Oleh: Qomariah (Muslimah Peduli Generasi)
Terlebih pembicaraan diplomatik soal Palestina bukan merupakan agenda pertama dan utama. bahkan seperti, sebelum-sebelumnya narasi menjaga perdamaian dunia di Palestina yang sering digembar-gemborkan itu dipastikan hanya akan berakhir sia-sia. semuanya tidak lebih dari basa-basi politik yang tidak berefek pada kehidupan nyata.
Indonesia mengecam keras keputusan sepihak Israel untuk mengambil alih Gaza. pemerintah mendorong solusi dua negara sebagai jalan keluar krisis Palestina -Israel. “Tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat hukum internasional dan piagam PBB yang memperkeruh prospek perdamaian di Timur Tengah dan krisis kemanusiaan di Gaza.”demikian keterangan kementerian luar negeri di akun x resminya. dikutip, kumparanNews, (Sabtu, 9/8/2005).
Sebagaimana ditegaskan oleh mahkamah internasional okupasi Israel atas wilayah pendudukan Palestina adalah ilegal dan Israel tidak memiliki kedaulatan terhadap wilayah penduduk tersebut. Sehingga tindakan apapun yang diambil Israel tidak dapat mengubah status hukum dari wilayah Palestina. “Indonesia mendesak dewan keamanan PBB dan masyarakat internasional mengambil langkah konkret Untuk menghentikan tindakan illegal Israel.”
Terkait Palestina, dukungan dan kesiapan Indonesia untuk memperkuat pasukan perdamaian PBB di sana. ia mengatakan, dukungan tersebut sejalan dengan amanat internasional, untuk memperkuat upaya perdamaian di dunia, khususnya menyangkut bencana kemanusiaan di Gaza.
Tentu saja pernyataan ini direspon positif oleh pendukung PBB, ia menyampaikan berbagai pujian dan apresiasi terhadap konsistensi Indonesia dalam menegakkan perdamaian dan hukum internasional. Sekaligus sebagai mitra yang sangat penting bagi PBB.
Penuh Retorika
Saat berlangsungnya pembicaraan penuh retorika, Palestina press agency yang dikutip kanal telegram GazaMedia merilis kondisi terkini kasus genosida warga Gaza. Disebutkan, bahwa selama 24 jam terakhir, zion*s Laknatullah kembali melakukan serangan brutal yang menarget beberapa keluarga di wilayah jalur Gaza.
Tentu saja, serangan dan kondisi faktual ini luput dari perbincangan kedua pemimpin dunia di tengah KTT G20 tersebut. Terlebih pembicaraan diplomatik soal Palestina bukan merupakan agenda pertama dan utama. Bahkan sebelum-sebelumnya narasi menjaga perdamaian dunia di Palestina yang sering digembar-gemborkan itu dipastikan hanya akan berakhir sia-sia.
Apalagi jika dilihat sejarah dari posisi PBB, tidak bisa dipungkiri sejatinya lembaga ini merupakan perpanjangan tangan kepentingan negara pencipta dan pelindung zion*s. Yakni, Amerika. Wajar jika hingga detik ini kasus Palestina tidak pernah selesai-selesai.
Bahkan serangan demi serangan terus dilancarkan di tengah segala bentuk retorika dan pemimpin dunia, hingga akibatnya daftar korban tidak berdosa terus bertambah dari masa ke masa, umat harus sadar bahwa Palestina telah dijajah sejak 75 tahun yang lalu, dan Gaza menjadi sasaran perluasan wilayah jajahan zion*s.
Umat harus memahami dan mengembalikan pemahaman yang benar tentang penjajahan. Yaitu, penjajahan harus dilawan sampai penjajah disingkirkan dari kependudukan Gaza.
Harus Militer dan Jihad Fii Sabilillah
Apa yang terjadi di Gaza dan Palestina hari ini, hanya akan bisa dibebaskan dengan kekuatan militer dan aktivitas jihad fii sabilillah.
Jihad fii sabilillah hanya bisa dilakukan secara sempurna dengan adanya komando dari seorang Khalifah, yang melaksanakan kewajiban jihad dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda “sesungguhnya imam (Khalifah) adalah perisai (Junnah) yang menjaga dan melindungi umat.”(HR.Muslim).
Bahwa umat Islam harus berjuang untuk mewujudkan adanya sistem Islam (Khilafah), dengan melakukan dakwah berjamaah. yaitu, dakwah ideologis (Islam Kaffah) agar supaya umat Islam paham, sebab untuk membebaskan Gaza dari penjajahan zion*s laknatullah harus dengan kekuatan militer dan jihad fii sabilillah. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawab.

