Oleh : Fitria Sari (Praktisi Pendidikan)
“Lagi-lagi aku tak bisa tidur, tak bisa makan, pikiranku selalu melayang memikirkan pendidikan yang bertukar-tukar.”
Kurikulum baru, aturan baru, dalam sistem pendidikan, mampukah kurikulum prototipe mencetak generasi muda yang cerdas, bertakwa? Berasaskan Islam Atau sekedar paradigma mendasar yang berasaskan seluler?
Opsi penerapan kurikulum prototipe yang sudah digagas Kemendikbud Ristek pun sudah mendapatkan dukungan oleh ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang sudah ditawarkan ke beberapa sekolah untuk mengatasi kehilangan pembelajaran atau learning loss. (kompas.com 27/12/2021).
Kurikulum prototipe ini tidak disebutkan sebagai kurikulum baru, untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan bahwa menteri baru kurikulum baru, Nadiem Makarim pernah mengatakan bahwa dibulan Februari 2021 dalam dialog Merdeka Belajar Episode Tujuh, “Target kita tahun ini, pertama kali sebesar 2.500 dan pada tahun kedua 10.000, tahun ketiga 20.000, dan tahun keempat 40.000, dan berharap ditahun-tahun berikutnya akan bertambah sampai 100 persen akan menjadi penggerak sekolah” dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa seluruh sekolah akan diwajibkan memakai kurikulum prototipe model baru ini. (kemdikbud.go.id, 24/12/2021).
Dalam menetapkan kurikulum prototipe, ada banyak kontra dari pemerhati pendidikan, dikarenakan terkesan instan. Indra Charismiadji, sebagai praktisi pendidikan, mengaku bahwasanya beliau sama sekali tidak pernah melihat isi dari kurikulum tersebut, baik itu secara filosofis maupun akademis, padahal kurikulum ini sudah diterapkan sekitar 2500 sekolah penggerak. (republika.co.id, 21/12/2021).
Diterapkannya kurikulum ini, ada tanggapan dari beberapa praktisi pendidikan, ada yang pro dan ada yang kontra. Mengapa bisa terjadi ada praktisi pendidikan yang pro? Dari beberapa berita di media sosial, ada beberapa para praktisi pendidikan yang mengaku bahwa kurikulum ini sangat praktis dan bagus untuk diterapkan dan ada beberapa masyarakat yang menyatakan bahwa kurikulum ini sangat bagus karena siswa menjadi lebih senang. Namun sebaliknya ada praktisi pendidikan yang kontra, karena dengan adanya kurikulum yang sangat praktis ini akan mempermudah guru melakukan diferensiasi pembelajaran, dengan waktu yang sangat praktis.
Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa memang setiap masing-masing peserta didik itu memang memiliki kompetensi yang mumpuni. Pembelajaran yang berbasis mengembangkan kemampuan individu yang dimiliki siswa agar setiap siswa dapat lebih fokus pada satu jurusan atau satu kemampuan saja tidak memaksakan siswa yang punya kemampuan kognitif harus dipaksa memiliki kemampuan di bidang yang lain juga.
Jika siswa punya kemampuan dibidang bahasa maka, siswa tersebut dapat dengan bebas memilih jurusan bahasa saja tidak dipaksa untuk mengikuti bidang kompetensi yang lain. Dengan waktu yang sedikit, tenaga pendidik diharapkan mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap peserta didik.
Terlihat kurikulum ini sangat mampu memberikan perhatian dan harapan kepada seluruh peserta didik agar tidak terbebani dengan banyaknya waktu yang diperlukan peserta didik untuk mempelajari seluruh kemampuannya. Sehingga dengan pendidikan seperti ini, peserta didik diharapkan menjadi generasi yang hanya mampu di satu bidang saja, jika seorang siswa ingin menjadi guru matematika maka siswa tersebut sejak duduk dibangku SMA harus memilih jurusan matematika saja dan yang lain tidak perlu diikuti.
Sebenarnya sudah jelas, dari kurikulum prototipe ini terlihat jelas bahwa hasil dari kurikulum ini berasaskan sekuler. Bagaimana tidak, jika seorang siswa dididik hanya sekedar mengembangkan kemampuan yang diinginkan saja, tujuannya hanya sekedar membentuk manusia-manusia yang hanya berpahamkan materi dalam hidupnya.
Mengapa dikatakan sekuler? Karena tidak adanya terwujud karakter Islam di dalamnya, jika siswa hanya sekedar ditingkatkan kemampuannya dibidang lain, mereka akan terdidik menjadi “mengeluarkan modal sekecil-kecilnya, dan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.”
Dari penerapan kurikulum prototipe ini, guru diajak untuk terfokus pada materi yang sudah disederhanakan di berbagai aspek. Untuk jenjang SD kelas 4,5 dan 6 mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) akan di satukan serta diajarkan secara bersamaan. Jika untuk jenjang SMA peserta didik kelas 10 hanya sekedar menyiapkan diri saja untuk menentukan mata pelajaran dikelas 11, dan untuk kelas 12 peserta didik mulai memilih mata pelajaran yang wajib saja, seperti bahasa, IPA, IPS serta matematika sesuai dengan minat peserta didik.
Apakah jika diterapkannya kurikulum prototipe ini akan membuat peserta didik menjadi pelajar yang berkualitas, yang hanya punya satu kemampuan saja? Lalu bagaimana jika ketika mereka akan bekerja nantinya jika hanya memiliki keterbatasan ilmu? Sedangkan untuk jenjang SMK sudah melibatkan peserta didik untuk mengembangkan pembelajaran. Dengan mudah para pemain kapitalis ini mengatur potensi anak didik menjadi buruh industri.
Dengan penerapan sistem pembelajaran seperti ini, sebagai guru harus melakukan pembelajaran sesuai dengan kemampuan kebutuhan siswanya. Dari sini dapat kita lihat bahwa sistem pembelajaran ini berasaskan kebebasan siswa, jadi seorang siswa dapat mengatur sistem pembelajaran yang diterapkan saat ini, jika sistem pembelajaran ini tidak didukung oleh sistem pendidikan yang benar atau tidak adanya ketersediaan tenaga pendidik yang berkompeten sesuai keahliannya maka akan terjadi kesenjangan pendidikan.
Nyata sudah sangat jelas, bahwa untuk pemerataan kualitas pendidikan akan tetap terjadi, karena akan terjadi kesenjangan antara si miskin dan si kaya. Tujuan penerapan kurikulum ini pastinya tidak akan menciptakan pribadi yang berpikir dan memiliki pribadi Islam. Hanya untuk mencapai materi, materi dan materi.
Sangat berbeda dengan sistem pendidikan Islam, yang mempunyai tujuan menciptakan SDM yang punya kepribadian Islam secara menyeluruh, karena di dalam Islam, sistem pembelajaran akan benar-benar dirancang dalam porsi besar demi memperluas waktu untuk memahami tsaqofah Islam. Generasi yang terbentuk dengan kepribadian Islam akan menjadi SDM yang berkualitas, tidak terjebak dalam kubangan industri kapitalis, dan setiap apa pun yang dilakukan akan menggunakan sistem Islam secara utuh dan menyeluruh.
Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 208).
Jelas sudah Allah katakan, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi serta kehidupan sehari-hari pun harus dengan Islam. Maka benar hancur sudah sistem saat ini. Jika kurikulum yang dibangun tidak berasaskan Islam, maka hasilnya akan mencetak generasi yang jauh dari kata Islam. Dalam Islam, kurikulum akan tetap berasaskan Islam bukan yang lain. Sehingga, ilmu-ilmu yang diterapkan serta generasi yang terbentuk akan menjadi SDM yang berkualitas, cerdas serta bertakwa.
Lain hal dengan sistem hari ini, sistem hari ini adalah sistem buatan manusia yang dengan mudah dan sesukanya saja diubah sesuai dengan kebutuhan para antek asing-aseng. Sudah sepantasnya kita beralih pada sistem Islam, yang benar-benar mampu menyelesaikan masalah masyarakat mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi serta kebutuhan sandang pangan dan papan pun terpenuhi dan diurus dengan benar dan sudah sesuai aturan Allah bukan yang lain.
Islam akan menjamin seluruh aspek kehidupan kita sehari-hari. Sistem yang sudah bobrok saat ini sudah sangat layak kita buang dan kita hancurkan, dan segera mengganti dengan sistem Islam. Yuk ganti sistem dengan sistem Islam!
Wallahualam bissawab.

