Kliksumatera.com, INDRALAYA- Upaya memperkuat daya saing usaha mikro berbasis pangan lokal terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital. Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP), Tahun Pendanaan 2026 yang dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Sriwijaya bersama para pengrajin kemplang di Desa Muara Baru, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir.
Kegiatan ini melibatkan 20 pengrajin kemplang yang tergabung dalam Paguyuban Pengrajin Kemplang Muara Baru. Ketua paguyuban, Ibu Sauda, turut mendukung pelaksanaan kegiatan yang diarahkan pada penguatan branding usaha melalui pengembangan konten digital bernilai bisnis, 9 Agustus 2026.
Desa Muara Baru memiliki potensi ekonomi lokal yang kuat melalui usaha pengolahan kemplang. Keberadaan Sungai Ogan di sekitar wilayah tersebut turut mendukung ketersediaan bahan baku ikan yang digunakan dalam produksi kemplang. Produk kemplang yang dihasilkan masyarakat juga telah dipasarkan ke berbagai daerah sehingga menjadi salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.
Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan dalam aspek branding. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan mitra, sekitar 90 persen pengrajin telah memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk. Persoalannya, pemanfaatan media sosial tersebut belum sepenuhnya diarahkan sebagai strategi membangun merek. Konten masih cenderung dibuat secara spontan, belum konsisten, dan belum dirancang berdasarkan tujuan bisnis tertentu. Kondisi ini menyebabkan konten digital belum optimal dalam membentuk citra merek, membangun kepercayaan konsumen, maupun mendorong interaksi dan minat beli secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan yang mengusung judul “Penguatan Branding Pengrajin Kemplang melalui Pendampingan Pengembangan Konten Digital Bernilai Bisnis di Desa Muara Baru Kabupaten Ogan Ilir.” Program ini tidak hanya mengajarkan penggunaan aplikasi digital, tetapi juga membantu pengrajin memahami bagaimana konten dapat digunakan sebagai aset usaha untuk membangun identitas dan citra merk.
Ketua tim pelaksana, Muhammad Akbar Budiman, S.Pd., M.Si. dari Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Sriwijaya, menjelaskan bahwa penguatan branding menjadi penting karena produk lokal tidak cukup hanya memiliki kualitas produk, tetapi juga perlu memiliki cara komunikasi yang mampu membuat konsumen mengenali dan mengingat produknya.
“Media sosial sebenarnya sudah digunakan oleh sebagian besar pengrajin. Tantangannya adalah bagaimana media tersebut dimanfaatkan secara lebih terencana, sehingga setiap konten tidak hanya berfungsi sebagai unggahan produk, tetapi juga mampu menyampaikan identitas dan keunggulan usaha,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan dilakukan melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, serta pendampingan dan evaluasi. Pada tahap pelatihan, pengrajin diperkenalkan pada konsep branding, identitas merek, penyusunan pesan merek, serta pengembangan konten digital yang mengangkat keunggulan bahan baku, proses produksi, dan nilai lokal kemplang Muara Baru.
Pengrajin juga diperkenalkan pada Lembar Kerja Pengembangan Konten Digital Bernilai Bisnis yang digunakan sebagai panduan untuk merencanakan konten secara sistematis. Melalui lembar kerja tersebut, pengrajin diarahkan untuk menentukan identitas merek, tujuan bisnis, pesan utama, target konsumen, hingga konsep konten yang akan dikembangkan.
Dari sisi teknologi, kegiatan memanfaatkan Canva untuk pengembangan konten visual statis dan CapCut untuk produksi video pendek. Kedua aplikasi tersebut dipilih agar pengrajin dapat mengembangkan konten secara mandiri menggunakan perangkat digital yang telah mereka miliki.
Selain keterampilan teknis, pengrajin juga didampingi dalam menyusun narasi merek yang dapat menjadi dasar storytelling dalam konten digital. Narasi tersebut dikembangkan dengan mengangkat potensi ikan sungai, keterampilan pengolahan kemplang, serta identitas Muara Baru sebagai bagian dari kekuatan produk lokal.
Tim pelaksana yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Muhammad Akbar Budiman, S.Pd., M.Si. sebagai ketua, serta Hamira, S.E., M.Si. dari Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan Beny Dwi Saputra, M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Sriwijaya sebagai anggota. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Ayu Permata Sari dan Kavita Siska Kishore Rumapea sebagai bagian dari tim pelaksana.
Hasil evaluasi awal menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pengrajin mengenai branding berbasis konten digital. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa materi yang diberikan dapat membantu pengrajin memahami peran branding dan konten digital dalam mendukung pengembangan usaha.
Meskipun demikian, program masih akan dilanjutkan pada tahap berikutnya. Pengrajin akan didampingi untuk memproduksi dan mempublikasikan konten digital secara konsisten melalui media sosial, kemudian dilakukan monitoring terhadap kualitas konten, konsistensi unggahan, serta respons dan interaksi konsumen.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, penguatan branding diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membuat desain atau video, tetapi berkembang menjadi kebiasaan pengelolaan konten yang terencana dan berorientasi pada tujuan bisnis. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan teknologi digital secara bersamaan, pengrajin kemplang Muara Baru diharapkan semakin mampu memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas sekaligus menjaga keberlanjutan usaha berbasis potensi lokal.
Kegiatan ini berjalan dengan sukses melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP), Tahun Pendanaan 2026, yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Sumber : Ril
Posting : Imam Gazali

