bahkan, dalam kasus yang paling ekstrem, pemikiran tentang bunuh diri.
Jika ditelisik lebih dalam berbagai penyebab bunuh diri sejatinya merupakan buah dari sistem sekulerisme yang dijadikan landasan dan pandangan hidup bagi kawula muda.
Sekularisme sendiri merupakan pemisahan antara agama dan kehidupan yang memang sedari lahir hingga memasuki jenjang pendidikan, nilai-nilai kehidupan yang sekuler terus ditanamkan kepada mereka.
Wajar jika rapuhnya mental pemuda dikarenakan iman yang tidak mengakar di dalam dirinya karena menjauhkan agama dari kehidupan, sehingga ketika mereka dihadapkan suatu masalah yang pelik, pilihan terakhir yang mereka ambil ialah menyerah dan bunuh diri.
Misalnya di sistem pendidikan sekuler saat ini dimana prioritas tertinggi dalam pandangan ini adalah demi mencapai sebanyak mungkin kekayaan materi dan kenikmatan duniawi.
Maka ketika mereka menghadapi kegagalan dalam mencapai tujuan tersebut, timbulah rasa depresi dibenak mereka, selain itu pandangan mereka terhadap halal dan haram dalam perilaku juga dapat menjadi kurang terkontrol.
Akibatnya, kepribadian yang terbentuk dari sistem ini cenderung individualistik dan kapitalistik.
Hal ini mencerminkan pentingnya memberikan dukungan, pendidikan, dan pemahaman kepada generasi muda agar mereka dapat mengatasi tekanan dan kesulitan hidup dengan cara yang lebih sehat dan produktif.
Untuk melindungi masa depan generasi muda, satu satunya solusi yang mengakar adalah dengan menerapkan sistem Islam dalam struktur pemerintahan negara atau dikenal dengan Daulah Islam.
Sistem ini telah terbukti mampu membentuk generasi yang memiliki nilai-nilai Islam yang kuat, kekuatan mental yang tangguh, serta pemikiran yang cerdas.
Maka tak heran dari sistem ini lahirlah banyak para ilmuwan yang namanya tercatat sepanjang sejarah peradaban.
Pandangan Islam tentang Bunuh Diri
Dalam Islam, bunuh diri dianggap sebagai dosa yang sangat besar. Al-Qur’an secara jelas menyatakan: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).
Ayat al-Quran di atas dengan tegas mengindikasikan bahwa Islam melarang secara kuat tindakan bunuh diri dengan alasan apa pun. karena yang namanya bunuh diri bukan urusan dengan manusia lagi tapi urusan pelaku dengan Allah SWT.
Orang yang memutuskan untuk bunuh diri sebenarnya memiliki pandangan yang sempit dan kurang mendalam. Mereka mungkin berpikir bahwa dengan kematian mereka, semuanya akan berakhir. Namun, kenyataannya, kehidupan setelah kematian adalah kehidupan sejati yang abadi.
Seorang individu yang tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk kehidupan akhirat, dan akhirnya mengambil tindakan bunuh diri sebagai solusi permasalahan hidupnya. Maka tindakan tersebut membawa konsekuensi dosa besar, dan mereka akan menghadapi masalah yang lebih besar dan lebih berat di akhirat.
Islam Sebagai Solusi
Dalam Islam kebahagiaan yang sejati bagi seorang Muslim adalah mencapai keridhaan Allah SWT. Sebagai ideologi yang lengkap, Islam memiliki sistem yang mengatur aspek kehidupan secara sistematik.
Sistem Islam atau Khilafah bertugas untuk melindungi dan memastikan kesejahteraan hidup warganya.
Negara Islam juga akan menjamin semua orang mendapatkan akses pendidikan secara gratis dan berkualitas sehingga membentuk masyarakat yang kuat dan makmur. Ini terbukti saat dulu khilafah mencapai titik kegemilangannya selama 13 abad lamanya.
Dalam Islam, pendidikan akan membentuk kepribadian pada generasi muda, yaitu menanamkan keimanan pada para generasi muda, sehingga mereka menyadari bahwa sebagai makhluk Allah, mereka memiliki tanggung jawab untuk beribadah dan patuh terhadap syariat-Nya. Kemudian mereka akan dipahamkan bahwa semua akan mati.
Allah SWT berfirman,
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS Al-Imran: 185)
Menyadari betapa pentingnya pemahaman tentang kematian akan mendorong seseorang untuk bertindak dengan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Oleh karena itu, muncul kesadaran bahwa mengakhiri hidup dengan tindakan bunuh diri bukanlah solusi, melaikan dosa yang sangat besar. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR Bukhari dan Muslim).
Kehidupan sekulerisme ini membuat generasi kita harus terus menderita. Berapa lama kita harus menyaksikan banyak korban bunuh diri di kalangan generasi ini? Sudah seharusnya, Islam bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah generasi saat ini. Allahualam Bishowab.

