Oleh: Rizkika Fitriani
Harga rumah terus merangkak naik dari waktu ke waktu. Masyarakat yang memerlukan rumah pun harus merogoh kocek dalam. Rata-rata budget yang perlu disiapkan untuk menebus rumah pun sudah mencapai miliaran.
“Budget orang Indonesia Rp 1-2 miliar paling banyak, di atas itu tergolong niche, di atas Rp 5 miliar lebih niche lagi,” ungkap Director Research & Consultancy Services Leads Property Martin Samuel Hutapea dalam Property Market Outlook 2023 dikutip (cnbcindonesia, 1/12/2023).
Dengan harga rumah yang melambung tinggi, membuat masyarakat yang ekonominya menengah kebawah hanya bisa gigit jari. Sangat tidak masuk akal rakyat yang membutuhkan ruang hidup namun di persulit oleh negara sendiri.
Inilah permainan para kapitalis yang hanya memikirkan untung dan rugi tanpa memperdulikan kepentingan masyarakat.
Bahkan mereka berkhianat yang katanya dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, namun faktanya, disini rakyat semakin sengsara, aturan saat ini tidak berpihak pada rakyat.
Apakah mereka menutup mata atau bahkan hatinya sudah buta ketika melihat banyak rakyat yang sengsara tidak mempunyai rumah yang layak, bahkan sangat menyedihkan ketika masih ditemukan orang-orang yang tinggal hidup dijalan tanpa rumah (tunawisma).
Sedangkan para penguasa di negeri ini sibuk berfoya-foya dan menggelontorkan dana demi mementingkan berbagai proyek seperti pembangunan infrastruktur kota yang notabennya jauh dari kata urgent.
Di sisi lain rakyat dibebankan dengan berbagai pajak yang mencekik, akibat dari hutang riba luar negeri yang menggunung.
Alih-alih memiliki rumah sendiri, masyarakat juga dihampiri berbagai persoalan biaya hidup, seperti sandang pangan dan papan yang semakin mahal, alhasil rakyat hanya pasrah, meratapi nasib yang kian menderita dibawah cengkraman para penguasa saat ini.
Belum lagi konflik lahan antara aparat setempat dan juga masyarakat, karena banyaknya lahan yang dirampas digunakan untuk kepentingan para kapitalis dan investasi asing, akibatnya lagi lagi rakyat yang jadi korban sedangkan mereka malah memberi ruang dan melengangakan pihak asing menguasai kekayaan negeri ini.
Jika persoalan ini terus dibiarkan, lama kelamaan akan menimbulkan kerusakan, akibatnya berbagai tindak kriminalitas hingga depresi karena tidak sanggup menahan sulitnya tekanan ekonomi akhirnya terjerat pinjaman riba bahkan yang paling parah jual diri.
Ditambah lagi mereka yang tidak terinstal tsaqofah Islam akan sangat mudah mengalami rapuhnya iman, akhirnya tak memandang lagi halal dan haram, masalah ini akan terus bergelut bak lingkaran setan apabila sistem kapitalis tetap menjadi kiblat umat.
Satu-satunya solusi yang mampu menuntaskan segala persoalan dan menjamin kesejahteraan dan keadilan umat yakni dengam sistem Islam.
Jika sistem Islam telah diterapkan, tentu Islam akan memberikan kebutuhan masyarakat, terutama sandang, pangan, dan papan, karena ini merupakan kewajiban yang harus diberikan oleh negara.
Dengan upaya meluaskan lowongan pekerjaan, dengan upah yang lebih dari cukup agar tercapai pemenuhan kebutuhan hidup. Selain itu, kebutuhan masyarakat juga tidak dibebankan dengan biaya yang tinggi, justru dengan biaya yang bisa dijangkau atau harga yang murah karena ini merupakan tanggung jawab negara.
Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda: “Imam (khalifah) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas (urusan) rakyatnya,” (HR. al-Bukhari) .
Untuk itu umat harus bangkit dan bersatu, agar layak untuk menerima pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.
Wallahu a’lam bishawab

