Oleh : Deswayenti ST (Owner Rumah Peradaban SNC)
“Barang kali di sana ada jawabnya, mengapa di tanah ku terjadi bencana? Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai bosan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.”
Sepenggal lagu lawas yang dinyanyikan Ebiet G. Ade ini menggambarkan kebingungan atas bencana yang selalu terjadi di setiap masa sepanjang sejarah perubahan tahun di bumi pertiwi tercinta. Apa yang menjadi penyebabnya?
Hujan kebanjiran, kemarau pun kekeringan. Yah, yang terjadi seolah-olah tidak ada lagi keberkahan di muka bumi ini? Rabu(4/12/2024) pagi itu, hujan masih mengguyur Kota Sukabumi. Sejumlah wilayah terdampak bencana banjir karena hari itu Sungai Cimandiri meluap dan terus meninggi hingga akhirnya merendam puluhan rumah warga di wilayah kabupaten Sukabumi. Tercatat 10 orang meninggal dunia, 2 lainnya masih dalam pencarian berdasarkan data dari BPBD di Kabupaten Sukabumi setidaknya ada 328 titik bencana yang tersebar di 39 kecamatan. Proses evakuasi pun dilakukan secara mandiri oleh warga dengan bantuan relawan yang sudah berada di lapangan, (Minggu, 08 Desember 2024,detikJabar.com).
Bencana alam baik itu banjir, kemarau atau lainnya tidak hanya terjadi karena faktor alam saja. Dalam Al-quran disebutkan bahwa bencana alam adalah konsekuensi dari perbuatan dosa manusia. Hal ini mengartikan bahwa prilaku manusia akan berdampak pada konsekuensi spritual yaitu musibah atau bencana. Dalam hadist Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak akan menimpa suatu musibah pun kecuali dosa-dosa kita.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perbuatan manusia yang mengindahkan perintah Allah SWT, maka akan menjadi bencana untuk manusia itu sendiri sebagai peringatan atau siksaan yang bisa menjadi pelajaran bagi manusia. Tapi bencana alam juga merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia karena dengan adanya musibah menyadarkan kita bahwa kuasa-Nya melebihi apapun. Penyebab bencana banjir bisa saja karena penebangan hutan yang berlebihan, pembangunan di wilayah resapan air dan kegiatan pertambangan, eksploitasi sumber daya alam sehingga merusak dan mengganggu keseimbangan alam dan juga pembuangan sampah sembarangan.
Allah SWT menimpakan manusia bencana tiada lain karena manusia tidak melaksanakan perannya sebagai Khalifah di muka bumi yang harus menjaga dan merawat bumi ini sebagai anugrah Tuhan kepada manusia. Dan benar sekali, tidak ada peristiwa yang terjadi pada kehidupan manusia di muka bumi ini melainkan atas ijin Allah dan sudah Qodarnya Allah. Allah SWT berfirman: “Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur dan tidak di ketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) di kitab yang nyata (lauh mahfudz).”
(QS. Al-An’am :59).
Sunnatullah, perlu diingat juga faktor alam dan manusialah sebagai sebab atau wasilah bencana itu terjadi. Jika saja manusia tunduk dengan syariat yang mengatur hukum keseimbangan alam maka Allah SWT akan menjaga bumi dan apa yang ada di atasnya.
Allah SWT berfirman : “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami) maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. ( QS. Al-Araf : 96).
Ayat ini mengandung pesan di antara lain : Allah SWT. memberikan berkah kepada manusia yang beriman dan bertakwa yang mengerjakan syariat, berkah itu dapat berupa hujan, tanaman, buah-buahan, binatang ternak, rezeki, rasa aman dan keselamatan. Allah memberikan siksa pada manusia yang tidak bertakwa yang melanggar syariat, ketaatan kepada Allah SWT. akan membawa keberkahan dan kekufuran akan mendatangkan laknatullah berupa bencana dan lainnya.
Kesimpulannya adalah ketakwaan kita kepada Allah SWT. membawa keberkahan dari langit dan bumi seperti hujan yang akan menyuburkan tanah bukan malah mendatangkan bencana karena itu hubungan antara iman dan berkah dalam hidup manusia sangatlah erat.
Setiap kita bertanggung jawab atas terjadinya bencana terlebih lagi negara. Sudah menjadi tugas negara untuk memberikan rasa nyaman dan keselamatan atas bencana yang datang kepada rakyatnya. Negara berperan sebagai raa’in dan junnah, sistem pemerintahan dengan syariat Islam jika dilakukan secara benar maka akan membantu mencegah terjadinya setiap musibah atau bencana karena terhindar dari murka-Nya. Dengan menjalankan syariat Islam maka perbuatan manusia dengan ‘tangan-tangan’ kotornya akan mendapatkan hukuman yang akan membuat jera atas kerusakan bumi ini sehingga setiap individu akan kembali pada ketaatan akan aturan-aturan Allah SWT.
Wallahu’alam bishawab.

