Oleh: Dr. Didi Jaya Santri, M.Si; Dr. Rahmi Susanti, M.Si.,; Elvira Destiansari, M.Pd.
Sakina Rizqiani, M.Si.; Farah Annisa Nurbani, M.Si.
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi komputasi telah mengubah banyak sektor kehidupan, mulai dari industri, kesehatan, hingga pemerintahan. Namun pendidikan menjadi satu-satunya sektor yang berjalan lebih lambat daripada tuntutan zaman. Di saat peserta didik hidup dalam dunia yang dibanjiri data, algoritma, dan aplikasi berbasis AI, sebagian besar guru masih berjuang mengejar literasi digital dasar. Padahal, pembelajaran abad ke-21 menuntut guru tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi memahami bagaimana teknologi bekerja dan bagaimana mengintegrasikannya secara pedagogis dalam kelas. Inilah alasan mengapa kemampuan coding dan pemanfaatan kecerdasan artifisial menjadi kompetensi esensial bagi guru IPA, terutama karena mereka berhadapan langsung dengan konsep sains berbasis data dan fenomena kompleks yang semakin membutuhkan visualisasi, eksplorasi digital, serta penalaran komputasional.
Sayangnya, kesiapan guru belum sejalan dengan tuntutan tersebut. Laporan UNESCO 2023 menunjukkan bahwa hanya 20–30% guru di negara berkembang yang percaya diri mengintegrasikan teknologi tingkat lanjut dalam pembelajaran. Di Indonesia, survei Balitbang Kemendikbud (2022) mengungkap bahwa lebih dari 60% guru belum pernah menggunakan platform berbasis AI atau coding untuk pembelajaran. Sementara itu, peserta didik justru lebih cepat mengadopsi teknologi AI secara informal, mulai dari penggunaan ChatGPT hingga aplikasi gambar berbasis model generatif. Jika guru tidak mampu mengejar ketertinggalan ini, ruang kelas akan menghadapi learning gap yang semakin melebar. Hal ini terjadi bukan karena kurangnya materi ajar, tetapi karena ketidaksiapan pendidik mengelola dunia digital yang ditempati peserta didik.
Untuk menjawab kesenjangan tersebut, FKIP Universitas Sriwijaya melalui Jurusan Pendidikan MIPA melaksanakan program pengabdian masyarakat berupa Pelatihan Coding dan Kecerdasan Artifisial berbasis Deep Learning bagi 31 guru IPA dalam lingkup MGMP Kecamatan Bukit Kecil, Palembang. Program ini dipimpin oleh ketua tim pengabdian. Kegiatan yang berlangsung dari 18 Oktober hingga 23 November 2025 ini dilakukan melalui empat pertemuan tatap muka di SMP Negeri 1 Palembang dan dua sesi pendampingan daring. Para guru mendapatkan pelatihan intensif mengenai pemrograman visual dan teks (Pictoblox), pembuatan model AI melalui Teachable Machine, teknik prompt engineering, perancangan RPP berbasis AI, hingga pengembangan media ajar adaptif berbasis kecerdasan artifisial. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini dirancang sebagai intervensi pedagogis untuk mendorong guru memposisikan AI bukan sebagai alat substitusi, melainkan sebagai katalis inovasi dalam desain pembelajaran.
Selama lebih dari satu bulan pendampingan, sejumlah temuan menarik muncul. Antusiasme guru sangat tinggi ketika mempelajari pembuatan model AI sederhana seperti klasifikasi objek laboratorium atau pengenalan gambar mikroskopis. Tantangan muncul ketika mereka memasuki materi coding berbasis teks, menandakan perlunya pendampingan bertahap untuk menguatkan logika komputasional. Respons positif terlihat pada materi prompt engineering, karena manfaatnya langsung terasa dalam pekerjaan sehari-hari, mulai dari membuat soal berbasis konteks hingga merancang media ajar digital. Seluruh peserta berhasil menyelesaikan proyek akhir yang relevan dengan pembelajaran IPA, sebuah capaian yang memperlihatkan bahwa guru mampu beradaptasi dengan cepat ketika diberikan ruang belajar yang tepat. Temuan ini selaras dengan studi World Bank 2022 yang menyatakan bahwa pelatihan berbasis proyek merupakan metode paling efektif untuk meningkatkan kapasitas digital guru di negara berkembang.
Meskipun demikian, inisiatif seperti pelatihan di Palembang tidak boleh berdiri sendiri. Indonesia membutuhkan kebijakan transformasional untuk mendorong integrasi teknologi dalam pendidikan secara sistematis. Literasi AI harus dimasukkan ke dalam kurikulum LPTK agar kampus tidak hanya mengajarkan pedagogi, tetapi juga kompetensi digital masa depan. Pemerintah perlu mengembangkan program peningkatan kapasitas guru berskala nasional yang berkelanjutan, bukan pelatihan satu kali yang langsung berakhir tanpa tindak lanjut. Pendanaan inovasi teknologi pendidikan harus diperkuat, dan MGMP perlu diposisikan sebagai innovation hub berbasis sekolah. Kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan industri teknologi menjadi kunci untuk memastikan transformasi digital pendidikan berlangsung secara berkelanjutan.
Transformasi pembelajaran IPA tidak bisa lagi ditunda. Dunia bergerak lebih cepat daripada kurikulum sekolah; ketika guru tertinggal, peserta didik pun ikut tertinggal. Pelatihan yang berlangsung di SMP Negeri 1 Palembang menunjukkan bahwa guru Indonesia mampu berubah, berinovasi, dan mengadopsi kecerdasan artifisial selama mereka mendapat akses, pelatihan, dan pendampingan yang berkelanjutan. Jika upaya serupa diperluas dan diperkuat oleh kebijakan nasional yang progresif, Indonesia memiliki peluang besar bukan hanya untuk mengejar ketertinggalan digital, tetapi juga melahirkan generasi pencipta teknologi, bukan sekadar pengguna. Kini pertanyaannya: beranikah kita mempercepat transformasi ini sebelum perubahan global melaju lebih cepat daripada kemampuan kita beradaptasi?
*Penulis merupakan Dosen Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Sriwijaya
(Artikel ini merupakan luaran dari Pengabdian Kepada Masyarakat yang didanai oleh LPPM Universitas Sriwijaya Tahun 2025. ***

