Oleh : Eci Anggraini, Pendidik Palembang
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Senin (21/4/2025) malam bahwa dia tidak akan menerima pembentukan kekhalifahan mana pun di pantai Mediterania. Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa respons Israel tidak akan terbatas pada Yaman, tetapi akan meluas ke Lebanon dan wilayah lainnya.
Ia menambahkan, “Saya telah berulang-ulang mengatakan bahwa kami akan mengubah wajah Timur Tengah, dan itulah yang sebenarnya sedang kami lakukan sekarang. Berkat keputusan dan keteguhan pemerintah saya, kami telah memutus poros kejahatan di Gaza, Lebanon, Suriah, dan di tempat lain. Kami mengenal musuh kami dengan baik, dan kami tidak akan menerima keberadaan kekhilafahan di sini atau di Lebanon. Kami berupaya untuk memastikan kelangsungan hidup Israel.”
Terkait dengan Houthi, Netanyahu mengindikasikan bahwa mereka menerima pukulan keras dari sekutu Amerika, dan bersumpah bahwa respons Israel akan keras. (Arrahman. Id,Rabu, 23/05/2025).
Siapa saja yang mengaku muslim wajib memberikan pembelaan atas penderitaan yang dirasakan saudara seiman, termasuk kaum muslim Gaza. Rasulullah SAW telah berpesan, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan pentingnya wujud rasa cinta kepada sesama muslim. Bahkan Rasul saw. menafikan kesempurnaan iman seseorang sampai terwujud rasa kasih sayang kepada saudara seiman.
Seorang muslim dengan sesama muslim yang lain bukanlah individu yang terpisah. Mereka adalah satu laksana satu tubuh. Demikian seperti yang disabdakan Rasulullah SAW “Perumpamaan kaum mukmin itu—dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi—bagaikan satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit, seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam (turut merasakan sakitnya).” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Apakah mungkin seseorang yang sakit mengabaikan bagian tubuhnya yang sakit? Tidak mungkin! Ia pasti akan terus merawat bagian tubuhnya tersebut sampai hilang penyakitnya. Begitu pula seharusnya sesama muslim. Jangan sampai ada seorang muslim pun yang mengabaikan penderitaan kaum muslim lain di belahan dunia mana pun, termasuk di Gaza.
Dalam hadis qudsi, Allah SWT juga telah mengingatkan, “Hai Anak Adam! Aku sakit, namun engkau tidak menjenguk Aku!” (Anak Adam) berkata, “Tuhanku, bagaimana aku menjenguk Engkau, sementara Engkau adalah Tuhan seluruh alam semesta?” Allah menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si fulan, sakit. Namun engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, engkau akan mendapati Aku ada di sisinya?” (HR Muslim).
Oleh karena itu, setiap muslim wajib memberikan perhatian, pembelaan, dan pertolongan kepada kaum muslim di Gaza dengan sekuat tenaga. Bisa dengan memberikan bantuan harta, tenaga, ataupun seruan dakwah. Termasuk senantiasa mendoakan mereka agar selalu mendapat pertolongan Allah, sekaligus mendoakan kehancuran untuk kaum Zion*s Yahudi dan negara-negara pendukungnya.
Paradigma ini sejatinya sama dengan yang ada pada jiwa dan pikiran muslim Palestina. Mereka tidak mungkin menyerahkan tanah warisan leluhur mereka kepada para perampasnya. Apalagi di sana ada kiblat pertama umat Islam, serta menjadi tempat Nabi-Nya yang mulia diisrakan ke Sidratulmuntaha. Jadi, sudah sepantasnya jika hubungan yang dibangun antara umat Islam dan entitas Zion*s itu pun adalah hubungan perang semesta dan tidak ada kata damai. Hanya bedanya, dorongannya bukan keserakahan, melainkan iman.
Sudah seharusnya para pemimpin muslim dunia tidak lagi berpura-pura apalagi menutup mata atas genosida yang terjadi di Palestina. Menghentikan agresi entitas Yahudi tidak bisa dengan bantuan uang dan obat-obatan saja, apalagi retorika serta sidang-sidang yang berisi omong kosong belaka.
Satu-satunya yang bisa menghentikan serangan entitas Yahudi adalah dengan mengerahkan pasukan tentara kaum muslim. Firman Allah Taala, “Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah: 191).
Namun, hingga kini, para pemimpin negeri muslim tidak banyak membantu untuk melenyapkan penjajahan itu. Jika ada yang mau berupaya membantu, mereka mengalami keterbatasan akibat adanya hukum-hukum internasional dan sekat-sekat nasionalisme.
Tidakkah para pemimpin muslim mau merealisasikan firman Allah Taala berikut? “Jika datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami mendatangkan kepada kalian hamba-hamba Kami yang perkasa. Lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Itulah ketetapan yang pasti terlaksana.” (QS Al-Isra’: 5).
Sungguh, Palestina butuh pergerakan dunia Islam untuk membangkitkan seluruh umat. Bantuan nyata dari pemimpin negeri-negeri muslim adalah berupa pengiriman tentara, bukan sekadar mengambil suara di sidang PBB dalam rangka membela Palestina.
Entitas Yahudi makin keterlaluan melakukan kezaliman, amoralitas, dan penindasan. Alih-alih menggubris, puluhan resolusi PBB justru mereka langgar. Barat (AS) sendiri masih berusaha menggiring opini bahwa pembela Palestina (kelompok Ham*s) sebagai teroris, sedangkan kejahatan perang yang dilakukan entitas Yahudi dianggap bentuk perlawanan. Sungguh di luar nalar.
Para pemimpin muslim pun hendaknya tidak mengandalkan lembaga-lembaga internasional yang telah nyata tidak menyolusi masalah Palestina. Mereka seharusnya memperjuangkan kembalinya tegaknya Khilafah Rasyidah yang merupakan kemuliaan dan cara untuk menyelamatkan umat manusia dari segala bentuk penjajahan.
Penuhilah seruan Allah Taala, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah.” (QS Ash-Shaf: 14).
Kepahlawanan individu tidaklah cukup untuk melenyapkan entitas penjajah, melainkan perlu adanya mobilisasi terus-menerus dari kekuatan umat—terutama tentara—untuk menolong Palestina. Kekuatan umat dan tentara muslim yang dikomandoi oleh seorang Khalifah tentu akan membuat musuh-musuh Islam takut dan bertekuk lutut.
Allah Taala telah mengingatkan kaum muslim, terutama yang memiliki kekuatan militer untuk menolong agama dan umat-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepadamu, ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS At-Taubah: 38).
Solusi tuntas pendudukan penjajah atas Palestina hanya dengan tegaknya Khilafah. Khilafahlah yang akan membebaskan Palestina dengan segenap kemampuannya karena sudah menjadi kewajibannya sebagai pelindung kaum muslim.
Umat harus berjuang bersama menegakkan Khilafah. Inilah satu-satunya harapan untuk menyelamatkan seluruh umat dari entitas penjajah di negeri-negeri muslim lainnya. Bukankah umat Islam merupakan keturunan dari para pembebas, salah satunya Shalahuddin al-Ayyubi sang Pembebas Baitulmaqdis? Wallahualam bissawab

