Oleh: Sri Pertiwi
Musibah itu datang silih berganti. Banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, hingga kecelakaan pesawat terbang yang menelan korban banyak sekali. Begitu pula korban harta benda.
Fenomena ini selalu menimbulkan duka yang mendalam menimpa negeri ini. Memang semua ini adalah kehendak dan ketentuan Allah SWT. Manusia tak kuasa untuk menghalang-halanginya. Namun peristiwa-peristiwa tersebut membuat kita bertanya- tanya. Apakah ini merupakan ujian dari Allah atau merupakan peringatan agar manusia menyadari bahwa fenomena ini adalah merupakan “sunnatullah “.
Bukan tidak mungkin musibah yang datang silih berganti ini merupakan azab dari Allah SWT. Karena secara jujur kita akui, begitu banyak ketentuan-ketentuan Allah yang dilanggar oleh manusia-manusia itu sendiri.
Kalau hal ini merupakan azab, maka sudah seharusnya kita untuk bertobat. Apalagi saat ini kita masih dalam suasana tahun baru dan bulan-bulan Islam yang penuh ampunan, yang bisa menjadikan momentum untuk “berhijrah”. Yakni berhijrah dari hal- hal yang tidak baik selama ini kepada hal-hal yang lebih baik.
Selama ini jika kita cermati, terlalu banyak ketentuan Allah yang kita langgar. Perbuatan maksiat terjadi di mana-mana. Tindak kriminal setiap hari menghiasi isi surat kabar. Korupsi masih meraja-lela meski Operasi Tangkap Tangan (OTT) berulang-ulang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dari data yang ada di KPK, sudah lebih kurang 126 orang kepala daerah yang korupsi.
Data ICW, ada 29 kepala daerah korupsi di tangkap KPK sepanjang tahun 2018 lalu. Kekuasaan dinilai jadi cela kepala daerah untuk melakukan korupsi.
Mereka seakan tidak takut di penjara. Bahkan banyak di antara mereka belajar di penjara agar menjadi penjahat yang lebih hebat. Kondisi seperti itu tidak akan terjadi kalau kita menerapkan syariah dan sistem Islam kaffah. Sanksi Islam terhadap mereka sangat keras karena tindakan tersebut adalah sebuah keharaman. Orang yang mencuri itu, baik Muslim maupun non-Muslim akan di kenai sanksi potong tangan.
Allah SWT berfirman:
والسارق والسارقة فاقطعوا أيديهما جزاءبما كسبا نكالا من الله والله عزيز حكيم
Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah SWT. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS al-Maidah (5): 38 ).
Kejahatan lain seperti narkoba, prostitusi, LGBT, dan sebagainya masih meraja-lea. Apa lagi yang namanya kejahatan narkoba, berupa pengedar, pemakai, serta bandar ditangkap itu pun dilakukan semua kalangan malah dilakukan oleh pejabat anti narkoba itu sendiri.
Prostitusi juga semakin marak. Bahkan telah berkembang menjadi bisnis seks melalui media “online”. Begitu pula kejahatan-kejahatan seperti perampok, kekerasan bahkan pembunuhan semakin meresahkan masyarakat.
Maka dari itu Islam sangat peduli dengan nasib umat ini. Namun Islam mewajibkan kaumnya untuk belajar, menutut ilmu, berpikir, dan berijtihad . Semuanya ini bisa meningkatkan kemampuan intelektual manusia. Islam juga memuji para ulama karena ilmu dan sikapnya.
Allah SWT berfirman :
يرفع الله الذيم امنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات
Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat (QS al-Mujadalah (58):11).
Dengan begitu harta akan terjaga dan tak ada seorang pun yang berani mengambil harta orang lain yang bukan haknya. Semua ini membuktikan dengan jelas, bahwa Islam telah menjaga agama, akal, jiwa, dan harta benda manusia dengan sangat sempurna. Bahkan kehidupan masyarakat pun menjadi tenang, tenteram bahagia serta di jauhkan sejauh-jauhnya dari hal-hal yang bisa merusak ketenteraman dan kebahagiaan umatnya.
Itulah kerahmatan negara yang menerapkan hukum syariah atau menerapkan Islam kaffah. Di sinilah negara harus berperan untuk mengurusi umatnya dalam urusan agama, jiwa hingga harta benda. Semuanya ini yang bisa mengatasinya problematika umat hanya ada di dalam negara Khilafah.
Bisa dibayangkan, apa jadinya negri yang kita cintai ini yang bersih dari orang-orang yang rusak akalnya itulah kerahmatan yang luar biasa. Timbul pertanyaan, apakah karena perbuatan- perbuatan yang melanggar aturan- aturan Allah itu telah membuat Allah murka atau marah? Wallahu a’lam. Tentu semua ini kita berharap, musibah-musibah yang tidak merupakan azab, tetapi adalah cobaan serta ujian keimanan kita semua.
Semoga musibah-musibah itu akan menyadarkan kita, bahwa semua yang terjadi adalah ketentuan Allah SWT. Sebagai hambah Allah kita harus tawakkal, menerima ketentuan Allah SWT. Tinggal kita harus merenung apaka kita mampu bersabar menerima cobaan atau ujian itu apa tidak. Musibah-musibah itu adalah “sunnatullah”. Tak mampu manusia menghalaginya.
Wallahubissawab….

