Oleh : Yudi (Wartawan Online Kliksumatera.com)
Sosok polri persisi yang humanis kepada masyarakat merupakan Polri presisi akronim dari prediktif, responsibilitas dan transparansi berkeadilan. Yang dibuat oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk masa jabatan yang diembannya merupakan tanggung jawab besar bagi sang jenderal untuk polri lebih dekat humaris dengan masyarakat Indonesia.

Sebagai lembaga negara yang memiliki fungsi kepolisian dibidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, Polri identik dengan sikap tegas, berwibawa, terkadang terlihat arogan, bahkan masih menunjukkan watak militeristik yang humaris.
Namun tugas polisi tidak hanya penegakan hukum, ada tugas melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Sebagaimana mandat dalam gerakan Reformasi Kultural Polri, yakni polisi sipil yang berwajah humanis serta demokratif. Mampu memadukan perannya sebagai aparat penegak hukum dan fungsinya yang berhubungan erat dengan masyarakat saling terikat satu dan lainnya.
Di HUT ke-71 Humas, Polri berkali-kali diterpa ujian. Terutama baru-baru ini di internal Polri kritik demi kritik menjurus ke lembaga penegak hukum tersebut. Tingginya harapan masyarakat terhadap Koprs Bhayangkara itu menjadikan institusi ini sasaran kritik masyarakat yang kritis atas layanan kepolisian yang dirasa tidak optimal, tidak memenuhi fungsi sebagai pelindung, pengayom, dan pelayanan.
Namu di sisi negatif kerap terekspos masif bahkan viral di media sosial, dengan dalih sebagai negara berdemokrasi. Tetapi sisi positif kerap dipandang sebelah mata dengan dogma hal itu sebagai kewajaran yang sudah seharusnya dilakukan. Padahal dalam pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) warga Indonesia diajarkan untuk menghargai dan mengucapkan terima kasih bila menerima bantuan, memuji jika seseorang telah melakukan kebaikan, sekecil apapun belajar untuk menghargai.
Jangan sampai landasan demokrasi membuat kita lupa berterima kasih kepada Polri yang selalu mengamankan aksi demonstrasi kenaikan BBM di sejumlah daerah. Meski Polri sendiri tidak memikirkan dirinya sendiri untuk mengamankan para demonstran jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan, belum lama ini mari kita ingat kepedulian Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menjawab permintaan Sinta Aulia Mualidyah (10), bocah perempuan asal Rembang yang menderita tumor kaki untuk sembuh dan mengejar cita-citanya menjadi seorang polisi wanita (Polwan).
Pada hari Selasa (5/7) yang lalu, Kapolri mengakui bahwa Polri belum sempurna dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa, dan negara. “Namun Kapolri berjanji bahwa kepolisian akan terus berbenah. Senantiasa peka dan mendengarkan kritik, masukan, saran kepada Polri, meskipun pahit, akan kami jadikan evaluasi untuk mewujudkan transformasi menuju Polri yang Presisi. Agar Polri semakin dekat dan dicintai masyarakat,” kata Kapolri.
Wajah humanis Polri, Polri terus berupaya mewujudkan transformasi menuju Polri yang Presisi yang merupakan abreviasi dari PREdiktif, responSIbilitas, dan transparanSI berkeadilan. Melalui 16 program prioritas Kapolri.
Program prioritas Kapolri bertujuan menata kelembagaan, perubahan sistem dan metode organisasi menjadi sumber daya manusia (SDM) Polri yang unggul di era police 4.0, perubahan teknologi kepolisian modern, peningkatan kinerja pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, peningkatan kinerja penegakan hukum, pemantapan dukungan Polri dalam penanganan COVID-19, serta pemulihan ekonomi nasional.
Sikap humanis identik dengan keramahan, dan keramahan identik pula dengan peran wanita. Polri tidak hanya diisi oleh polisi laki-laki (Polki) meskipun lembaga penegakan hukum ini menonjolkan tugas bersifat maskulinitas, tetapi wanita pun bisa menyesuaikan, mengisi kebutuhan organisasi menjadi personel Polwan.
Seiring berjalannya waktu peran Polwan sangat dibutuhkan, tidak hanya menjalankan tugas-tugas domestik di organisasi Polri, tetapi juga menjalankan tugas dan fungsi Polri dalam memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan yang humanis.
Harapan Polri lebih humanis, Polri dalam menjalankan tugas dan fungsinya, selain diawasi langsung oleh masyarakat melalui kritikan-kritikannya, juga diawasi oleh pengawasan internal dan eksternal di bawah kendali langsung presiden lewat rekomendasi-rekomendasinya.
Mandat Reformasi Kultural Polri sebagaimana harapan masyarakat adalah untuk menjadi polisi humanis dalam menjalankan tugas-tugasnya. Arahan untuk 3S, yaitu “Senyum, Sapa dan Salam” mulai dilupakan, di lapangan publik melihat polisi-polisi yang kurang ramah, arogan, bahkan masih menunjukkan watak militeristik.
Salah satu problematika dari kondisi ini adalah kurangnya pendidikan untuk bersikap ramah dan melayani. Pola pikir polisi lebih banyak pada penegakan hukum yang mengedepankan ketegasan dan kewibawaan. Oleh karena itu perlu ada review (ulasan) dalam pendidikan kepolisian agar membuka pola berfikir lebih condong pada polisi sebagai pelayan, pengayom, pelindung masyarakat. Saya melihat untuk Binmas sudah menunjukkan wajah humanis. ***

