Kliksumatera.com Lahat —- Menjelang pemilihan Ketua PWI Lahat, satu hal yang paling terasa justru bukan kedewasaan berorganisasi, melainkan bau ambisi yang terlalu menyengat. Banyak yang terburu-buru mengklaim dukungan, memamerkan kekuatan, bahkan seolah sudah memastikan kemenangan, padahal proses demokrasi belum berjalan.
Ini bukan lagi soal visi, tapi soal siapa paling cepat memasang mahkota di kepalanya sendiri. PWI bukan panggung sandiwara untuk mempertontonkan siapa yang paling hebat, paling senior, atau paling berpengaruh. PWI adalah rumah etika dan tanggung jawab profesi. Ketika calon pemimpin lebih sibuk mengamankan citra diri daripada menjaga marwah organisasi, di situlah kita patut curiga: yang dicari jabatan, bukan pengabdian.
Legitimasi kepemimpinan tidak lahir dari teriakan dukungan sepihak, apalagi dari narasi kemenangan yang dibangun sebelum waktunya. Semua itu hanya menunjukkan kegelisahan dan ketakutan akan proses yang jujur. Pemimpin yang benar-benar siap diuji tidak butuh panggung klaim, karena ia percaya pada mekanisme organisasi dan suara anggota.
Ironisnya, ada yang mulai menjadikan organisasi seperti alat pembenaran ego. Ruang kolektif direduksi menjadi arena pembuktian diri. Ini bukan kompetisi sehat, melainkan perlombaan siapa paling berani mendahului takdir. Jika begini caranya, maka PWI sedang diseret dari organisasi profesi menjadi arena politik kecil yang miskin etika.
Perbedaan pilihan adalah keniscayaan. Tetapi ketika perbedaan itu berubah menjadi adu pengaruh dan unjuk kekuatan, kita sedang menelanjangi ketidakdewasaan kita sendiri. PWI seharusnya menjadi teladan demokrasi beretika, bukan contoh buruk bagaimana kekuasaan dikejar tanpa malu.
Untuk para calon Ketua PWI Lahat, perlu diingat: yang dibutuhkan organisasi ini bukan sosok yang merasa paling pantas, melainkan yang paling siap dipertanggungjawabkan. Bukan yang paling percaya diri mengklaim dukungan, tetapi yang paling berani tunduk pada kritik dan evaluasi.
Pemimpin sejati tidak takut diawasi, tidak alergi dikoreksi, dan tidak panik menunggu hasil pemilihan. Justru yang paling ribut biasanya adalah yang paling rapuh secara moral. Karena mereka tahu, tanpa klaim dan narasi besar, yang tersisa hanyalah kapasitas diri yang belum tentu cukup.
PWI tidak membutuhkan pemenang yang lahir dari propaganda, tetapi pemimpin yang lahir dari proses yang bersih. Tidak butuh figur yang gemar mengumumkan kekuatan, tetapi sosok yang siap memikul tanggung jawab saat sorotan sudah tak lagi memujanya.
Maka pertanyaan yang paling tajam untuk para calon bukanlah:
“Berapa banyak yang mendukung saya?”
melainkan, “Apakah saya benar-benar siap jika kelak organisasi ini menuntut lebih dari sekadar ambisi pribadi?” Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bagi PWI bukanlah kekalahan dalam pemilihan, melainkan kemenangan orang yang sejak awal menjadikan organisasi ini hanya sebagai alat legitimasi ego.
Kota raya ditemani sepenggal sisa donat yang dikerubuti semut 26 Januari 2026.
Ndung Dirut Kerbay Mulak/ CIK Novita

