Oleh : Amy Sarahza
Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa saat ini terdapat kurang lebih 4,76 juta santri di 34.652 pesantren yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Dari jumlah tersebut, diketahui sekitar 44,2% di antaranya memiliki potensi ekonomi, mulai dari potensi pengembangan koperasi UMKM dan ekonomi syariah, agribisnis, peternakan, perkebunan maupun juga vokasional. Dengan melimpahnya sumber daya tersebut, maka peran santri sebagai komponen utama dari civitas pesantren sangat dibutuhkan pada berbagai upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19.
Pada webinar yang mengusung tema “Peran Positif Santri dalam Meningkatkan UMKM dan Koperasi selama Pandemi” Wapres mengungkapkan pemerintah saat ini telah memberikan perhatian yang besar terhadap pengembangan pesantren di tanah air, diantaranya adalah penetapan Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, penerbitan UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, dan bahkan saat ini telah diterbitkan Perpres No. 82/2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren.
Selain itu, Wapres mengatakan Kementerian agama juga telah menyusun Kebijakan Kemandirian Pesantren serta telah menetapkan roadmap atau Peta Jalan Kemandirian Pesantren 2021 – 2024 yang memberikan arah dan panduan dalam pengembangan kemandirian pesantren.
Di sisi lain, Wapres mengungkapkan Kementerian dan Lembaga lain pun memberikan perhatian besar terhadap pengembangan Pesantren.
KNEKS bersama dengan Bank Indonesia dan K/L terkait saat ini tengah melakukan berbagai upaya peningkatan kapasitas pelaku usaha syariah dengan penguatan ekosistem Halal Value Chain. Otoritas Jasa Keuangan juga melakukan pengembangan Bank Wakaf Mikro di Pesantren.
Bahkan, lanjut Wapres, sejumlah Pemerintah Daerah juga telah mencanangkan Program One Pesantren One Product (OPOP) sebagai program unggulan, antara lain Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat.
Oleh karena itu, Wapres menekankan agar hal tersebut harus dimanfaatkan demi mengembangkan produktivitas para santri, (dikutip setneg.co.id 27 Oktober 2022).
Penetapan hari santri nasional adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap seruan jihad melawan penjajah. Namun sungguh ironis saat ini, peringatan hari santri justru bertentangan dengan karakter santri yang jadi sebab penetapan hari santri. Santri dinilai berpotensi sebagi pengerak ekonomi?? Apakah santri layak berkontribusi di sektor ini?
Santri Kehilangan Arah
Miris memang saat mendengar narasi bahwa para santri seharus nya jadi pengerak ekonomi pasca pandemi, Lihat saja bagaimana para santri diarahkan pada pengembangan & percepatan ekonomi syariah. Sementara pada saat yang sama dibiarkan diam pada kondisi negeri yang masih terjajah. Harus disadari bahwa kolonialisme gaya baru / penjajahan gaya baru tengah mencengkram negeri ini dengan sangat kuat. Padahal diharapkan dari kalangan santri ini lah nanti nya bakal terlahir ulama besar yang bisa mengamalkan islam secara kaffah, yang bisa melepaskan bahkan mengusir para penjajah berlebel kapitalisme sekuler yang makin merajalela di negeri ini. Bagaimana santri bisa memahami masalah umat, kalau santri malah dibelokkan ke jalur yang salah. Dipundak para santri lah nantinya diharapkan berkobar semangat dakwah & jihad untuk kemuliaan Islam.
Negara Membajak Potensi Santri
Pasalnya berbagai jenis undang- undang & kebijakan yang dikeluarkan penguasa hanya menguntungkan pemilik modal ( kapitalis) & menyengsarakan rakyat terutama umat Islam, Inilah output penerapan sistem kapitalisme sekuler. Olehkarena itu seharusnya agenda utama para santri hari ini adalah mengusir penjajah dari negeri kaum muslimin ini dengan semangat jihad. Negaralah yang seharusnya mendorong para santri jadi pelaku perubahan di tengah penjajahan yang masih bercokol. Namun, alih- alih mengarahkan potensi para santri pada kebangkitan Islam, malah justru negaralah yang membajak potensi mereka demi kepentingan ekonomi yang hanya akan menguntungkan para pemilik modal & penguasa.
Stigma Negatif Terhadap Santri
Parahnya lagi negara tampak membiarkan maraknya prilaku amoral yang menimpa generasi termasuk para santri. Seperti september lalu viral kekerasan di lingkungan pesanteren gontor, yang berujung hilang nya nyawa salah seorang santri. Dari satu berita mulai bermunculan kasus kasus kekerasan lain yg terjadi di pesantren pesantren di berbagai penjuru negeri. Tak hayal berbagai pemberitaan yang terblowup dimedia membuat stigma negatif terkhusus untuk santri.
Arus Moderasi Menyerang Santri
Proyek moderasi Islam banyak mengadopsi nilai- nilai barat yang makin hari makin masif diaruskan ke pesantren- pesantren melalui kurikulum moderasi beragama. Bagaimana mungkin santri akan memberi kontribusi positif terhadap kebangkitan umat & peradapan yang mulia. Jika santri justru dikebiri dalam mengamalkan Islam.
Para santri sejatinya adalah kaum muda harapan negeri, karena santri adalah orang yang mendalami agama Islam, orang yang beribadah sungguh- sungguh & shalih. Artinya jika peran strategis santri dikembalikan ke tujuan awal, sungguh besar potensi santri untuk membangkitkan umat. Pada diri mereka ada potensi pemikiran cemerlang, SDM unggul & kuat, serta semangat membara untuk berdakwah & berjihad.
Ini semua akan muncul hanya jika para santri terbina dengan benar dengan pemikiran Islam Kaffah yang cemerlang. Santri sebagai calon ulama akhir zaman harus mendapatkan perhatian & pencerahan agar paham terhadap masalah umat. Harapannya dari kalangan santri & ulama akan lahir gelombang perubahan untuk menentang segala bentuk penjajahan sistem kapitalisme sekuler berdasarkan tuntunan Islam Kaffah. Namun, semua ini hanya akan terwujud manakala santri dibina dengan ideologi Islam. Ideologi Islam tegak diatas aqidah yang lurus, yang darinya lahir sistem hidup yang benar serta sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. Ideologi Islam mampu jadi tuntunan sekaligus kaidah berfikir yang bisa menggerakkan umat maju & membangun sebuah peradaban cemerlang di masa depan.
Di sinilah seharusnya para santri diarahkan untuk mewujudkan para pemuda yang siap memperjuangkan Islam sebagai ideologi semata- mata dengan kesadaran iman. Pemudi seperti ini akan sangat mudah dicetak di sistem pendidikan khilafah, meski demikian mereka harus ada di tiap zaman termasuk dizaman ketidakadan khilafah seperti sekarang. Disistem rusak hari ini pemuda berideologi islam hanya mampu dicetak oleh kelompok dakwah yang berasaskan ideologi islam, kelompok yang mengharuskan perjuangan membangkitkan kehidupan islam melalui berbagai gerakan penyadaran yang dikemas kreatif & diiringi dengan kesadaran ideologi yang shahih. Sebagaimana kelompok dakwah Rasulullah SAW yang di bentuk diMekkah, kelompok ini berhasil beliau bina dengan ideologi islam & mencetak pemuda – pemuda yang imannya kuat amalnya tinggi & siap berjuang demi kemuliaan Islam. Mereka terlibat penuh dalam dakwah Islam demi tegaknya syariat Islam dibawah institusi Daulah Islamiyah. Merekalah para sahabat Rasullullah SAW yang harusnya diteladani oleh para santri zaman ini. Waullahualam Bisawab.

