Oleh : Ummu Hanif
Jagad raya sedang dihebohkan oleh sosok pesulap merah yang telah memberanikan diri membongkar praktik dukun yang berkedok agama. Perseteruannya dengan seorang Gus pun ramai hingga kini. Sampai-sampai ada seorang dukun yang meminta kekuatan gaib untuk melawan si pesulap merah tersebut. Aksi sang dukun pun viral di media sosial karena terkait sertifikat/ijazah yang dimiliki. Tak ayal, peristiwa tersebut menimbulkan beragam komentar.
Hari gini masih percaya dukun? Wah, kayaknya akidahnya harus dipertanyakan ini. Bagi yang sudah ngaji pasti paham banget kan ya, bahwa percaya sama dukun berarti sama saja menduakan Allah. Sedangkan Allah hanya satu, tiada yang lain. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Allah bersifat azali, tidak berawal dan tidak berakhir.
Syirik termasuk salah satu dosa besar. Islam sangat jelas mengharamkan perbuatan syirik dan melarang siapa saja untuk mempercayainya. Mendatangi dukun dengan keyakinan mendapatkan sesuatu yang sesuai keinginan, bahwa semua itu berasal dari setan, maka sudah pasti tidak akan diterima amalan shalatnya selama empat puluh hari. Shalatnya itu hanya dihitung sebagai penggugur kewajiban, akan tetapi tidak akan ada nilai pahalanya. Sebagaimana hadits Nabi SAW, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima”. (HR. Muslim no. 2230)
Selain itu, siapa saja yang mendatangi dukun berarti telah kufur terhadap apa yang diturunkan pada Muhammad SAW. “Barang siapa yng mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka berarti telah kufur pada Al-Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad. (HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadist ini hasan).
Masih banyaknya para dukun di tanah air sepertinya tidak menarik perhatian pemerintah dalam memberantasnya. Pasalnya, negara yang berasaskan paham sekulerisme malah membiarkan para dukun berbuat sesuai apa yang mereka inginkan selama tidak merugikan negara. Pemerintah lepas tanggungjawab dalam menjaga akidah rakyatnya. Disini bisa dilihat bahwa kebodohan telah mendominasi umat, hingga umat tidak lagi mampu membedakan mana kesyirikan dan mana kebaikan.
Syirik seakan dianggap sebagai hal yang wajar. Bersedekah ke lautan, mendatangi dukun, membanggakan sistem yang berasal bukan dari Allah dianggap sebagai suatu kebaikan bagi pemeliharanya. Minimnya pemahaman agama telah membuat kesyirikan mudah diterima. Karena itu sebenarnya sangat dibutuhkan peran pemerintah dalam upaya menindak dukun dan praktik syirik yang menimbulkan keresahan. Membiarkannya malah akan menjadi malapetaka di tengah umat Islam.
Beginilah jika kita hidup di zaman kehidupan liberal. Apa saja dihalalkan demi melakukan sesuatu untuk mengikuti hawa nafsunya, termasuk dalam perdukunan yang menggunakan tenaga jin dalam setiap aktivitasnya. Padahal perbuatan itu sangat diharamkan, termasuk syirik dan pelakunya pun bisa disebut musyrik.
Di dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar”. (Q.S. An-Nisa:48)
Akibat tidak ditanamkannya akidah secara kokoh sejak kecil, maka umat sangat mudah terhasut untuk melakukan perbuatan syirik. Untuk mencegah terjadinya kesyirikan, Islam memiliki solusi dalam menjaga akidah umat, yaitu :
1. Setiap muslim harus selalu memupuk akidahnya agar terjauh dari perbuatan syirik
2. Menyibukkan diri dengan melakukan aktivitas yang memperkuat iman dan akidahnya
3. Menegakkan Islam Kaffah sejak dini pada anak dalam sebuah kelurga
4. Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar oleh masyarakat
5. Negara sebagai pelindung wajib memberikan pendidikan Islam secara menyeluruh. Jika ditemukan masyarakat yang melakukan perbuatan kesyirikan, akan ditindak tegas, bukan malah dibiarkan seperti sekarang.
Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjauhkan kita dari perbuatan syirik. Naudzubillah….
Wallahu a’lam

