Oleh : Eci Anggraini, Pendidik Palembang
Serangan udara Israel di Jalur Gaza kembali menewaskan puluhan warga Palestina, termasuk mereka yang sedang mengantre bantuan makanan, di tengah krisis kemanusiaan yang makin memburuk. Kekerasan yang terjadi sejak Minggu (30/6/2025) telah menewaskan sedikitnya 68 orang.
Sebanyak 47 korban jiwa tercatat di Gaza City dan wilayah utara Gaza, termasuk lima orang yang tewas saat mendekati pusat distribusi bantuan makanan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) di utara Rafah. Organisasi ini merupakan lembaga bantuan yang didukung Israel dan Amerika Serikat, namun telah menjadi sorotan karena lokasi distribusinya sering kali menjadi titik tembak militer Israel. (CNBC INDONESIA, Senin, 30/06/2025).
Jika dunia menyaksikan bahwa genosida yang terjadi di Gaza dan Palestina adalah masalah kemanusiaan, bagi kaum muslim tidak demikian. Ini bukanlah urusan kemanusiaan atau pengusiran tanah kelahiran semata, tetapi pembersihan warga muslim di Palestina.
Zion*s tampaknya tidak puas jika sehari saja tidak membunuh warga sipil dan anak-anak. Mereka tidak lagi menyasar kamp-kamp militer, tetapi membunuhi anak-anak, perempuan, kaum renta, tenaga kesehatan, jurnalis, dan relawan kemanusiaan. Mereka tidak peduli kutukan atau kecaman dunia. Meski seluruh dunia menghujat, Zion*s bergeming. Mereka sangat percaya diri meski dinobatkan sebagai penjahat perang dan teroris. Ini karena di belakang mereka ada AS yang siap pasang badan untuk membela dan melindunginya. Terbukti, dalam pemungutan suara yang digelar pada Rabu (4-6-2025), AS memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera di Jalur Gaza dan dibukanya akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan di wilayah tersebut.
Meski masyarakat terus bergerak dan menunjukkan pembelaan, penguasa dunia tetap diam, bahkan penguasa negeri muslim masih terus bergandengan tangan dengan penjajah Zion*s. Tanpa rasa malu dan bersalah, mereka menjaga jarak dan perbatasan demi mengamankan kepentingannya bersama AS. Sekat-sekat nasionalisme telah meruntuhkan ikatan akidah Islam di antara penguasa muslim. Palestina dibiarkan berjuang sendiri, mati dalam kelaparan, dibombardir tanpa bantuan tentara militer negeri-negeri muslim.
Betapa pahitnya nasib kaum muslim. Gelar sebagai umat terbaik seakan tercerabut sedalam-dalamnya akibat sekat imajiner bernama nasionalisme. Para penguasa muslim itu harusnya malu melihat masyarakat nonmuslim yang rela menempuh perjalanan panjang demi ingin membuka blokade Zion*s. Namun, nyatanya mereka justru berkhianat dan menjadi duri dalam daging umat. Kuatnya cinta pada kedudukan dan kekuasaan membuat para penguasa negeri muslim buta mata dan hatinya serta lalai akan hubungan persaudaraan iman. Penyakit wahn telah bersarang dalam tubuh penguasa negeri muslim.
Sebagaimana dikisahkan dari Tsauban radiyallahu ‘anhu, pada satu kesempatan Rasulullah ﷺ bersabda, “Hampir saja para umat (musuh-musuh Islam, pen.) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring.” Mendengar hal tersebut, kemudian salah seorang sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jumlah kami pada saat itu sedikit?”
‘’Bahkan, jumlah kalian pada saat itu banyak,” jawab Rasulullah ﷺ. “Akan tetapi, ketika itu kalian bagai buih yang dibawa oleh air. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian penyakit wahn.” Dengan penuh rasa penasaran lalu sahabat yang lain pun bertanya, “Apa itu wahn, wahai Rasulullah?” Rasululllah berkata, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278).
Persoalan Palestina adalah persoalan seluruh umat Islam sedunia. Bangkit dan hancurnya Palestina merupakan tanggung jawab kita bersama dalam menanggung beban tersebut. Melalaikan Palestina sama halnya melalaikan tugas dalam menjaga kesucian Al-Aqsa. Mendiamkan Zion*s dan berpangku tangan atas pembantaian dan penjajahan yang menimpa saudara kita adalah pengkhianatan yang teramat berat hisabnya. Rasulullah bersabda, “Perumpamaan kaum muslim dalam urusan kasih sayang dan tolong-menolong bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan hingga tidak dapat tidur dan (merasa) panas.” (HR Bukhari Muslim)
Jadi, urusan Palestina harus terselesaikan di tangan kaum muslim sendiri, yakni bersatunya umat dalam satu kepemimpinan sahih yang akan menggerakkan tentara militer untuk menyerukan jihad hingga Palestina kembali ke pangkuan kekuasaan Islam. Aktivitas ini hanya bisa dilakukan oleh seorang khalifah (kepala negara Islam) dalam institusi negara Khilafah. Bukan perintah penguasa negara bangsa yang hanya bisa mengecam, berdiplomasi sambil basa basi tanpa memberi solusi pasti. Umat juga tidak perlu berharap pada PBB atau lembaga perdamaian sejenis karena sejatinya mereka hanyalah pion bagi AS dan sekutunya.
Umat harus memahami persoalan Palestina bukan sekadar urusan kemanusiaan dan krisis kelaparan. Lebih dari itu, ini adalah urusan kaum muslim dan terpecah belahnya umat di bawah bendera nation state yang dibuat oleh penjajah Barat. Yang dibutuhkan Palestina adalah pengiriman bala militer untuk mengusir penjajah Zion*s karena bangsa laknat tersebut hanya bisa ditundukkan dengan bahasa perang melalui jihad fi sabilillah.
Atas dasar itu, kebutuhan akan hadirnya Khilafah sebagai perisai umat harus terus digaungkan oleh mereka yang benar-benar tersadar, yaitu para pengemban dakwah yang memahami bahwa akar masalah Palestina adalah penjajahan dan solusinya hanya dengan jihad dan Khilafah, bukan yang lain. Dalam kitab Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir hlm.134—135, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan, “Sedangkan kaitan Timur Tengah dengan institusi Yahudi yang ditanam di Palestina maka negara itu telah menjadi poros masalah Timur Tengah dan menjadi penyebab ketakstabilan. Tidak hanya di Timur Tengah, melainkan juga di seluruh dunia. Hal itu karena orang Barat sendiri mengakui bahwa 90% masalah dunia yang menyusahkan Barat disebabkan adanya negara Yahudi di Palestina yang merupakan jantung Dunia Islam. Adapun kaitan Timur Tengah dengan penjajahan, jelas bahwa penjajahan telah menimbulkan penderitaan bagi Timur Tengah, telah menghilangkan sifatnya sebagai negara adidaya dan kekuatan global, dan telah mengubahnya menjadi negara-negara jajahan Barat tempat negara-negara Barat bersaing untuk menjajah dan memperluas pengaruhnya. Masalah Timur Tengah adalah masalah yang teramat rumit untuk dapat diselesaikan dan masalah yang teramat besar untuk dapat diselesaikan oleh sebuah negara besar. Jadi masalah ini adalah masalah yang rumit lagipula sangat kompleks. Tidak ada negara adidaya yang mampu mengatasinya. Masalah Timur Tengah ini tidak akan pernah dapat diselesaikan kecuali dengan berdirinya negara Khilafah Islam.”
Para pengemban dakwah harus mengembalikan gelar umat terbaik yang diberikan Allah Taala dengan membangkitkan pemahaman Islam umat secara menyeluruh. Harus diingat bahwa kemunduran kaum muslim mulai tampak tatkala mereka meninggalkan dan meremehkan ajaran-ajaran agama, membiarkan peradaban asing masuk menyerbu negeri-negeri mereka, dan membiarkan paham-paham Barat bercokol dalam benak mereka. Kemunduran itu terjadi pada saat kaum muslim mengabaikan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) Islam.
Patut diperhatikan bahwa usaha mengemban qiyadah fikriyah ini—yaitu dengan cara menyebarluaskan dakwah Islam—adalah dalam rangka membangkitkan kaum muslim. Ini karena hanya Islamlah satu satunya yang bisa memperbaiki dunia ini. Di samping itu, kebangkitan yang sebenarnya tidak akan tercapai kecuali hanya dengan Islam, baik untuk kaum muslim maupun bagi bangsa yang lain.
Oleh karena itu, mengemban dakwah Islam membutuhkan sikap terus terang dan keberanian, juga kekuatan dan pemikiran. Menentang setiap perkara yang bertentangan dengan ide maupun metode. Menghadapinya dengan cara menjelaskan kepalsuannya, tanpa melihat lagi hasil dan kondisi yang ada. Demikianlah yang disampaikan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam hlm.90.
Upaya untuk membangun kesadaran umat melalui dakwah dapat dilakukan dengan mengoptimalkan tiga aktivitas, yakni:
- Pembinaan umum dan intensif, yakni mengkaji pemikiran Islam dan pentingnya Islam sebagai jalan hidup bagi seorang muslim.
- Membongkar makar dan propaganda penjajah dan musuh Islam agar umat memiliki kewaspadaan dan tidak mudah teperdaya oleh narasi yang mereka kampanyekan. Hal ini bisa kita lakukan dengan meluaskan pemikiran dan opini Islam melalui tulisan, media sosial, berinteraksi dengan masyarakat secara langsung, dan konten-konten dakwah yang dapat mengaktifkan kesadaran umat.
- Berdakwah amar makruf nahi mungkar tanpa kekerasan. Membentuk kesadaran dan kristalisasi akidah Islam dalam diri individu muslim adalah dengan mengajak berpikir menyeluruh bahwa Islam adalah ideologi yang memiliki pandangan khas tentang alam, manusia, dan kehidupan yang mampu menyelesaikan seluruh problematik kehidupan.
Upaya ini tidak cukup dilakukan oleh individu pengemban dakwah, tetapi dibutuhkan pergerakan dakwah yang rapi dan kukuh oleh jemaah dakwah ideologis yang berjalan mengikuti metode dakwah Rasulullah ﷺ. Jemaah dakwah ideologis harus hadir di tengah-tengah umat untuk menjelaskan dan memahamkan kerusakan kepemimpinan sistem sekuler kapitalisme, juga pentingnya persatuan dan kesadaran bersama dalam menerapkan sistem Islam secara kafah dalam naungan negara Khilafah.
Selain itu, para pengemban dakwah harus terus menjaga keistikamahan melaksanakan dakwah sesuai metode Rasulullah ﷺ, meningkatkan kemampuannya dalam membangun kesadaran umat, juga menguatkan hubungan dengan Allah agar pertolongan Allah segera datang hingga Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya dapat dibebaskan dari penjajahan. WalLâh a’lam bi ash-shawâb.

