Oleh: Sari Ramadani (Aktivis Muslimah)
“Jalan-jalan ke Surabaya
Singgah sebentar ke Jakarta
Belum usai virus corona
Datang pula varian barunya”
Sungguh miris memang melihat negeri ini. Virus corona belum tuntas, malah datang varian barunya yang dikenal dengan virus B117. Varian baru dari virus corona B117 ini pertama kali terdeteksi pada September 2020 di Inggris kemudian telah menyebar di lebih dari 100 negara termasuk juga Indonesia.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menemukan empat kasus baru hasil mutasi virus B117 asal Inggris.
Lebih lanjut, empat kasus virus B117 itu yakni, di Palembang, Sumatera Selatan pada 11 Januari, Kalimantan Selatan pada 6 Januari, 1, Balik papan, Kalimantan Timur pada 12 Februari dan Kota Medan, Sumatera Utara 28 Januari.
Sementara menanggapi adanya temuan virus B117 di Sumatera Utara, Kadinkes Sumatera Utara, Alwi Mujahit, tidak membantah adanya kemungkinan dugaan temuan virus B117 asal Inggris itu ada di Sumut.
Dalam upaya pencegahan Virus Corona B117, Alwi meminta agar masyarakat untuk tetap menjalankan 5 M dan vaksinasi. Ia pun meminta kepada masyarakat untuk tidak panik. (waspada.co.id, 11/03/2021).
Berkaca dari kasus sebelumnya, pemerintah tetap saja santai bahkan abai dalam memutus mata rantai penyebaran virus yang semakin cepat dan ganas. Tak heran memang, mengingat Ideologi kapitalisme-sekuler yang diterapkan sehingga setiap kebijakan yang dikeluarkan selalu pragmatis dan tidak memberikan solusi tuntas bagi setiap permasalahan.
Dari sistem ini pula orang-orang yang tak punya kapabilitas dapat duduk di bangku kekuasaan. Maka wajar jika virus corona tak tuntas sampai detik ini hingga melahirkan varian baru sehingga rakyatlah yang menjadi korban. Padalah orang-orang yang duduk di bangku kekuasaan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka.” (HR Abu Dawud)
Hal ini sangat berbeda jauh pada sistem Islam. Penguasa akan fokus dalam mengatasi wabah hingga tuntas. Dalam sistem Islam, kesehatan adalah tanggung jawab penguasa. Penguasa tak akan menyerahkannya pada swasta sehingga penguasa akan mendukung sepenuhnya penelitian untuk mendapatkan vaksin yang terbukti ampun.
Tak hanya itu, penguasa pada sistem Islam pun akan menggandeng para pakar yang sudah terbukti ahli dalam bidangnya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada sehingga tak akan muncul varian baru dari virus yang sedang beredar.
Dalam sistem Islam, penguasa dan rakyat pun saling berjibaku menyelesaikan virus yang ada dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Tak main-main, dalam sistem Islam pun pemerintah memberikan tugas kepada aparat untuk menghukum siapa saja yang melanggar aturan, seperti menciptakan kerumunan baik itu rakyat biasa atau pejabat sekalipun, semua mendapat perlakuan yang sama.
Untuk itu, masihkah kita ragu pada sistem yang berasal dari Allah SWT? Tak inginkah kita hidup tenang dan terbebas dari wabah? Lantas, adakah solusi tuntas yang ditawarkan sistem hari ini?
Wallahualam bissawab.

