Oleh : Mutiara Aini
Sudah tak asing lagi hari ini banyak generasi muda yang mengalami krisis moral. Data Unicef tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa kekerasan kepada sesama remaja di Indonesia diperkirakan mencapai 50%.
Tak hanya itu, kekerasan remaja pada orang tua dan guru juga tampak ramai akhir-akhir ini. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumsel ditangkap polisi lantaran menusuk ustaznya, Bambang Setiawan (29). Pelaku berbuat nekat karena tidak terima sering dimarahi. Aksi tersebut terjadi pada Rabu (31/8/2022) sekitar pukul 15.00 WIB. Akibat aksinya, Bambang Setiawan harus menjalani 50 jahitan yang terdiri dari 30 jahitan di bahu dan 20 jahitan di tangan.
Sungguh, merasa prihatin melihat kondisi para remaja dan pemuda hari ini. Banyak anak muda kita terpapar krisis moral. Suul adab dan senang melakukan kekerasan. Hal ini merupakan salah satu penyakit akhlak yang kini menjangkiti sebagian remaja di Tanah Air.
Kebobrokan etika anak muda di era milenial saat ini, seolah tak memiliki hati nurani di tengah berbagai musibah yang menimpa negeri ini.
Menyikapi berbagai potret buram perilaku-perilaku menyimpang para remaja tersebut, tebersit pertanyaaan “Siapa yang harus bertanggung jawab?”
Buah dari Sistem Liberalisme
Krisis moral yang dialami khususnya remaja merupakan masalah yang telah meluas dan harus segera diselesaikan, karena dapat mengancam masa depan kehidupan mereka sendiri serta masa depan bangsa dan juga mempengaruhi anak-anak kecil yang sekarang lebih suka meniru para remaja.
Semua ini akibat dari sistem dan peradaban sekuler liberal. Dimana sistem ini didominasi oleh kapitalis yang menjadi kan beban bagi pemuda. Generasi muda hanya diarahkan bagaimana meraih materi sebanyak-banyaknya. Sehingga peran mereka tergerus oleh sistem yang serba kapitalistik. Ditambah tumpulnya pemikiran mereka. mudah termakan narasi-narasi negatif yang menambah beban bagi kebangkitan Islam. Seperti radikalisme, pluralisme, sekularisme, liberalisme, dan lainnya. Hingga akhirnya jiwanya kering jauh dari pemikiran yang benar.
Semestinya potensi pemuda sebagai pelopor perubahan diberdayakan untuk membangun peradaban Islam.
Islam Melindungi Generasi Muda
Krisis moral ini merupakan permasalahan yang cukup kompleks yang harus sesegera mungkin di tangani dengan penanganan yang tepat
Adapun faktor penyebab krisis moral di kalangan anak muda yaitu: Faktor keluarga(keluarga tidak harmonis) dan pengaruh lingkungan dan media massa.
Solusi yang dapat kita terapkan dalam mengatasi krisis moral di kalangan anak muda yaitu:
Pertama, menanamkan pendidikan karakter sejak dini. Karena anak adalah generasi penerus bangsa yang membutuhkan pendidikan serta pemenuhan hak-haknya untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Tentunya tidak hanya mengandalkan pendidikan formal saja, tetapi lingkungan keluarga merupakan madrasah pertama dalam membentuk karakater yang baik pada anak.
Kedua, memilih teman bergaul di lingkungan yang tepat. Pergaulan sangat memengaruhi karakter dari dalam diri seseorang, terutama pada tahap remaja.
Ketiga, meningkatkan iman dan taqwa. Ini merupakan solusi penting. Sebab hal apapun yang didasari dengan iman dan taqwa tidak akan mengarah ke hal-hal negatif.
Generasi muda membutuhkan para pemimpin dan masyarakat yang benar-benar mencintai mereka dengan tulus. Masa depan mereka akan suram tanpa asa, apabila pemerintah tidak segera mengubah paradigma sekuler dengan paradigma Islam yang sahih.
Pemuda adalah harapan masa depan umat. Berkualitasnya pemuda dengan penuh ketaatan, cerahlah masa depan suatu kaum. Sebaliknya, jika buruk kondisi kaum mudanya, maka suramlah nasib bangsa tersebut di kemudian hari.
Wallahu àlam bishowwab

