PURBALINGGA — Di tengah deru percepatan pembangunan infrastruktur dalam program TMMD Reguler ke-128 Kodim 0702/Purbalingga di Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara, ada ritme lain yang tak kalah penting. Yakni gerak sunyi warga yang menopang kerja besar itu dari balik layar. Bukan dengan alat berat atau seragam, melainkan dengan langkah kaki yang setia menempuh jarak, membawa kepedulian dari satu ujung dusun ke ujung lainnya.
Adalah Jaelani, seorang pria lanjut usia dari Dusun Batur, yang menjadi bagian dari denyut gotong royong tersebut. Meski usianya tak lagi muda, ia tetap melangkah pelan namun pasti, memikul kantong plastik berisi nasi rames. Dari awal dusun hingga ke titik pekerjaan, ia memastikan makanan sampai lebih cepat dan lebih dekat kepada para pekerja.
Meski raut lelah sesekali tampak di wajahnya. Nafasnya pun tak selalu teratur. Namun semangatnya tetap menyala.
“Kalau bisa bantu ya saya bantu, yang penting makanan cepat sampai ke yang kerja,” ujarnya sederhana, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, “Biar mereka nggak jauh-jauh ambil makan, waktunya bisa dipakai untuk kerja lagi.”
Di tengah panas dan debu pembangunan, kehadiran Jaelani menjadi pengingat bahwa TMMD bukan hanya tentang beton, jalan, atau jembatan. Ia adalah cerita tentang manusia, tentang kepedulian, keikhlasan, dan kekuatan gotong royong yang tumbuh dari hati.
Warga lain pun bergerak dalam ritme yang sama. Ada yang menyumbang tenaga, ada yang menyiapkan logistik, ada pula yang memberi dukungan. Semua menyatu dalam satu tujuan, yakni mempercepat pembangunan demi masa depan desa yang lebih baik.
Apa yang dilakukan Jaelani mungkin terlihat sederhana. Namun di balik kantong nasi rames yang ia bawa, tersimpan makna besar tentang pengabdian tanpa pamrih. Di setiap langkahnya, ia menitipkan pesan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat pekerjaan selesai, tetapi juga oleh seberapa kuat kebersamaan yang dibangun.(anr)

