Kliksumatera.com Muara Enim, Februari 2026 – Yayasan Mitra Hijau menyelenggarakan dua Forum Group Discussion (FGD) secara berurutan di Hotel Saka, Kabupaten Muara Enim, dalam satu hari pelaksanaan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Proyek IKI–JET (International Climate Initiative – Just Energy Transition) yang didukung pendanaan Pemerintah Jerman.
Kedua forum dilaksanakan di lokasi yang sama dengan waktu dan narasumber berbeda, melibatkan dua kelompok strategis dalam agenda transisi energi berkeadilan, yakni perempuan dan pemuda.
FGD Perempuan: Penguatan Peran dan Konsolidasi Forum
FGD pertama mengangkat tema “Penguatan Kelompok Perempuan dan Pembentukan Forum Perempuan Energi Berkeadilan Sumatera Selatan.” Forum ini menjadi ruang dialog partisipatif untuk membahas pengalaman, tantangan, serta aspirasi perempuan dalam menghadapi perubahan sosial dan ekonomi di wilayah yang selama ini bergantung pada sektor batu bara.
Dalam diskusi ditegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar perubahan sistem energi, melainkan juga transformasi sosial yang menuntut keadilan. Perempuan memiliki peran vital dalam ekonomi rumah tangga dan komunitas lokal, namun kerap belum terlibat secara bermakna dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan.
Tanpa perspektif gender, kebijakan transisi energi berisiko memperlebar ketimpangan yang telah ada.
Prof. Erna Yuliwati selaku Adviser Yayasan Mitra Hijau menekankan bahwa keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada integrasi keadilan sosial dalam setiap kebijakan. Ia menyampaikan bahwa perempuan tidak boleh hanya menjadi pihak yang terdampak, tetapi harus menjadi aktor aktif dalam menentukan arah transformasi ekonomi daerah.
Forum ini sekaligus menjadi langkah awal konsolidasi menuju pembentukan Forum Perempuan Energi Berkeadilan Sumatera Selatan sebagai wadah kolektif yang inklusif dan berkelanjutan.
FGD Pemuda: Transformasi Ekonomi Pasca Tambang
Pada sesi kedua di hari yang sama, Yayasan Mitra Hijau menggelar FGD bertajuk “Muara Enim Pasca Tambang: Transisi Energi, Transformasi Ekonomi, dan Penguatan Masyarakat Menuju Perekonomian Berkelanjutan.” Kegiatan ini melibatkan 30 perwakilan pemuda dari berbagai organisasi dan komunitas.
Berbeda dengan sesi sebelumnya, FGD pemuda dikemas dalam format diskusi semi formal guna menciptakan suasana yang lebih terbuka dan partisipatif. Para peserta aktif mendiskusikan tantangan dan peluang ekonomi pasca tambang, termasuk pentingnya perubahan pola pikir dari ketergantungan pada sektor ekstraktif menuju kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Isu ekonomi hijau, kewirausahaan sosial, ekonomi kreatif, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses pasar menjadi topik yang banyak mendapat perhatian.
Dalam forum ini ditegaskan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis sebagai aktor transisi. Dengan kemampuan adaptasi dan literasi teknologi yang lebih kuat, pemuda diharapkan mampu menciptakan model usaha baru yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing ekonomi lokal di tengah perubahan struktur ekonomi akibat transisi energi.
Dengan menyelenggarakan FGD perempuan dan pemuda secara berurutan pada hari dan tempat yang sama, Yayasan Mitra Hijau menegaskan pentingnya pendekatan inklusif dalam transisi energi berkeadilan. Keterlibatan perempuan dan generasi muda dipandang sebagai fondasi utama dalam memastikan transformasi ekonomi Muara Enim dan Sumatera Selatan berlangsung secara adil, partisipatif, dan berkelanjutan.
Melalui rangkaian diskusi ini, diharapkan lahir rekomendasi dan gagasan konkret dari kedua kelompok yang dapat menjadi masukan strategis bagi para pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan dan program pembangunan daerah di era pasca tambang
Laporan wartawan Novita

