Oleh : Okta DA
Kita semua pasti pernah mendengar pepatah yang satu ini: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Tentu dapat dimaklumi jika saya menjadikan penggalan-penggalan peribahasa ini menjadi sebuah judul. Dalam tulisan saya, pepatah ini sangat melegenda dan siapa pun yang paham bahasa Indonesia pasti bisa mendendangkannya.
Apa yang menjadi ciri khas judul tersebut? Makna mendalam dari dua istilah penting: persatuan dan keteguhan. Dua kata inilah yang menjadi inti dari umat islam.
Persatuan bisa bermakna banyak hal: kelompok, ikatan, campuran, koneksi, chemistry, bahkan bisa berarti pemahaman. Jika demikian, perpisahan bisa mengandung unsur persatuan, karena seringkali orang berpisah karena persepsi ketidakcocokan.Dan sebaliknya persatuan menciptakan keteguhan. Dan keteguhan ini pun memiliki arti yang sangat luas, kekuatan, ketegasan, keeratan, ketetapan hati serta kekokohan.
Oleh karena itu, sangat menarik untuk menelusuri makna kedua kata kunci dari judul di atas dalam kaitannya dengan sifat sosial dan keagamaan masyarakat.
Misalnya. Kelemahan umat Islam saat ini dikarenakan tidak bersatunya umat islam itu sendiri hal ini, mengakibatkan umat islam menjadi terpecah belah menjadi kelompok-kelompok kecil. Miris bukan..
Dan tidak dapat di pungkiri bahwa saat ini kita hidup di zaman fitnah. Dimana standar kesuksesan atau kebahagiaan sudah mulai bergeser ke arah materi yang bersifat duniawi. Hormat seseorang bukan didasarkan pada ilmunya atau kedekatannya dengan Allah SWT, namun pada seberapa banyak harta yang dimilikinya secara kasat mata. Orang-orang yang tidak memiliki kekayaan tampak terpinggirkan. Begitu pula nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan) karena Allah, juga mulai memudar.
Hubungan antarmanusia akan dipandang tidak lain hanya semata-mata bersifat material.
Mereka saling mencintai dan membenci karena dunia ini. Memasang wajah manis karena ada kepentingan, namun jika kepentingan itu tidak tercapai maka senyuman pun berubah menjadi ekspresi masam. Ujung-ujungnya terjadilah yang namanya saling makian, hasutan, kebencian, penipuan, pertengkaran, dan pada akhirnya putusnya tali persaudaraan antara umat Islam.
Contoh nyata adalah ketika menjelang pemilu semakin dekat. Kita bisa melihat bagaimana para pendukung calon presiden dan wakil presiden saling membela dan menghina, bahkan saling memfitnah dan mencemarkan nama baik demi melindungi kepentingannya masing-masing. Seharusnya fakta-fakta ini bisa menjadi pelajaran bagi kita agar tidak mengulangi hal serupa di tahun ini, ataupun di tahun yang akan datang, karena sejatinya umat Islam tidak akan pernah bisa bersatu selama aturan yang digunakan negeri ini. Masih berdasarkan aturan yang di buat oleh manusia yang memiliki sifat terbatas.
Seperti firman Allah SWT ” Dan janganlah kalian bermusuhan niscaya kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan”.(Qs. Al-Anfal:46).
Dalil yang lainnya adalah Hadits Rasulullah SAW: “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk terus disembah oleh kaum muslimin di jazirah Arab, akan tetapi setan akan menimbulkan perpecahan antara mereka.” (HR. Muslim).
Ini hanya beberapa dalil terkait pentingnya persatuan antar umat Islam dan masih banyak dalil-dalil lainnya.
Ayat-ayat Al-Quran dan hadits tentang ukhuwah dan persatuan menjadi momok yang sangat menakutkan dan paranoid bagi sebagian orang yang tidak menginginkan persatuan dalam umat. Sebab jika umat Islam bersatu maka akan terbentuk kekuatan yang dahsyat. Maka cara yang paling mudah adalah dengan memecah belah mereka melalui politik adu domba dan membelah bambu. Pendekatan ini terbukti sangat efektif, seperti yang dilakukan Snouck Hurgrouje (1837-1936) dalam penaklukan para pejuang Aceh.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa pemerintah Belanda mengirim Snouck Hurgrouje untuk membantu menetralisir para pejuang Aceh. Diketahui bahwa menguasai Aceh hanya melalui kemampuan dan kemahiran tempur persenjataan teknis mereka (sispertek) akan menjadi tantangan. Akibatnya, muncul perlawanan melalui penggunaan sistem senjata sosial (sispersol). Belanda mengakui bahwa perjuangan rakyat Aceh berakar pada prinsip-prinsip Islam.
Pengangkatan Snouck Hurgronje sebagai penasihat kolonial bertujuan untuk melemahkan perlawanan para ulama dan umat Islam. Untuk memenuhi tujuannya, ia berpura-pura masuk Islam, memakai nama Abdul Ghafar, dan tinggal di Jeddah pada tahun 1884 M sebelum pindah ke Mekkah, di mana ia menghabiskan enam bulan (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, volume 1, 272).
Di Indonesia sendiri populer dengan ungkapan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” .
Ungkapan ini tidak hanya berfungsi sebagai jargon; tetapi juga menjadi tolok ukur untuk perbaikan segera. Bukan hanya berfokus pada khilafiyah hizbiyah furu’iyyah, yang semakin merenggangkan ikatan persaudaraan umat Islam. Bahkan dihadapan dunia internasional pun posisi umat Islam semakin terpojokkan dan lemah. Terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil, kebanggaan terhadap kelompok, organisasi dan suku ternyata hanya membuat perselisihan dan perpecahan sehingga exsistensi umat belum belum di perhitungkan di mata internasional.
Seharusnya memandang kebenaran itu melalui hakikatnya. bukan dari figur tokoh. Banyaknya perbedaan pendapat sering kali berujung pada perpecahan. Terhambatnya persatuan, persaudaraan, serta perpecahan umat sering kali muncul dari semangat yang tidak beralasan terhadap suatu kelompok, partai, ormas, atau jemaah, yang tidak berlandaskan pada ilmu pengetahuan.
Untuk itu diperlukan pemahaman Islam yang Kaffah.( Menyeluruh ). Bahwa persatuan umat Islam adalah keniscayaan dan pokok agama. Kesatuan yang dimaksud adalah kesatuan akidah dan tauhid, meninggikan agama Allah SWT. Dengan keteguhan hati secara konsisten hingga terwujudnya sebuah kekuatan besar yang lebih tersistem. Wallahu a’lam bishawab.

