Oleh: Saparini, Nely Andriani, Supardi, dan Iful Amri (S1 Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sriwijaya)
INDRALAYA- Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sriwijaya melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di SMP Negeri 1 Indralaya. Kegiatan ini mengusung tema yang mungkin terdengar serius, yaitu “Implementasi Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan STEM-Coding untuk Meningkatkan Keterampilan Literasi Digital.”
Meski demikian, suasana kegiatan jauh dari kata kaku. Antusiasme dan keceriaan tampak dari para siswa kelas VII hingga IX yang berpartisipasi aktif dalam setiap sesi. Melalui pendekatan STEM-Coding, pembelajaran IPA dikemas secara kreatif dengan menggabungkan unsur sains, teknologi, rekayasa, dan pemrograman sederhana.
Para siswa tidak hanya mendengarkan teori tentang kelistrikan, tetapi juga langsung mempraktikkan konsep-konsep tersebut dalam bentuk simulasi menggunakan kode yang mereka buat sendiri. Misalnya, mereka memprogram bagaimana lampu dapat menyala ketika saklar diaktifkan, bagaimana arus mengalir melalui resistor, atau bagaimana perubahan nilai tegangan memengaruhi nyala lampu dalam rangkaian sederhana, 15 Oktober 2025.
Yang menarik, banyak siswa yang awalnya merasa “tidak bisa ngoding” justru menjadi peserta paling bersemangat. Mereka berdiskusi, mencoba, dan berulang kali memperbaiki kode hingga berhasil dijalankan. Hal ini menunjukkan bahwa ketika anak-anak diberi kesempatan dan metode pembelajaran yang tepat, mereka mampu beradaptasi dan bersaing di era digital.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian ingin menegaskan bahwa literasi digital tidak harus rumit. Tidak cukup hanya memakai gadget; yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak dapat menghasilkan sesuatu dengan teknologi. Pendekatan STEM-Coding menjadi salah satu cara menyenangkan untuk mengasah kemampuan berpikir logis, kreatif, dan produktif sejak dini.
Ketua tim pengabdian, Saparini, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata dunia kampus dalam mendukung peningkatan kompetensi abad ke-21 di tingkat sekolah menengah. “Kami percaya, jika anak-anak diberi kesempatan dan bimbingan yang tepat, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya melek digital, tetapi juga produktif dan inovatif,” ujar Saparini
Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak sekolah di wilayah sekitar. Sebab, membangun generasi melek digital bukan hanya tugas satu sekolah saja, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara lembaga pendidikan, dosen, mahasiswa, dan masyarakat.
Dari SMP Negeri 1 Indralaya, semangat itu mulai tampak—lahir dari para siswa yang berani mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Dari mereka, masa depan pembelajaran sains berbasis teknologi mulai tumbuh dan memberi harapan baru bagi pendidikan di era digital.
Sumber : Ril
Posting : Imam Gazali

