Penyebab Harimau Serang Warga karena Diduga Hutan Lindung Alih Fungsi

0
2255

* BKSDA Sumsel Akui Kesulitan Rekam Jejak Harimau di Lapangan

Kliksumatera.com, PAGARALAM – Sudah lebih dua pekan terakhir masyarakat Kota Pagaralam dan sekitarnya terutama para petani menjadi cemas dan was-was. Hal itu akibat bahaya serangan Harimau.

Apalagi sudah ada bukti, tak hanya ternak yang menjadi korban namun warga pun turut diserang hingga luka dan meninggal. Hal itu diduga akibat hutan lindung yang selama ini menjadi habitat Si Raja Hutan itu diganggu dan telah alih fungsi menjadi kebun atau pun ladang.

Hairul Pasmah Ketua LSM AMPUH Kota Pagaralam saat dihubungi Kliksumatera.com, Selasa (3/12/2019) mencontohkan, rusaknya ribuan hutan lindung yang dimaksud. Macam di daerah Rimba Candi, Kerinjing, Bukit Patah, Tunggul Bute, sepanjang daerah DAS Sungai Ndikat dan Lematang, Talang Kubangan, Gunung Dempo, Bukit Timur, Bukit Dingin, dan sejumlah daerah seputaran Kota Pagaralam.

Hairul Pasmah, Ketua LSM – AMPUH dan aktivis lingkungan. (foto: faisal)

”Coba kita amati dan cek berdasarkan peristiwa dan kejadian. Yang diserang harimau kebanyakan sudah berbatasan dengan Hutan Rintis atau Hutan Milik Negara tapi faktanya sudah banyak alih fungsi. Ditambah lagi pemerintah yang berwenang gatal tangan dengan mudah memberikan izin penggunaan hutan lindung tanpa memperhatikan daerah setempat, seperti berapa luas hutan lindung dirusak akibat investor pembangunan pembangkit listrik, memang bukan wilayah Pagaralam tapi berbatasan langsung dengan Pagaralam,” jelas Hairul.

Dari catatan LSM AMPUH, lanjut Hairul, tahun 2001 terkait hutan lindung di Kota Pagaralam terdata sekitar 28.000 hektar tersebar di tiga kecamatan, sekarang tinggal 24.000 hektare saja. ”Itu pun kemungkinan, bila kita cek dengan menggunakan alat bisa saja kurang lagi. Saya berharap pemerintah daerah mendata ulang secara detil berapa lagi tinggal hutan lindung milik Pagaralam, kemudian perusakan hutan lindung yang berada di seputaran Pagaralam juga cukup parah. Lihat saja di Bukit Bantunan, Area Kawasan Hutan Lindung di Gumay, Tunggul Bute, Bangke Lahat, Pendopo dan beberapa lainnya,” paparnya lagi.

Notabennya, kata Hairul Pasmah Kota Pagaralam berada di tengah-tengah empat kabupaten sementara hutannya banyak yang rusak seperti Kabupaten Lahat, Empat Lawang, Kabupaten Manak Muara Enim Provinsi Sumsel, dan Provinsi Bengkulu.

“Saatnya sekarang tinggal semua pihak terkait untuk merumuskannya mau diapakan daerah kita ini, dibiarkan terlantar Hutan Lindung dengan serbuan Harimau dan bencana alam atau cari solusi lain dengan duduk bersama cari pemecahan bukan bagi-bagi kekuasaan, atau juga ikut air mengalir,” ujarnya.

“Kalau saya nilai alih fungsi hutan bukan terjadi oleh warga saja tapi juga yang Berkedok Investasi pembangunan industri energi listrik, yang sudah marak di Sumsel khususnya di seputar Kota Pagaralam, Lahat, dan Muara Enim,” tandasnya.

Sementara itu Kepala BKSDA Sumsel Peldi saat dihubungi media ini mengatakan, pihaknya juga kesulitan melakukan upaya konkrit selain keterbatasan personil juga termasuk sarana pendukung lain jadi harus di-back up pusat termasuk anggaran.

Untuk sementara ini, kata dia, sudah menurunkan tim untuk melakukan identifikasi keberadaan harimau untuk mengetahui apa harimau yang menyerang warga Tebat Benawa sama dengan di tempat lain.

“Kami sudah menurunkan tim saat ini untuk melakukan identifikasi untuk menelusuri bekas Tapak Kaki Harimau Sumatera tersebut, agar dapat diketahui sama atau tidak dengan kemunculan di lokasi lain,” tukasnya.

Laporan          : Faisal
Editor/Posting : Imam Ghazali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here