Oleh : Henny
Gunung Semeru meletus pada Sabtu (04 Desember 2021) sekitar pukul 15.00 WIB dan mengeluarkan awan panas yang berguguran hingga membumbung tinggi mencapai 11 kilometer. Diketahui bahwa banyak berjatuhan korban jiwa diakibatkan bencana ini. Tak sedikit nyawa terancam, bahkan sampai ada yang meninggal. Bisa kita lihat, saat Allah telah menunjukkan kuasa-Nya, Dia bisa kapan saja meluluh lantakkan keindahan alam dalam sekejap mata atas kehendak-Nya.
Musibah atau bencana yang terjadi, bukan tanpa sebab. Mungkin saja ini adalah sebuah teguran untuk kita. Dari bencana ini dapat diambil pelajaran bahwa materi yang kita kumpulkan selama ini akan lenyap tanpa menyisakan sedikit pun harapan untuk menyelamatkannya. Semuanya ikut tertimbun bersamaan dengan runtuhnya abu vulkanik dari sumber erupsi. Bisa kita saksikan dari video yang beredar di media sosial, jembatan ambruk, banyak rumah dan hewan ternak milik warga tidak terselamatkan.
Kejadian erupsi Gunung Semeru ini diketahui bahwa tidak ada peringatan/pemberitahuan dini sebelumnya. Maka sangat bahaya sekali bagi masyarakat sekitar. Hal ini diperkuat dengan penjelasan dari Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Lelono yang menyebutkan bahwa sekitar pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir pada seismografi, tetapi tidak ada peringatan dini sampai sekitar pukul 15.00 WIB ketika masyarakat berhamburan panik saat erupsi terjadi, ungkapnya, (redaksi porosnews/05 Desember 2021).
Warga menyesalkan tidak adanya peringatan dini, sehingga saat itu warga masih tetap beraktivitas seperti biasanya. Tidak ada persiapan dari warga untuk mengungsi ataupun menyelamatkan harta benda dan hewan ternak mereka. Mitigasi buruk seperti ini terjadi karena lalainya pemerintah dalam memperhatikan urusan rakyatnya. Begitulah, sistem demokrasi kapitalistik selalu saja melahirkan penguasa yang lalai dan kerap melimpahkan tanggung jawabnya kepada pihak lain. Keberadaan mitigasi bencana sangat penting sebagai alat ukur awal membaca bencana dan juga merupakan suatu upaya untuk mengurangi resiko bencana. Kapitalistik sekuler telah menjadikan kepemimpinan tegak di atas kepentingan pemilik modal, bukan tuntunan agama (Islam). Pemerintahan hari ini mungkin menjadi salah satu penyebab bencana terjadi berkepanjangan. Walaupun ada tindakan dari pemerintah dalam memperhatikan urusan rakyatnya, pastilah semata-mata dikarenakan materi dan tak lepas dari rumus hitung-hitungan uang.
Kebanyakan kebijakan pemerintah umumya terlihat memihak lembaga tertentu atas pertimbangan untung dan rugi. Berbeda halnya dengan negara yang bertindak sebagai pe-riayah. Negara akan mendukung segala bentuk bantuan termasuk dalam bidang mitigasi bencana. Dengan pengembangan mitigasi, yaitu penyebarluasan informasi dan pembinaan terhadap masyarakat dilakukan dengan penyuluhan oleh lembaga terkait. Dengan mekanisme seperti ini, rakyat dapat mengantisipasi ketika datang bencana. Sistem seperti ini pastinya hanya ada pada Islam, sebuah sistem yang berpandangan bahwa rakyat adalah amanah dan tanggungjawab negara. Hanya sistem kepemimpinan Islam yang bisa diharapkan mampu menyelesaikan problem kebencanaan dengan solusi tuntas. Mulai dari pondasi negara dan kepemimpinan yang lurus, yakni berlandaskan tauhid, kemudian diterapkan dengan syariat Islam kaffah. Sudah saatnya unat bersegera mewujudkan kepemimpinan Islam, dengan harapan nantinya akan tergambar pada diri umat bahwa Islam adalah solusi seluruh problem kehidupan sekaligus jalan keselamatan. Tidak hanya menyelamatkan mereka dari bencana di dunia, tapi juga bencana yang lebih berat di akherat.
Wallahu a’lam ….

