Oleh : Sindi Laras Wari (Aktivis Dakwah Muslimah)
Mustafa Kemal Attaturk seorang tokoh dari Turki, yang namanya akan disematkan pada sebuah jalan di Jakarta. Pantaskah namanya diabadikan disebuah negara dengan penduduk yang mayoritasnya Islam? Kita bisa lihat melalui sejarahnya yang sangat kontroversial.
Kedatangan Presiden Turki, Erdogan, tahun depan ke Indonesia akan menjadi ajang peresmian nama jalan di Jakarta yang akan diganti menjadi nama Ataturk. Pergantian nama jalan tersebut diusulkan oleh duta besar Indonesia untuk Ankara, Muhammad Iqbal. Wacana ini pun menuai banyak kontroversi di kalangan masyarakat, terutama umat Islam (detiknews.com, 15/10/2021).
Wacana penggantian nama salah satu jalan yang berada di Jakarta dengan menyematkan nama Mustafa Kemal Attaturk merupakan suatu fenomena yang banyak disoroti sehingga menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak. Pergantian nama jalan tersebut diusulkan oleh duta besar Indonesia untuk Ankara, Muhammad Iqbal.
Fenomena kontroversial seperti ini menjadi bukti bahwa ketidaktahuan negara terhadap fakta sejarah Mustafa Kemal Attaturk Laknatullah, yang telah menghancurkan Islam dengan menerapkan beberapa aturan sekuler, seperti menggantikan masjid Hagia Sophia menjadi museum, mengganti adzan berbahasa Arab dengan bahasa lokal, melarang jilbab dipakai di sekolah.
Seharusnya umat Islam itu sendiri mengetahui sejarah penting yang sangat menyayat hati. Dialah Mustafa Kemal Attaruk Laknatullah yang telah memborbadir ajaran umat Islam. Dialah yang telah menjauhkan kehidupan masyarakat Turki dengan agama Islam, menurutnya hal seperti itu akan memajukan Turki. Nama jalan dengan menyematkan nama tokoh yang memiliki pemikiran dan perbuatan yang sangat sekuler seperti itu akan sangat meresahkan umat Islam di negeri ini.
Padahal tertulis di dalam Al Quran syariat Islam tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(TQS. Al-Ahzab [33]:59).
Hal tersebut menjadi bukti nyata pengkhianatan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Attarturk.
Akan lebih baik kita menyematkan nama jalan tersebut dengan tokoh-tokoh yang lainnya. Seperti Ibnu Sina dia ulama dan juga sebagai ilmuan yang dikenal dengan Bapak Kedokteran Modern. Nama Sultan Turki Usmani yang mampu memimpin umat Islam dengan peraturan Islam dan mampu menyejahterakan 2/3 dunia. Tengku Syekh Tuan di Bitai seseorang yang dikirim oleh kekhilafahan turki untuk membantu Indonesia dalam memerangi penjajah yang ada di Negeri ini, juga dikirimkan ulama beserta guru untuk menerangi masyarakat Aceh dengan ilmunya.
Maka, sudah seharusnya kita melek terhadap sejarah yang sebenarnya. Siapa Kemal Ataturk Laknatullah yang sangat berani mengacaukan ajaran agama Islam yang sesungguhnya. Dan penggantian nama jalan tersebut tidak dapat dihormati dengan alasan apapun.
Wallahualam Bissawab.

