Oleh : Ummu Umar
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menggelar acara Milad ke 20 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (29/5). Sejumlah elite parpol hadir dalam acara tersebut di antaranya PKB, PPP, Demokrat, dan Golkar.
Saat Sekjen PKS Habib Aboe Bakar Alhabsyi berpidato, ia berbicara kemungkinan berjodoh dengan parpol lain untuk Pilpres 2024. PKS masih mengamati tokoh mana paling menarik untuk dipinang sebagai capres.
Siapa tahu, siapa tahu pas kumpul-kumpul begini ada yang berjodoh di 2024, kita enggak tahu siapa yang bisa kita pinang di depan mata ini, gadis mana yang paling cantik,” kata Aboe Bakar saat pidato di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (29/5).
Aboe lalu melempar candaan kepada Ketua Bawaslu Rahmad Bagja bahwa PKS perlahan mulai memilih tokoh yang diusung. Dia lalu menyoroti Muhaimin Iskandar, Anies Baswedan, Sandiaga Uno hingga Agus Harimurti Yudhoyono.
Jadi Pak Bagja kita mohon maaf nih kita lagi cari jodoh pelan-pelan ya, Pak Muhaimin kalau dilamar jangan kaget-kaget, Pak Anies atau Pak Sandi atau siapa pun yang ada, Pak AHY, moga-moga ada jodoh,” tuturnya.
Dari milad PKS ini, kata Aboe, perjodohan PKS untuk Pilpres 2024 akan dimulai. Dia pun berterima kasih kepada tokoh politik yang telah hadir dalam acara PKS. “Mungkin di sini lah kita ingin bikin pertemuan perjodohan dalam waktu awal-awal, kami sampaikan terima kasih kehadiran semua,” tukas Aboe.
Hadir dalam acara ini Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Waketum Demokrat Edhy Baskoro Yudhoyono, Sekjen PPP Arwani Thomafi, Politisi NasDem Rahmat Gobel, Politisi Golkar Firman Soebagyo, Menparekraf Sandiaga Uno, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua KPU Hasyim Ashari dan Ketua Bawaslu Rahmad Bagja.” Merdeka.com.
Di tengah maraknya persoalan yang dihadapi umat, aroma kampanye pilpres sudah terasa. Partai pun sibuk mencari jodoh koalisi yang popularitas atau pencitraannya tinggi, yang punya banyak modal untuk berkompetisi. Masing-masing pun mulai menggunakan slogan lama seperti perubahan, kemajuan, kesejahteraan.
Dalam Pemilu 2024 mendatang, kata Aboe Bakar, PKS akan mengusung pasangan capres-cawapres yang potensial menang. Hal ini karena PKS ingin agar periode berikutnya berada di dalam pemerintahan. “Kami sudah tak mau lagi di luar pemerintahan. Kita akan rebut dengan kemenangan. Kita ingin mengusung bukan lagi mendukung,” tandas Aboe Bakar.
Padahal partai yang bernuansa islami belum pernah menang telak di negeri ini. Tentu barat penjajah tidak akan merestui kemenangan partai bernuansa Islam. Jika menang pasti akan dilengserkan atau dipastikan tetap nasionalis sekuler seperti sekarang, karena sistem/ideologi yang diterapkan saat ini adalah kapitalisme sekuler beserta paham turunannya termasuk demokrasi, nasionalisme, liberalisme, pluralisme yang menolak ajaran Islam dalam urusan partai, apalagi urusan masyarakat dan negara.
Jika kita melihat fakta partai Islam secara global yang berhasil memenangkan kontestasi pilpres seperti partai Hamas (Ikhwanul Muslimin) di Palestina, partai FIS di Aljazair, mereka digulingkan dengan berbagai alasan dan propaganda barat yang menjadi skenarionya. Berbagai cara dilakukan barat termasuk mengadu domba sesama partai islami. Partai islami hanya dijadikan koalisi bagi partai yang berkuasa.
Lalu pertanyaannya, mengapa partai islami selalu gagal menguasai pemerintahan?
Permasalahannya adalah bahwa partai islami yang ada saat ini mempunyai pemikiran Islam tetapi tidak mempunyai metode yang jelas untuk menerapkan pemikiran Islam itu sendiri. Tetapi mereka menerapkan Islam di dalam sistem/ideologi barat yaitu kapitalisme ataupun komunisme. Akibatnya umat melihat bahwa Islam hanyalah sebatas pemikiran (teori) yang tidak mampu diwujudkan dalam sistem/ideologi selain Islam. Dan hal ini terjadi di seluruh negeri negeri muslim.
Lalu perjuangan partai islami yang ingin menerapkan aturan Islam dibelokkan kepada perjuangan murahan seperti kapitalisme sekuler, sosialisme komunisme beserta paham-paham yang mendukungnya yaitu nasionalisme, liberalisme, pluralisme yang justru melemahkan partai islami itu sendiri. Mengapa demikian ? Karena partai islami itu sendiri tidak berpegang kepada ideologi Islam dan tidak meneladani Rasulullah SAW dalam berpolitik, berkelompok sampai Rasulullah SAW berhasil mewujudkan Sistem Pemerintahan Islam yang menerapkan seluruh syariah Islam yang dikenal umat dengan nama Negara Khilafah.
Lalu perubahan apa yang dilakukan oleh partai yang berkuasa untuk kesejahteraan seluruh umat manusia. Bukankah persoalan yang mendera umat semakin kompleks?
Umat disibukkan dengan persoalan ekonomi yang menghimpit mereka, harga pangan yang sangat mahal, begal, tawuran warga, kenakalan remaja, Lgbt, miras, narkoba, persoalan buruh, kriminalisasi terhadap ajaran islam dan sebagainya seakan tak kunjung usai.
Maka jika partai islami benar-benar menginginkan kemenangan dan kekuasaan di dalam pemerintahan, partai islami itu harus menjadi sebuah partai yang berideologi Islam, mempunyai pemikiran Islam yang jernih, tidak tercampur dengan pemikiran pemikiran selain Islam. Partai Islam itu juga harus mempunyai metode untuk menerapkan pemikirannya sampai kepada mewujudkannya dalam kekuasaan Islam yaitu sistem pemerintahan Islam. Partai itu juga harus mempunyai pemikiran politik Islam yang tidak mampu ditandingi oleh pemikiran barat penjajah. Dan perjuangan partai Islam itu haruslah bersifat global dan mengikuti langkah-langkah Nabi Muhammad SAW agar mendapatkan kemenangan yang nyata. Insyaallah. Wallahu alam bishawab.

