Oleh : Nailah
Jedar-jeder suara gemuruh di langit hitam membuat nuansa Ramadhan sedikit lebih semarak di tengah pandemi yang masih melanda. Anak–anak tetangga yang iseng membunyikan mercon bersuara riuh bahagia kala mendengar merconnya berhasil meledak dengan nyaringnya dan membentuk bulatan cahaya terang di angkasa raya meski keberhasilan mereka itu disambut omelan para ibu dan nenek yang ada di lingkungan kami yang tak dihiraukan mereka. Jedar-jeder inipun terjadi tak hanya di sini tapi juga di sana, di belahan bumi yang lain dengan jarak radius kurang lebih 8.336 km atau 5.002 Mil (https://id.utc.city/1151509-3674975).
Gemuruh ledakan membahana di angkasa dengan kilatan cahaya terang di malam kelam seperti kunang-kunang yang menari dengan lincahnya yang disambut dengan teriakan takbir yang menggema membelah kesenyapan. Itulah mercon yang dilontarkan oleh Brigade Al-Hamas yang jumlahnya ratusan yang diarahkan ke Iron Dome yang jadi benteng perlindungan Israrel dalam mempertahankan Tel Aviv. Roket – roket itu dilontarkan tidak untuk merusak ataupun menghancurkan tapi untuk merusak sistem pertahanan Iron Dome sehingga overload. Serangan Hamas ini dianggap lelucon oleh Israel sehingga mereka menertawakan upaya Hamas menggempur mereka, tapi itu tak berlangsung lama karena seringai mereka berubah menjadi tangis dan pekik histeris yang menakutkan seantero Tel Aviv ketika mereka menyadari bahwa telah jatuh roket-roket skala besar tepat di jantung Kota Tel Aviv yang mengakibatkan beberapa orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka serta melumpuhnya seluruh aktivitas di kota tersebut. Hancur sudah Iron Dome yang mereka beli dengan harga yang fantastis dari Amerika yang mereka banggakan selama ini.
Teriakan jihad para pemuda yang mempertahankan Gaza dan Al-Aqso jelas terdengar di tengah teriakan dzikir anak-anak dan wanita akibat serangan Israel yang membabi buta dan tak berhati itu. Darah menggenang di setiap sudut kota, syuhada berguguran, reruntuhan bangunan berserak dimana-mana. Hal itu tak membuat para pemuda itu surut langkah dan ciut nyali dalam mempertahankan tanah yang diberkati ini. Mati satu tumbuh seribu. Kondisi seperti ini selalu terjadi di bulan Ramadhan yang seyogyanya dijalani dengan kekhusyukan yang syahdu pada Sang Pencipta. Justru Israel meningkatkan serangannya pada Palestina di bulan Ramadhan setiap tahunnya seakan melampiaskan kemarahan yang amat sangat dan sangat berharap mereka menang dengan menghancurleburkan dan merebut secara utuh tanah Palestina tersebut. Walau sudah berpuluh-puluh Ramadhan mereka menyerang tapi sampai hari ini kemenangan itu belum mereka dapatkan, malah posisi mereka saat ini dalam kehancuran yang besar yang tak mereka sangka-sangka sebelumnya.
Ramadhan adalah bulan yang paling menggoreskan luka terdalam bagi Israel yang dicatat dalam sejarah yang tak pernah mereka lupakan dimana pasukan tentara Mesir yang dipimpin oleh Presiden Anwar Sadat berhasil menembus Garis Bar Lev dalam waktu kurang dari dua jam setelah melancarkan serangan kejutan dan disusul mundurnya pasukan Israel karena saat itu Israel baru merayakan hari besar keagamaan Yahudi yang dikenal dengan Yom Kippur, sehingga juga membuat militer Israel secara keseluruhan sedang tidak siaga.
Keberhasilan pasukan Mesir menjebol benteng pasir Bar Lev Line disusul dibangunnya sejumlah jembatan ponton dengan cepat memudahkan tank-tank dan ranpur angkut personel Mesir melaju di Dataran Tinggi Golan sejauh 25 km untuk menuju Israel. Pasukan tank dan darat Israel berusaha mencegah gerak maju pasukan tank dan darat Mesir tapi dengan cepat pasukan Israel terpukul mundur dan memilih lari kocar-kacir menuju wilayah Israel.
Peristiwa ini terjadi pada 10 Ramadan 1393 atau 6 Oktober 1973 yang mereka, para petinggi Israel, seperti PM Golda Meir, merasa yakin jika Mesir tidak akan menyerang Israel menjelang bulan Ramadan (puasa) dan juga karena Mesir mengalami kekalahan perang melawan Israel pada Perang Enam Hari (1967) dan mengalami kerugian paling besar dibandingkan Suriah dan Yordania. Pasalnya akibat serangan udara dadakan Israel, Mesir telah kehilangan 2/3 jet-jet tempurnya. Namun, ternyata mereka salah besar karena pasukan Mesir tiba-tiba menyerbu Israel secara besar-besaran sebagai serangan balasan atas kekalahannya pada perang Enam Hari. Dan Kapal-kapal Mesir pengangkut alat penyemprot air bertekanan tinggi bahkan dengan mudah menjebol benteng Bar Lev Line, disusul mundurnya pasukan Israel yang hanya bisa melawan sebisanya.
Adapun tujuan Mesir yang secara dadakan ingin menyerang Israel adalah untuk kembali menguasai Terusan Suez dan menguasai sebagian timur Dataran Tinggi Golan yang pada tahun 1967 berhasil dikuasai Israel. Militer Israel sendiri untuk mencegah Mesir melakukan serangan dengan cara menyeberangi Terusan Suez telah membuat benteng alam setinggi 25 meter sepanjang tepian Terusan Suez yang dinamai benteng Bar Lev Line. Israel merasa yakin jika benteng Bar Lev Line yang terbuat dari campuran pasir dan lumpur yang telah dipadatkan akan sulit ditembus oleh pasukan Mesir. Tapi perkiraan Israel itu ternyata keliru. Militer Mesir diam-diam ternyata sudah bisa sudah mengetahui kelemahan pertahanan benteng Bar Lev Line. Yakni dengan cara menyemprotkan air menggunakan peralatan khusus bertekanan besar berupa alat penyemprot air dari Jerman yang bertekanan sangat tinggi sehingga bisa dengan mudah menjebol benteng Bar Lev Line. Untuk serangan ini, Mesir telah menyiapkan 35.000 pasukan dan persenjataan seperti tank, jembatan ponton, dan ranpur lainnya mulai pertengahan tahun 1973. Serangan ini juga disebut pertempuran Operation Badr yang berlangsung sekitar 8 hari, akhirnya pasukan Mesir berhasil dipukul mundur oleh serangan balik Israel, perang singkat itu bisa membuktikan bahwa jika Israel diserang mendadak dalam waktu yang tepat ternyata bisa dikalahkan dan kocar-kacir. (https://nationalgeographic.grid.id/read/131718107/kisah-masa-lalu-awal-ramadan-1973-mesir-berikan-israel-kado-pahit?page=all )
Kekalahan ini membuat Israel pun memiliki keinginan yang sama yaitu melumpuhkan dan merebut Palestina di bulan Ramadhan sebagai wujud kemenangan yang gemilang atas puluhan tahun perang yang terjadi di jalur Gaza dan sebagai pembaalasan telak dendam lama yang begitu merasuki jiwa mereka. Tapi dengan kondisi lumpuhnya Tel Aviv saat ini, mereka harus berpikir keras dan berjuang mati-matian untuk mewujudkan impian mereka tersebut dan tentunya para mujahid dan mujahidah di tanah yang diberkati dengan iringan doa seluruh umat Islam dan support seluruh umat atas nama kemanusiaan tidak akan membiarkan impian mereka itu tercapai. Bahkan impian itu akan menjadi mimpi buruk yang seburuk-buruknya bagi Israel dengan kemenangan di pihak kaum muslimin. Takbir!

