Oleh : Nina
Sebagaimana kita ketahui bahwa peristiwa yang terjadi di Palestina yang sudah terjadi berlarut-larut, dan selama dua bulan terakhir ini membuat mata orang tertuju pada negara yang sedang mempertahankan tanah kelahirannya, tanah Al-Quds yang suci bagi umat muslim seluruh dunia. Dimana terjadi pembantaian atau genosida warga sipil, Anak-anak, para wanita dan lansia. Sudah sekitar 10ribu korban syahid. Selain korban jiwa, ratusan gedung runtuh dan rata dengan tanah. Bahkan sejumlah rumah sakit pun tak lepas dari sasaran bom Zionis Yahudi. Semua itu dilakukan karena Zionis Yahudi ingin merebut tanah Gaza menjadi wilayah negaranya.
Dilansir dari JAKARTA (VOA)— Majelis Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada 1948 menetapkan 10 Desember sebagai peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM). Saat itu PBB mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights/UDHR). Seluruh negara memperingati hari penting tersebut, termasuk Indonesia. Meskipun peringatan dilakukan setiap tahun, kasus kejahatan terhadap kemanusiaan dan penegak hukum dinilai masih jauh panggang dari api.
Bantuan kemanusiaan memang berdatangan dari berbagai negara khususnya negara Muslim. Seperti makanan, obat-obatan, dan lain-lain. Bantuan ini tidak mudah untuk melewati perbatasan Rafah yang ada di Mesir. Harus melalui prosedur yang berbelit-belit dan butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa sampai ke Gaza.
Mengapa perang di Palestina tak kunjung usai? Sudah sekitar 75 tahun Palestina dijajah oleh Zionis Yahudi. Tetapi dunia seolah tidak peduli dengan terjadinya pembantaian yang melibatkan warga sipil. Negara-negara besar hanya membisu melihat kejadian tersebut. Bahkan negeri-negeri muslim pun hanya bisa mengutuk tak bisa berbuat lebih, apalagi harus mengirimkan bala tentaranya.
Hal ini terjadi karena salah satu penyebabnya adalah ketidaksetujuan Internasional. Nasib Palestina sepenuhnya diserahkan kepada PBB agar menerima gencatan senjata dan solusi dua negara (two – state solutions). Usulan solusi ini sama saja dengan mengakui eksistensi Yahudi yang telah merampok dan membunuh warga Palestina untuk tetap memiliki daerah rampasan mereka.
Eksistensi Yahudi itu disokong oleh sejumlah pemimpin dunia Islam baik secara politik maupun hubungan ekonomi. Kaum Zionis itu mendapatkan minyak bumi dari perdagangan dengan Azerbaijan, Kazakhstan dan Turki. Mereka juga mengandalkan pasokan air dengan membeli dari Yordania dan Turki. Sejumlah negara Islam mempunyai hubungan diplomatik dan aliansi strategis dengan negara-negara Barat yang mungkin saja menghendaki stabilitas di Timur Tengah. Intervensi militer tentu bisa saja memperburuk hubungan mereka dengan negara Barat, meski faktanya Barat mendukung Israel.
Dimanakah letak Hak Asasi Manusi (HAM) bagi rakyat Palestina? Hak untuk merdeka, bebas dari penjajah, hak untuk hidup tenang dan damai. Tidak ada lagi pembunuhan anak-anak, dan para wanita. Pengeboman gedung-gedung, rumah, sekolah bahkan rumah sakit. Bagi mereka memohon kepada manusia bagaikan mengharap hujan di tengah gurun pasir. Yang ada hanya fatamorgana. Hanya kepada Allah tempat mereka menyerahkan segala urusan di dunia. Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’mannasir.
Apalagi mengharap dari PBB yang katanya sebagai badan perdamaian dunia. PBB hanya sebagai wadah penampung aspirasi bagi negara-negara yang bersekutu dengan penguasa adidaya. Hanya karena Palestina tidak mau menyerahkan tanahnya kepada Zionis Yahudi, itulah sebabnya PBB tidak mau menyelesaikan permasalahan perang yang terjadi antara Palestina dan Israel Zionis laknatullah. Tidak mau memberi sanksi kepada Israel yang jelas-jelas telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina.
Lain halnya ketika umat Muslim dipimpin oleh satu kepemimpinan, yaitu khalifah. Seorang khalifah akan memberikan perlindungan kepada setiap umat. Mengurusi segala permasalahan umatnya. Dan umat akan berlindung di belakang sang pemimpin. Di bawah kepemimpinan khalifah, umat muslim dan kafir akan hidup secara berdampingan dengan tidak saling mengganggu satu sama lain. Palestina membutuhkan pembebasan nyata. Dengan adanya satu kepemimpinan dapat mengenyahkan entitas Yahudi serta menyelamatkan kaum muslimin di bumi Palestina.
Wallahu a’lam bishawab.

