Oleh : Ummu Umar
Wibawa Indonesia dianggap semakin turun di mata dunia internasional karena utang semakin tak terbendung. Bahkan, utang Indonesia yang semakin besar dianggap sebagai salah satu kriteria kegagalan pemerintah dalam mengelola negara.
Terkait utang Indonesia yang semakin besar, maka ini bisa merupakan salah satu kriteria kegagalan pemerintah mengelola negara,” ujar Direktur Pusat Riset Politik, Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (20/1).
Karena kata akademisi Universitas Sahid Jakarta ini, jika pemerintah benar-benar hebat, maka tidak akan terjadi utang semakin membengkak seperti saat ini. Di mana, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi utang pemerintah per 30 Desember 2022 sebesar Rp 7.733,99 triliun. Jumlah itu mengalami kenaikan sebesar Rp 179,74 triliun jika dibandingkan posisi utang pada bulan sebelumnya yang sebesar Rp 7.554,25 triliun.
“Ini bisa jadi ada salah kelola negara, sehingga utang makin tak terbendung. Dengan banyaknya utang luar negeri maka ini membuat wibawa negara makin turun di dunia internasional,” kata Saiful.
Publik merasa heran mengapa justru utang semakin banyak. Padahal, menurut Saiful, rakyat tidak merasakan signifikansi dengan adanya utang yang semakin membludak.
Justru sebaliknya, akan sangat memberikan efek negatif bagi rakyat, karena pada akhirnya yang akan menanggung ini semua adalah rakyat melalui pajak yang harus dibayar oleh mereka,” pungkas Saiful. Republikmerdeka.
Bertambahnya utang negara telah lama menjadi perbincangan, bahkan setiap tahun jumlahnya semakin bertambah. Indonesia yang terkenal dengan sumber daya alam yang berlimpah seharusnya mampu membayar hutangnya kepada bank dunia.
Namun bank dunia bentukan Amerika Serikat tidak akan mengabulkannya. Karena Indonesia adalah aset bagi Amerika Serikat. Sistem kapitalisme sekuler benar benar telah menjerat indonesia ke dalam proyek penjajahan barat, yaitu penjajahan sistematis. Penjajahan Amerika terhadap Indonesia dan dunia islam bukan hanya pada aspek politik dan ekonomi. Tapi sudah merambah pada semua aspek kehidupan.
Sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan di Indonesia benar benar telah mengakar (radikal) dan menentukan arah kebijakan negara. Baik kebijakan yang terkait dengan persoalan dalam negeri maupun kebijakan untuk persoalan luar negeri. Tentu kita dapat merasakan bagaimana rusaknya moral generasi, korupsi yang semakin menjadi, stunting, kemiskinan, kerusakan alam dan sejumlah persoalan yang terus melanda negeri ini.
Banyak pihak telah menyadari bahwa ada kesalahan dalam pengelolaan urusan negara, kebijakan yang salah arah membuat negara tidak berdaya dan kehilangan wibawa.
Berbagai program yang diluncurkan pemerintah seolah menambah buruk kondisi yang sudah terpuruk. Para pengamat politik, pengamat ekonomi, para politisi masih berputar pada solusi ekonomi kapitalis yang semakin bengis.
Islam adalah sebuah agama dan aturan hidup yang diturunkan Allah SWT untuk semua umat manusia. Tidak ada diskriminasi didalamnya, Islam akan menjadi rahmat jika diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak ada yang mengambil keuntungan dari penerapan hukum hukum Allah SWT. Negara akan melaksanakan hukum sesuai dengan Alquran dan alhadits, tidak ada intervensi di dalamnya.
Islam mampu memimpin dunia dan memberikan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Dalam Al Quran Surat Al Anbiya ayat 107, Allah SWT juga berfirman mengenai rahmatan lil alamin
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Artinya: Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.
Ketika Islam berkuasa dan semua aturan Allah SWT diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, Islam mampu memberikan kebaikan, rahmat dan keberkahan serta keredhoan Allah SWT bagi seluruh umat manusia (muslim dan nonmuslim) termasuk tumbuhan, hewan, dan alam semesta.
Ideologi kapitalisme sekuler yang menguasai dunia saat ini telah memberikan keburukan, kerusakan, kemurkaan dan azab Allah SWT.
Oleh karena itu, apabila kita menginginkan negara yang mandiri, bebas intervensi, islam adalah jawaban yang tepat. Namun penerapan islam membutuhkan sebuah institusi pemerintahan yang dikenal dengan nama Khilafah. Insya Allah. Wallahualam bishawab.

