Oleh : Marnisa
Taliban menduduki ibu kota Afghanistan, Kabul, pada Minggu (15/8/2021).
Penaklukkan kelompok itu atas ibu kota menandai kembalinya kekuasaan Taliban atas Afghanistan setelah digulingkan selama 20 tahun akibat diinvasi pasukan AS dan sekutunya pada 2001.
Pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban kemudian memperlihatkan kebersamaan Rusia dan China. Kedua negara, di samping Iran dan Pakistan, telah membuka kedutaan mereka dan berkomunikasi secara teratur dengan perwakilan Taliban, walaupun belum mengakui Taliban secara resmi.
Lalu Rusia dan AS, kemudian setuju untuk melanjutkan konsultasi dengan partisipasi China, Pakistan, dan negara-negara lain yang berkepentingan untuk menetapkan kondisi yang tepat untuk memulai dialog tentang Afghanistan yang inklusif di bawah kondisi baru.
Akan tetapi China dan Rusia ingin menjauhkan AS dari Afganistan. Karena kehadiran AS membuat Taliban dan organisasi lain tetap terkendali, Rusia maupun China merasa tidak nyaman dengan kehadiran AS di halaman belakang mereka. Bagi para perencana keamanan mereka, kehadiran Amerika merupakan mimpi buruk strategis yang besar.REPUBLIKA.CO.ID, KABUL
Wajar saja Afganistan macam makanan yang banyak di perebutkan bagi tiap-tiap negara barat. Ternyata Afganistan merupakan negara yang banyak sumber daya alamnya melansir CNN Afghanistan merupakan salah satu wilayah yang kaya akan logam mulia konvensional, dan juga logam yang dibutuhkan untuk ekonomi abad ke-21. Demikian kata ilmuwan dan pakar keamanan pendiri Ecological Futures Group Rod Schoonover.
Seperti diketahui, lithium adalah komponen penting baterai dan teknologi lain yang saat ini masih langka. Sedangkan potensi ekonominya bahkan mencapai 1 triliun dollar AS atau setara Rp 14.000 triliun (kurs Rp 14.000).
Melirik melimpahnya kekayaan sumber alam di Afganistan membuat para negara Barat memperebutkan negara tersebut. Baik dengan cara jajahan yang terus terang atau dengan bermuka dua agar dapat menjalin persahabatan demi tercapainya tujuan mereka supaya dapat menikmati kekayaan yang ada di suatu negara yang mereka targetkan.
Namun hal ini sangat di sayangkan, ketidakpahaman Taliban rencana politik busuk dari negara barat untuk memperebutkan sumber daya alam yang ada pada negeri Islam. Pastinya mereka akan saling bergandengan tangan demi mendapatkan apa yang ingin mereka capai.
Taliban sendiri akhirnya terperangkap dengan perundingan bersama AS dan negara Sekutu lain hingga mudah bagi mereka untuk memainkan aktornya (Taliban) sebagai alat kepentingan mereka. Hal ini merupakan operasi politik yang biasa digunakan AS.
Seharusnya, Taliban mencampakkan seluruh perundingan dengan AS dan negara Sekutu yang lain agar memperjuangkan serta menerapkan sistem Islam secara kafah. Bukan sebatas klaim dan teori jika dikatakan akan berdiri sebagai rezim Islam tetapi masih menjalankan nilai-nilai Barat. Tentu tak ada bedanya dengan sistem politik yang dijalankan sebelumnya.
Dari pergantian kekuasan di Aghanistan, terungkap bahwa kekayaan SDAE yang melimpah menjadi incaran perebutan oleh negara-negara Barat yang eksploitatif. Karena tiada junnah berupa khilafah, maka akan terus dicipta kondisi krisis agar folus umat pada terjadinya konflik-konflik internal dan abai terhadap skenario perampokan sumber daya alamUmat membutuhkan kepemimpinan Islam.
Wallahubissawab….

