Kliksumatera.com Lahat — Potret kemiskinan ekstrem kembali terlihat di Kabupaten Lahat. Seorang ibu berusia sekitar 55 tahun, warga Talang Jawa Selatan sebagaimana tercantum dalam KTP-nya, terpaksa hidup terlantar dan tidur di emperan toko di sekitar Jalan Mayor Ruslan.
Saat diwawancarai Awak media, ibu tersebut mengaku tidak memiliki tempat tinggal dan sudah lama hidup menggelandang. Demi bertahan hidup, ia bahkan pernah berkeliling mengemis hingga ke Lubuklinggau dan Pulau Bangka.
“Dulu saya keliling ngemis ke Linggau, bahkan sampai ke Bangka. Tidak ada satu pun yang peduli,” tuturnya lirih sambil menahan tangis.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan pilihan. Menurutnya, jika ada bantuan atau perhatian, ia tidak akan mengemis dari satu daerah ke daerah lain
“Kalau dapat bantuan, ngapain saya ngemis ke sana kemari,” ujarnya.
Ironisnya, ibu tersebut mengaku sudah tidak lagi menyimpan harapan kepada pemerintah. Baginya, perhatian yang seharusnya hadir justru tak pernah dirasakan.
Kondisi ini menjadi tamparan keras terhadap amanat Pasal 34 UUD 1945 yang menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Awak media kemudian mencoba mengonfirmasi permasalahan ini kepada Lurah Talang Jawa Selatan, Wlly Andreas SE. Namun saat dihubungi, yang bersangkutan hanya menjawab singkat.
“Saya lagi sibuk, saya lagi rapat,” ujarnya, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
Kasus ini menimbulkan keprihatinan mendalam sekaligus mempertanyakan sejauh mana peran pemerintah daerah dalam memastikan tidak ada warganya yang hidup terlantar di negeri sendiri.
Laporan wartawan Novita

