Oleh: Novriyanti
Beberapa hari lalu, seorang guru menampilkan gambar Nabi Muhammad SAW kepada muridnya. Namun, kini dia mengakui bahwa gambar tersebut sangat tidak pantas. Penggambaran Nabi Muhammad SAW dianggap sangat ofensif dalam keyakinan Muslim. Salah seorang orang tua mengatakan kartun yang digunakan diambil dari majalah satir Prancis, Charlie Hebdo.
Juru Bicara Departemen Pendidikan dan Keterampilan (DFE) Inggris mengatakan, sekolah harus menyeimbangkan materi pelajaran dengan rasa hormat dan toleransi di antara orang-orang yang berbeda keyakinan. Hal ini termasuk dalam memutuskan materi apa yang akan dibahas.
Menurut surat sekolah kepada orang tua, karikatur diperlihatkan pada Senin (22/3) lalu. Menanggapi ini, Kepala Sekolah Gary Kibble mengatakan, sekolah dengan tegas meminta maaf karena menggunakan gambar yang sama sekali tidak pantas dalam pelajaran agama.
“Seorang anggota staf juga telah menyampaikan permintaan maaf yang paling tulus. Kami segera menghentikan pengajaran pada bagian ini dan kami sedang meninjau bagaimana kami melangkah maju dengan dukungan dari semua komunitas di sekolah kami,” kata Kibble, dilansir Sky News, Jumat (26/3).
Kibble menambahkan, penting bagi anak-anak untuk belajar tentang keyakinan, tapi harus menggunakan cara yang hormat. Akan tetapi, para demonstran tidak puas dengan reaksi dari pihak sekolah. Mereka menuntut guru yang menampilkan karikatur agar mengundurkan diri. Untuk mengamankan situasi, para polisi berjaga seraya para pengunjuk rasa juga berteriak “dipecat”.
Anggota Eksekutif Masyarakat Kesejahteraan Muslim India di Batley, Yunus Lunat, mengatakan, guru itu telah menyimpang cara belajar kepada murid dan mencoba memprovokasi murid.
“Mereka berbicara tentang kebebasan berekspresi, tapi saya mempertanyakan hubungan kebebasan berekspresi dengan pelajaran. Anda tidak akan pernah melihat gambar Nabi Muhammad di masjid kami, di masjid mana pun tidak di seluruh dunia,” kata Yunus, REPUBLIKA.CO.ID.
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW kembali terjadi. Hal ini terjadi karena sistem kapitalisme sekuler dengan paham kebebasan Demokrasi menjamin kebebasan bagi setiap individu untuk berekspresi, sehingga penghinaan terhadap Nabi terjadi secara berulang. Sistem kapitalis sekular Demokrasi juga tidak memberikan batasan yang jelas tentang kebebasan berekspresi yang bagaimana yang boleh dilakukan dan berekspresi yang bagaimana yang tidak boleh dilakukan?
Kurikulum pendidikan yang berdasarkan aqidah sekularisme selalu menanamkan nilai nilai Demokrasi yang menjamin kebebasan beribadah, menghormati agama lain, toleransi, namun belum mampu diwujudkan dalam kehidupan yang sebenarnya.
Islam tidak melarang manusia untuk berekspresi, tetapi harus ada batasan apa saja yang diekspresikan sesuai batasan syariah, misalnya menggambar, membaca puisi, menulis dan sebagainya. Bahkan islam mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dengan kreativitas yang tidak bertentangan dengan syariah.
Namun aqidah sekulerisme telah membuat manusia bebas mengekspresikan pemikirannya sesuai akal dan hawa nafsu mereka.
Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur 3 hubungan yaitu:
1. Hablumminallah, Contohnya sholat, puasa, zakat, haji
2. Hablumminannafs, contohnya makanan, minuman, pakaian, akhlak
3. Hablumminannas, contohnya ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.
Ketiga hubungan tersebut mempunyai aturan yang sangat rinci dan jelas, Islam mengajak manusia untuk meyakini adanya Allah SWT sang Pencipta melalui proses berfikir dengan akal yang dituntun oleh wahyu (Al Quran dan Al Hadits), sehingga tidak ada keraguan dan Islam juga memerintahkan manusia untuk menghormati agama lain, tidak menghina atau melecehkannya. Bahkan ketika ada siswa nonmuslim di sekolah, mereka dipersilakan keluar kelas untuk tidak mengikuti pelajaran agama Islam.
Begitulah toleransi yang luar biasa diajarkan oleh Islam. Di dalam kehidupan bermasyarakat, mereka pun diakui sebagai warga negara dan mendapatkan hak yang sama dengan warga muslim mayoritas, tidak ada diskriminasi, pengusiran atau tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap warga non muslim. Hukum yang diterapkan atas mereka didalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara pun sesuai dengan hukum Islam. Kecuali dalam masalah aqidah dan ibadah mereka diberikan kebebasan untuk menjalankan ibadahnya.
Oleh karena itu, jika dunia benar benar ingin menegakkan toleransi, maka negara yang mampu mewujudkannya adalah negara Khilafah. Inshaa Allah. ***
Wallahualam bishawab.

