Oleh: Diana Wijayanti
Air mata ini tak kuasa jatuh, dada pun menjadi sesak menyaksikan kebiadaban tentara Israel terhadap kaum Muslim di Palestina. Hingga kini, Rabu (12/5/2021) bentrok masih berlangsung di sana.
Roket-roket Israel memecah langit kawasan Al Aqsha, dikabarkan 20 orang muslim syahid dalam bentrok ini. Salah satu komandan Hamas tewas dan 9 anak-anak turut menjadi korban yang menyayat hati.
Sekitar 331 warga Palestina terluka, menurut keterangan Bulan Sabit Merah Palestina, dalam bentrok Israel dan Palestina di Masjid Al-Aqsa pada Senin (10/5/2021).
Insiden ini, menuai kecaman dari segala penjuru dunia, baik negeri-negeri muslim maupun negara besar dunia. Amerika Serikat (AS), Rusia, Uni Eropa, dan PBB mengungkapkan keprihatinan mendalam atas ketegangan di sana.
Pertanyaannya apakah cukup bagi seorang muslim melihat darah saudaranya tertumpah di tanah suci Masjidil Aqsha, di Bulan suci Ramadhan, hanya dengan kecaman, mengumbar kata-kata tanpa makna, tak berbuat apa-apa?
Tidakkah darah para tentara muslim bergolak dan mendidih menyaksikan kebiadaban tentara Israel?
Warga Palestina hanya berbekal batu, harus berhadapan dengan tembakan peluru karet, granat dan roket. Rakyat tanpa senjata harus berhadapan dengan senjata lengkap tentara.
Sungguh tak sebanding pertempuran itu. Bila terus dibiarkan, tanpa ada bantuan dan balasan dari tentara kaum muslimin yang lain, tentu dunia akan menyaksikan pembantaian massal abad 21.
Wahai tentara muslim, yang sangat masyur ‘tak pernah terkalahkan’. Musuh-musuh Allah telah mengakui hal itu. Mereka iri melihat keberanianmu berjihad di medan tempur. Singsingkan lengan baju, majulah membela kaum muslim Palestina.
Sungguh, Rasulullah SAW telah memberi teladan bagaimana sikap seorang muslim terhadap penderitaan saudaranya.
Demi membela seorang wanita, yang dilecehkan oleh seorang Yahudi Bani Qainuqa, Rasulullah SAW mengerahkan pasukan lengkap untuk membalas perlakuan itu. Meski karena permohonan Abdullah bin Ubay bin Salul mereka tidak diperangi, namun diusir dari Madinah.
Pun khalifah sesudah Rasulullah SAW, mereka melanjutkan penjagaan terhadap kaum muslimin ini sedemikian rupa. Seorang khalifah, Muktasim Billah memutuskan memerangi bangsa Romawi yang telah melecehkan seorang muslimah.
Pasukannya mengular dari ibukota Daulah Islam hingga Kota Amuria. Hingga akhirnya kota Romawi tersebut bisa ditaklukkan.
Begitulah nenek moyang tentara Islam. Mereka adalah garda terdepan dalam membela kaum muslimin. Meskipun pada waktu itu belum tertumpah darahnya, baru dilecehkan saja mereka segera membelanya dengan pengiriman pasukan terbaik.
Sementara, di Masjid Al Aqsha, darah 20 orang muslim sudah tertumpah dan ratusan orang terluka. Tidaklah tergerak sedikit pun hati tentara muslim untuk menolongnya?
Ya, apalah daya, kaum muslimin kini telah terpenjara oleh sekat-sekat nasionalisme sehingga tidak bisa merasakan penderitaan saudaranya di negeri lain. Merekapun memiliki pemimpin-pemimpin yang merupakan antek atau pelayan setia negara penjajah yang sangat mendukung Israel.
Kemana lagi kaum muslimin berharap? Apakah PBB akan bersikap adil?
PBB adalah tangan kanan negara-negara besar dunia yang sangat mendukung Israel, maka mustahil menggantungkan harapan kepadanya. Sudahlah, jangan pernah tertipu dengan ucapan manis para penjajah, ada Dewan Keamanan Dunia.
Fakta telah membuktikan bahwa PBB tidak akan pernah berpihak kepada kaum muslimin. Lihat genosida yang terjadi di Bosnia-Herzegovina, Kashmir, Suriah, Rohingya, Uighur, dan sebagainya.
PBB seperti singa ompong atas penderitaan kaum muslimin. Oleh karena itu sadarilah, wahai kaum muslimin dan para tentara muslim. Di pundak anda Gaza berharap, dipundak anda Palestina menanti.
Wahai para tentara muslim segera berikan nushrah kepada H1zbut T4hrir yang konsisten berjuang menegakkan khilafah dan segeralah angkat seorang Khalifah. Hanya seorang Khalifah yang mampu mengomando pasukan Islam melakukan pembalasan yang setimpal atas kebiadaban Israel.
Hanya Khilafah yang mampu membebaskan Palestina dari penjajahan Israel. Sebagaimana tanah suci itu dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Sampai keberkahan meliputinya.
Ketika muncul serangan pasukan salib tanah Palestina pun jatuh ke tangan pasukan Salib. Penderitaan muncul kembali.
Namun tak lama sesudah itu Salahudin Al Ayyubi berhasil menaklukan Palestina mengembalikan tanah kaum muslimin itu ke pangkuan Islam hingga kekhilafahan itu runtuh pada tahun 1924.
Sejak saat itu duka, lara, nestapa menghiasi nasib kaum muslimin Palestina sampai sekarang. Bangsa Israel telah merampas hak kaum muslimin, mereka menjajah, membunuh dan mengusir dari rumahnya.
Sebagaimana yang terjadi saat ini, penggusuran rumah warga Palestina terus terjadi, pelarangan ibadah kaum muslimin di Masjidil Aqsha terus dilakukan. Sementara kaum muslimin ingin menggapai malam Lailatul Qadr di masjidil Aqsha yang sangat diberkahi.
Akhirnya, bentrok pertama terjadi pada hari Jumat (7/5/2021). Pada saat tarawih tentara Israel berulah, menimbulkan kerusuhan hingga 200 lebih jama’ah yang terluka. Bentrok itu terus bernjut berlanjut hingga saat ini.
Duhai Allah, turunkan pertolongan-Mu dengan tegaknya Khilafah Rasyidah ‘ala min Hajinnubuwah. Dengannya, syariah Islam secara kaffah akan diterapkan, denganya kaum muslimin akan dilindungi dan dibela, dengannya seluruh negeri di dunia ini akan diserukan Islam, dakwah dan jihad. Tragedi Palestina hanya Khilafah solusinya. Wallahu a’lam bish shawab.

