Kliksumatera.com Lahat — Debu- oh debu, jadi santapan sehari-hari, polusi udara kian menjadi itulah yang dirasakan warga masyarakat di Merapi Area. Semenjak adanya keberadaan aktifitas penambangan, stock file dan Stasiun Banjarsari sebagai jalur Batu bara di jantung Desa Arahan hanya berjarak puluhan meter saja. Menambah penderitaan masyarakat secara umum dengan kondisi jalan yang selalu di penuhi debu.
Saat disiram hujan atau penyiraman oleh tangki tambang debu menumpuk menjadi satu, bila dimusim kemarau debu beterbangan semakin merajalela. Sementara pihak tambang seakan menutup mata dengan permasalahan ini. Juga disayangkan pihak DLH Kabupaten Lahat atau pihak terkait lamban tidak ada tindakan membuat permasalahan berkurang dan bahkan kian hari semakin parah.
Ali Hasmi tokoh masyarakat Desa Arahan meradang dengan kondisi Desanya semakin hari semakin memprihatinkan Kepada Awak Media Jumat 27 Juni 2025 ” Jika perusahaan tidak mengambil langkah-langkah pengendalian debu yang memadai, pekerja berisiko mengalami gangguan pernapasan, iritasi mata dan kulit, serta penyakit paru-paru jangka panjang seperti silikosis atau kanker paru-paru. Selain itu, debu yang berlebihan juga dapat mencemari lingkungan air dan udara.
Belum lagi dampak yang ditimbulkan sering terjadinya macet panjang, pernah terjadi pada awal November 2024 dari pukul 11 malam antrian panjang ribuan kendaraan tak bisa bergerak hingga kondisi kembali normal pukul 09:30 wib esok harinya, sementara supir batu bara ugal- ugalan tanpa memikirkan keselamatan pejalan kaki atau pengguna kendaraan lainnya.
Lanjut Ali Hasmi mirisnya lagi warga Desa Arahan memang dikasih Kompensasi debu tapi jumlah yang tidak seberapa Rp 30.000 ( tiga puluh ribu rupiah) dibayar tiga bulan sekali, dan dikasihkan kewarga pilih- pilih, sedangkan dampak negatif debu tidak pandang bulu.
saya berpesan kepada Perusahaan yang ada di Wilayah Merapi Area terutama di Desa Arahan harus benar memperhatikan kesehatan dan keselamatan kami, tolonglah Kompensasi itu yang wajar dan terpenting paling utama dititik beratkan, bagaimana mengatasinya polusi debu. Kami bukan tidak menerima keberadaan Perusahaan di Desa Arahan Silahkan, tapi pikirkan juga nasib masyarakat” tandas Tokoh masyarakat Merapi Timur mengakhiri obrolannya pada Awal Media.
Sementara berita ini ditayangkan, pihak Perusahaan terkait belum bisa di memberikan jawaban
Laporan Novita

