Oleh: Letkol Inf Andry Christian, (Dansatgas TMMD ke-126 Kodim 1711/BVD)

Pagi-pagi sekali, udara dingin khas perbatasan Papua Selatan menusuk hingga ke tulang. Di Kampung Waropko ini, keheningan selalu terasa khidmat, namun selama sebulan terakhir, ia ditemani oleh gemuruh semangat. Aku berdiri memandang ke arah rumah-rumah yang kini berdiri kokoh, hatiku dipenuhi rasa syukur yang meluap.
TMMD ke-126 Kodim 1711/BVD telah usai. Ini bukan hanya tentang menyelesaikan target 100% yang dilaporkan di atas kertas. Ini adalah tentang menepati janji kepada Ibu Yohana, kepada anak-anak yang kini punya air bersih, dan kepada seluruh warga Waropko yang telah memberikan pelukan tulus kepada kami merasa bangga sekaligus terharu. Tugas kami selesai, namun persaudaraan ini akan abadi.
Melalui RTLH Membangun Kembali Martabat
Aku selalu percaya, pembangunan harus dimulai dari hal yang paling mendasar: martabat manusia. Di Waropko, martabat sering terenggut oleh rumah yang lapuk dan membahayakan.
Kami memprioritaskan perbaikan tiga unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), yang menjadi Program Unggulan Kasad. Salah satu kisah yang tak akan pernah kulupakan adalah Ibu Januari dan Ibu Yohana. Rumah mereka nyaris roboh. Setiap kali hujan deras turun, kekhawatiran menyelimuti hati mereka. Aku bisa merasakan kecemasan itu.
Ketika kunci rumah barunya diserahkan, air mata bahagia Ibu Januari membasahi pipinya. ”Saya tidak bisa berkata apa-apa selain terima kasih,” bisiknya. ”Dulu, saya selalu khawatir rumah ini akan roboh menimpa kami. Sekarang, saya dan keluarga bisa tidur nyenyak tanpa rasa takut.” Begitu pula Ibu Yohana yang sebelumnya tinggal di hunian yang sangat memprihatinkan. Prajurit kami bekerja tanpa lelah, memperbaiki dinding, mengganti atap seng yang bocor, hingga memasang lantai. Kami telah memberikan mereka bukan sekadar beton dan kayu, tetapi rasa aman yang tak ternilai, mengukuhkan bahwa negara hadir di setiap jengkal tanah perbatasan.

Jalan Malam: Keringat di Bawah Penerangan Seadanya
Medan di Waropko sangat berat. Jalanan berlumpur adalah penghalang utama ekonomi dan pendidikan. Tugas kami adalah menuntaskan peningkatan dan perbaikan jalan sepanjang 740 meter dengan lebar 310 cm. Jalan ini akan menjadi urat nadi baru bagi warga, membuka akses transportasi dan memperlancar distribusi hasil kebun.
Melihat waktu yang terbatas, kami mengambil keputusan krusial: kami harus bekerja shift malam. Di bawah penerangan seadanya, ratusan prajurit dan warga bahu-membahu mengaduk semen, mengangkut batu, dan meratakan jalan.
”Kami bangga dengan dedikasi dan kerja keras seluruh anggota Satgas serta masyarakat. Walau malam hari, semangat mereka tetap menyala demi kepentingan bersama,” pesanku kala itu. Semangat gotong royong inilah yang membuat progres yang awalnya hanya 10 persen bisa tercapai tuntas sesuai jadwal. Jalan yang kini mulus adalah janji kemudahan yang kami tebus dengan dedikasi di tengah tantangan alam dan keterbatasan.


Lebih dari Sembako: Sentuhan Kasih Sayang Melawan Stunting
Pembangunan fisik harus beriringan dengan pembangunan jiwa dan raga. Fokus kami adalah kesehatan dan kesejahteraan.
Sanitasi dan Air Bersih: Kami sukses membangun empat unit fasilitas MCK yang dilengkapi penerangan dan penyediaan air bersih. Fasilitas ini adalah benteng pertama dalam menjaga kesehatan, memastikan warga memiliki akses higienis, sebuah hak mendasar yang tidak boleh diabaikan.
Melawan Kesenjangan Kesehatan: Aku tahu, masalah stunting adalah ancaman nyata. Bekerja sama dengan Puskesmas, kami memberikan Penyuluhan Kesehatan Stunting dan secara langsung membagikan makanan tambahan kepada anak-anak Waropko. Melihat mata anak-anak berbinar saat menerima bantuan, aku merasa tugas kami sebagai pelindung rakyat menjadi sangat nyata.
Bakti Sosial: Pada pertengahan Oktober, aku bersama Ketua Persit KCK Cabang XXXVII Kodim 1711/BVD, Ny. Tia Andry Christian, menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat kurang mampu, termasuk Ibu Marta. ”Jangan dilihat dari kecilnya bantuan dari kami, tetapi ini niat baik dan ketulusan kami Kodim 1711/BVD untuk membantu masyarakat,” pesanku saat itu, yang dibalas dengan ucapan terima kasih tulus dari warga.




Warisan Persaudaraan yang Menghubungkan
Kami juga memperkuat fondasi sosial melalui penyuluhan Wawasan Kebangsaan (Wasbang), Hukum (termasuk KDRT), dan Komunikasi Sosial (Komsos). Balai Kampung yang kami rehab kini menjadi pusat edukasi dan kebersamaan.
Saat Pangdam XXIV/MT Mayjen TNI Lucky Avianto, S.I.P., M.Si., meresmikan penutupan TMMD, dan melihat wajah-wajah bahagia Bapak Yosep (tokoh masyarakat) dan seluruh warga Waropko, aku merasa bangga. Kami telah memenuhi amanah untuk menjadi Jembatan Penghubung antara pemerintah daerah dan rakyat di wilayah 3T.
TMMD ke-126 telah usai. Kunci-kunci rumah telah diserahkan, prasasti telah ditandatangani, namun yang paling berharga adalah ikatan persaudaraan yang kami bawa pulang. Waropko kini lebih kokoh, lebih sehat, dan lebih bersemangat.
Kuhirup lagi udara dingin Waropko. Aku tahu, apa yang kami lakukan di garis batas ini akan terus menjadi pemicu harapan bagi seluruh Papua Selatan. Terima kasih Waropko, kalian kini adalah keluarga kami.
***

